Selasa, 18 November 2008

KETIKA RODA TIMBA RUSAK DI ATAS SUMUR



Ya, ingatlah akan Penciptamu selagi engkau muda, sebelum rantai perak (kehidupan) putus, dan mangkuk emas pecah, dan tempayan hancur pada mata air, dan roda timba rusak di atas sumur; (FAYH. Pkh. 12:6)

Ayat Alkitab ini langsung muncul di pikiran saya hari ini. Semalam saat saya siap-siap tidur, saya mendapat SMS dari seorang teman bahwa anak dari Pak Radja seorang teman sekaligus orangtua kami meninggal.Seakan tidak percaya, saya mencoba menghubungi beberapa orang teman pengajar dan menanyakan informasi yang sebenarnya. Sebagian mereka tidak tahu. Tetapi kepastian datang dari salah seorang senior yang menyebutkan betul, Cici (nama anak yang meninggal) telah berpulang karena diduga jantungan karena mennyaksikan tawuran di kampus Undana Kupang.

Cici, lengkapnya Cicilia adalah tipe anak periang. Itu sepintas yang saya ketahui. Baru saja beberapa bulan lalu kami bertamu ke rumah pak Radja dan sambil menyaksikan sinetron Indonesia di salah satu statiun TV swasta ia banyak berkomentar. Tapi disela-sela itu ia mempersilakan kami makan dan dengan rendah hati mengambilkan tissue untuk kami dan menyalakan kipas angin di tengah suhu udara kupang yang sangat panas waktu itu. Cici yang periang itu siang itu, ketika kami melayat terbaring kaku dengan pakaian putih panjang membalut jasadnya. Dia tidak bernyawa lagi. Setelah memberi salam pada ibunya yang kelihatan lemas di samping jasad ini, kami duduk. Pak Radja, ayah Cici tidak ada di tempat. Dia sedang mengurus peti untuk jasad Cici. Setelah kami menyalami ibunya, kami duduk di ruang dalam rumah keluarga itu. Sementara suara ibunya masih terus terdengar meriwayatkan tentang anaknya dalam tangisannya. Sesekali saya sengaja melihat ke plafon rumah hanya sekedar menahan air mata saya membayangkan tentang kesedihan yang dalam dari ibu Erika (mama Cici). Mata saya juga mengarah ke sudut ruangan di dekat bagian kepala, kakak lelaki Cici duduk dan memandang dalam-dalam wajah adiknya yang terbaring kaku. Pikiranku langsung tertuju kepada kedua adikku Elfi dan Erni yang kuliah jauh di Jogja. Adik-adik yang karena mereka aku berjuang untuk bisa mendapatkan sepeser untuk mengirimkan kepada mereka uang makan, sekalipun sering kurang. Oh.. Tuhan, kesedihan saya semakin mendalam karena membayangkan betapa dalamnya kesedihan seorang saudara laki terhadap adiknya. Dalam hatiku aku berpikir, "semoga keluarga duka dikuatkan."

Lamunan saya dikagetkan dengan tangisan yang bertambah karena beberapa pendeta masuk. Pendeta Tera Klaping dan Pendeta Hede serta istrinya memberi salam kepada keluarga duka. Setelah berjabatan tangan dengan keluarga duka, pandangan mata pak pendeta mengarah ke bagian dalam dan saya menganggu memberi salam dan teguran dengan isyarat kepada Pak Pendeta Klaping. Beberapa saat kami keluar dan duduk di halaman di tenda duka. Kami berkumpul dengan beberapa teman pengajar dan pendeta dan bercerita saat papa almarhum datang dan menyalami kami. Setelah itu kami masih duduk beberapa menit.
Beberapa orang melayat, tampak rombongan profesor dari Undana dipimpin Pembantu Rektor datang melayat. Teman-teman saya S2 juga berdatangan. Kami kemudian bercerita tentang nasib kuliah kami yang sampai sekarang belum juga rampung. Padahal proposal thesis kami sudah dimasukkan. Beberapa saat kemudian, mobil yang menjemput kami datang dan sayapun pulang dengan mahasiswa ke kampus sederhana kami di Fatufeto.

Dalam perjalanan pulang, beberapa mahasiswa ramai di belakang dengan obrolan mereka. Tetapi pikiran saya melayang kepada apa kata pengkhotbah. Kata-kata yang menarik bagi saya adalah "roda timba rusak di atas sumur." Saya kemudian tersentak dan memikirkan lagi tentang hidup. Ya. Sebelum roda timba rusak di atas sumur, saya harus berjuang. Berjuang demi hidup. Berjuang demi masa depan. Berjuang demi adik-adik saya. Berjuang sampai waktunya tiba.

Hari ini, kata-kata pengkhotbah betul-betul saya rasakan maknanya. Trimakasih Tuhan untuk kebenaran-Mu yang menjiwai saya hari ini. [MT]

Sabtu, 15 November 2008

PETUALANGAN BERBAHASA



Kegemaran saya mendalami bahasa sudah sejak SD dulu. Entah kenapa dulu zaman saya sekolah SD ada lomba bidang studi, dan saya selalu dipercaya mengikuti lomba itu dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Saya sendiri memang dilahirakan di desa yang pengenalan bahasa Indonesianya minim. Namun sejak kecil, orangtua saya yang berbahasa ibu Dawan, selalu membiasakan kami untuk berbahasa indonesia, tentu saja dalam versi Timor. Selain lomba bidang studi itu, saya juga sering mendapatkan nilai yang lumayan selama SD-SMA untuk mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Saat kuliah, theologi adalah pilihan saya. Tetselama kuliah, saya baru tahu kalau pelajaran Bahasa Ibrani dan Bahasa Yunani juga diajarkan.

Pindah dari Kupang ke Lembang Bandung juga menjadi tantangan tersewbdiri bagi saya. Selain harus menyesuaikan bahasa Indonesia Versi Kupang saya dengan bahas Indonesia teman yang lain, saya juga harus mulai memikirkan tentang bagaimana memahami bahasa lokal yaitu bahasa Sunda di Cikidang Lembang Bandung. Di kalangan teman-teman saya dari Timor, tersebar isu bahwa saya memiliki kemampuan bahasa Sunda yang cukup baik. Padahal saya sendiri tidak merasa demikian. Saya hanya merasa bahwa saya sanggup menjawab orang yang berbicara bahasa Sunda. Itu saja.

Dari Sunda menuju Jogja juga membuat kegoncangan tersendiri darisegi bahasa. Bahasa Jawa harus saya dalami. Awalnya saya stress dengan teman saya satu kamar di asrama karena dia selalu berbicara bahasa Jawa dengan saya. Tetapi lam-kelamaan hal itu menantang saya untuk belajar bahasa Jawa langsung kepada orang-orang desa dan membiasakan diri hidup bersama dengan mereka dalam budaya dan kebiasaan mereka di desa.

Tahun 2005, setelah delapan tahun di Jawa saya kembali ke Kupang. Logat saya tentu saja kembali harus disesuaikan dengan orang Kupang agar saya tidak dianggap sok. Setel;ah mengabdi beberapa saat di kampus tempat saya mengajar, pimpinan kemudian mempercayakan saya untuk mengasuh matakuliah Bahasa. Awalnya saya diminta untuk mengasuh matakuliah bahasa Ibrani bagi pemula.Hari ini, adalah kelas perdana saya untuk mengajar bahasa Ibrani II. Puji Tuhan, concern saya dengan bahasa ternyata berlanjut. Semoga Tuhan memberi kekuatan kepadaku untuk mendalami dan suatu saat nanti bisa seperti temanku Ira Mangililo yang mendalami Bahasa ini hingga ke Canada dengan S3nya. Atau Misray Tunliu yang mendalami bahasa Arabnya hingga ke Timur Tengah. Atau minimal seperti Pak Jhony Yahya Sedi,Th.M di STII Jakarta. Semoga.

Dalam kemurahan Tuhan, saya juga dipercaya melayani di suku yang berbeda bahasa dengan saya. Pariti, desa tempat saya melayani ditempati oleh oran Sabu dan Orang Rote dengan bahasa yang berbeda. Memahami mereka dengan bahasa dan budayanya memberi nilai tambah tersendiri dalam petualangan berbahasa saya. Syukur.[MT]

INILAH HIDUP ANAK KOST



Sepanjang hidup saya yang total sudah berjumlah 28 tahun hingga tahun ini, saya menghabiskan waktu saya hanya beberapa tahun untuk tinggal di rumah orangtua kandung dan hidup bersama mereka. Seingat saya, hanya ada sembilan tahun saya hidup bersama mereka. Sisanya hidup bersama dengan orang lain bahkan hidup sendiri di kost atau asrama. Baru pada saat duduk di kelas satu SD-lah saya tinggal bersama papa dan mama saya. Sebelumnya tinggal bersama dengan nenek dan kakek. Sesudah tamat SMP, artinya hanya sembilan tahun saya tinggal dengan orang tua saya, saya melanjutkan pendidikan SMA di kota kabupaten. Otomatis saya berpisah dari papa dan mama dan tinggal dengan teman-teman. Bahkan pernah tinggal dengan keluarga. Setamat SMA, Saya menghabiskan kurang lebih delapan tahun untuk tinggal di Asrama, tinggal di rumah orang (jemaat) yang kami layani, atau bahkan di kost dan bahkan pernah tinggal di pastori gereja. Dalam semuanya ini, kost adalah salah satu tempat yang cukup nyaman untuk ditempati. Kenapa saya sebut nyaman, oleh karena jika di rumah orang lain atau orang tua kita harus ber-ewuh pakewuh dalam melakukan segala sesuatu termasuk makan, maka di kost, kita bisa bebas untuk bersantai, makan, belajar atau apa saja (tentu yang positif). Tetapi bahanya jika nekat melakukan hal yang negatif. Saya bersyukur, walaupun harus bersusahpayah dengan uang kost dan ocehan mama kost tapi sampai saat ini saya masih merasa nyaman tinggal di kost.

Memang saya sangat merindukan suatu saat untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Saya sering membayangkan tinggal di rumah yang sederhana yang rumah itu adalah hasil jerih payah sendiri. Walaupun sederhana. Semoga suatu saat kelak hal itu terwujud. [MT]

Jumat, 14 November 2008

UDARA KUPANG BEBAS GANGGUAN FREKUENSI RADIO



Sejak menjadi penyiar radio di Kupang, saya hampir setiap hari pasti mendengarkan radio. Ora kethang setengah jam setiap hari. Selain mendengarkan station tempat saya bekerja Suara Kupang, saya juga kadang mendengarkan station lain sekedar untuk menjadi pembanding untuk kecakapan siaran saya. Tetapi suatu sore, saat saya pulang mengajar, saya turn in di radio tempat saya bekerja. Beberapa menit kemudian, sama sekali tidak ada orang yang ber- DJ Talk ria. Sebagai penyiar, saya bertanya kepada head of Announcer tentang kekosongan itu. Beberapa menit kemudian, hp saya berdering dan itu dari kantor. Saya diberitahu bahwa radio kami di segel balai monitor. Kekagetan saya semakin menjadi karena ternyata direktur utama sedang di Jakarta. Apa alasannya? Beberapa teman melalui sms memberitahu kalau disegel karena kontrol dari Balmon (Balai Monitor) Frekuensi.

Sore itu juga saya ke studio dan saya baru tahu bahwa satu demi satu radio di kota Kupang mulai off dari udara. Termasuk radio Verbum, RRI Pro1 dan Suara Timor yang menurut saya mungkin akan bebas dari segel. Mulai dari saat itu, dalam hidup seolah ada sesuatu yang kurang. Karena selain tidak menyiar, tidak juga bisa mendengarkan radio kesenanganku dan station tempat saya bekerja. Saya baru sadar, menyiar di radio juga ternyata bermanfaat. Salahsatu manfaatnya adalah mengurangi stress karena dengan bercuap-cuap, segala sesuatu diikeluarkan dari batin dan pikiran (tentu harus dikontrol). Semoga kemelut ini segera selesai. Urusan dengan Balmon segera berakhir dan radioku bisa on air lagi. Tuhan, Tolong urusan ini agar segera diselesaikan dengan baik. Berkati Pak Morthon Lay dengan besarnya anugerah-Mu. Amin. [MT]

NAFIRI WARISAN



Gambar di samping ini adalah gambar tanduk rusa. Bahan dasar nafiri ala Timor. Benda ini memang asing bagi sebagian orang. Tetapi di tempat kelahiran saya di pedalaman Timor, nafiri bukanlah benda yang asing lagi. Di Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, nafiri sangat berguna bagi pelaksanaan suatu ibadah rumah tangga. Bunyi nafiri akan menuntun orang untuk beribadah. Bunyi nafiri akan memiliki arti lain jika itu dibunyikan di luar hari-hari tertentu yang biasanya ditetapkan untuk ibadah rumah tangga. Bunyi nafiri di hari-hari lain menunjukkan bahwa ada orang yang meninggal. Nafiri di sini berfungsi mengumpulkan banyak orang. Benda yang di kampung halaman saya terbuat dari tanduk kerbau, di Kupang Barat, satu tempat yang pernah saya layani juga menggunakan kerang sebagai nafiri dengan fungsi sama untuk memanggil orang beribadah rumahtangga. Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa dalam ketentaraan pada saat penulisan Alkitab, nafiri digunakan untuk memberikan perintah kepada tentara. Nafiri itu bisa mengeluarkan bermacam-macam bunyi, dan setiap bunyi mempunyai arti tertentu. Kalau nafiri itu ternyata tidak bisa memberikan bunyi-bunyi seperti itu, sekalipun sebetulnya berita yang disampaikan itu penting (misalnya: ada musuh menyerang!), maka nafiri itu sama sekali tak berguna.

Sudah lazim, di desa tempat saya di lahirkan di Ajaobaki, pedalaman Timor, bunyi nafiri selalu akan dikaitkan dengan ibadah rumahtangga. Menjadi orang yang dipercayakan memegang nafiri dan menuipnya setiap beribadah menjadi sebuah kebanggan seseorang karena ia dipercaya melakukan pekerjaan kerajaan Sorga. Paling tidak itu yang aku tahu dari tradisi di kampung halamnku di pedalaman pulau Timor.

Selama bertahun-tahun sejak kami kecil, papa saya dipercaya menjadi majelis oleh gereja. Tugas pelayanan dilaksanakannya. Ia seringkali meniup nafiri untuk memanggil orang-orang berkumpul untuk melakukan ibadah-ibadah rumahtangga. Kadang saya juga hadir di dalam ibadah saya dan kadang saya mencoba meniup nafiri, tapi tidak berhasil. Meniup nafiri memerlukan kekuatan nafas yang tertampung dalam rongga mulut. Selain itu, bagian bawah telinga kadang sakit karena tiupan itu.

Meniup nafiri, pernah menyimpannya di rumah karena meminjam pernah dilakukan oleh papa saya bahkan saya pernah mencobanya saat kecil dulu; tetapi memiliki nafiri sendiri belum pernah dimiliki oleh papa saya sebagai pelayan Tuhan (penatua). Suatu hari, ada giliran memimpin ibadah di rumah seorang kakek. Istri dari kakek ini adalah kakak kandung nenek saya dari ibu. Kakek ini sudah tidak mampu berjalan jauh. Matanya sudah tidak dapat melihat. Namun mendengar papa saya datang, kakek yang pernah melayani Tuhan dengan tindakan yang sama untuk memanggil jemaat beribadah ini bangun. Menurut cerita papa saya dulu, dengan suara yang lantang kakek ini (kami memanggilnya Ba'i Banfatin) menyuruh papa saya masuk. Setelah masuk, ia mengambil nafiri kebanggaannya dan menyerahkannya kepada Papa saya sambil berpesan agar papa saya melanjutkan tanggungjawabnya memegang nafiri ini. Kalau aku tidak salah ingat, ia pernah berkata "Ini adalah nafiri milikku, aku serahkan kepadamu, sekarang setelah nafiri ini ada di tanganmu, kamu harus melanjutkan tugas pemberitaan Injil ini." Isyarat ini membuat papaku yakin bahwa dia harus terus melayani Tuhan karena sekarang nafiri itu telah menjadi miliknya. Setelah nafiri itu diserahkan, papa tetap melanjutkan tugas sebagai majelis. Beberapa tahun setelah jabatan tertinggi pelayaana majelis (penaggungjawab gereja) diemban, papa kemudian berhenti. Tetapi tidak lama sesudah itu saya lulus sarjana Theologia. Mungkin ini isyarat juga bahwa tugas ini harus saya lanjutkan. Tetapi setelah saya lulus, pulang dan melayani di Kupang walaupun tidak sebagai pendeta, beberapa tahun kemudian, papa dilantik kembali menjadi majelis.

Kini saya rasa papa cukup bangga dan menikmati pelayanannya sebagai majelis. Sya juga bahagia ternyata mendapat "cipratan" pemegangan nafiri itu. Saya walaupun tidak sebagai pendeta namun tugas mengajarkan Injil dan memberitakannya kepada orang lain masih terus saya lakukan hingga saat ini.

Tuhan, kuatkan kami untuk tetap memegang nafiri ini dalam keluarga kami. Sekarang saya tidak menganggap nafiri tanduk rusa itu sebagai jimat atau keramat, tapi saya senang, kebanyakan dari anggota keluarga kami adlaah pelayan dan setia dalam satu pekerjaan untuk kemuliaan Tuhan. Papaku majelis dan tua-tua jemaat. Mamaku anggota persekutuan do'a. Saya anak pertamanya tamat studi dari STII Yogyakarta dengan gelar S.Th. Sekarang melayani di STII Kupang sebagai pengajar dan pembawa program rohani di Radio Suara Kupang. Adiku bernama Elfi dan Erni yang sementara kuliah di UKRIM Yogyakarta setia menjadi tim Altar gereja di salah satu gereja desa di pinggiran Prambanan,Jogja . Inche adikku yang terakhir manjadi anggota Vocal Group Gereja. Wellem adikku di Surabaya pernah bekerja di rumah ret-reat di Malang. Puji Tuhan. Majelis gereja di kampung halamanku juga didominasi oleh saudara-saudara Papaku. Tuhan, kuatkan kami dalam ladang-Mu. [MT]

Senin, 10 November 2008

TUGAS BARUKU



Gara-gara kebiasaan bercuap-cuap di mikrofon radio, suatu hari aku dimintai tolong untuk menjadi Master of Ceremony (MC) dalam sebuh pesta nikah. Saya sbenarya bukan tipe orang yang gila tampil di depan publik.Kalaupun harus menjadi MC atau berbicara di depan orang, itupun saya lakukan dengan tujuan pelayanan. Misalnya memimpin ibadah di gereja, atau dalam kelompok, berkhotbah, atau sekedar mengajar. Tapi ini semua dengan alasan untuk pelayanan. Awalnya grogi juga. Demam panggung.Tapi kali itu dalam sebuah pesta nikah anggota keluarga majelis jemat, saya diminta menjadi MC. Yang jelas saya belum pernah MC di acara resepsi pernikahan. Saya tidak tahu harus memulai darimana dan mengakhiri di mana. Tapi beberapa acara pernikahan yang aku hadiri resepsinya memberi sedikit bayangan.

Dalam budaya Kupang, ada satu acara malam yang dilakukan sebelum hari H pernikahan. Entah kenapa acara ini disebut malam "Pica Bok." Malam itu ada pembagian tugas dan saya disebut sebagai pembawa acara dalam resepsi besok malam. Hal-hal yang berhubung dengan materi pembicaraan saya tanyakan. Termasuk beberapa pepatah Amarasi dan Rote. Maklum yang menikah adalah pria Timor Amarasi dan wanita Rote. Setelah 'investigasi' sederhana itu saya lakukan, saya baru tahu bahwa pengantin prianya bekerja di sekretariat DPRD Kabupaten. Dalam benak saya berkecamuk perasaan grogi karena pejabat-pejabat yang akan hadir. Malam itu kami pulang dan besok malam kami kembali ke resepsi. Catatan kecil saya selipkan di kantong sekedar jaga-jaga. Setelah sampai ke tempat resepsi saya diminta memakai pakaian adat Timor lengkap dester di kepala. Astaga saya seperti 'tiang listrik dibuntheti.' Saya baru sadar bahwa dalam acara itu, banyak pejabat kabupaten yang harir. Th. Naisanu yang istrinya pemandu pemotong kue pengantin, Jeri Manafe anggota DPRD, Welhelmina Tabais-Kefan ketua DPRD damn dalam ibadah siangnya juga hadir Ruben Funay yang waktu itu adalah wakil Bupati. Dadaku seperti akan copot. Tapi syukurlah, acara yang saya bawakan malam itu mendapat pujian dai banyak orang termasuk teman-temanku. Ini pertama kali saya MC di acara pernikahan. Dan sejak saat itu, setiap kali acara pernikahan di lingkungan pelayanan saya, saya selalu diminta MC di acara ernikahan.Jadilah saya perangkai kata-kata cinta.

Tapi saya harus jujur bahwa saya kurang menikmati tugas baruku ini. Demi kedekatanku terhadap objek pelayananku, aku terpaksa harus melakukannya.

MC yang profesional? Ya... mungkin. Maybe Yes, Maybe No.

Kamis, 06 November 2008

IMAGE & REALITY



Kata orang, dalam hidup ada dua tataran. Tataran yang pertama ada di dalam otak yang bisa kita sebut tataran idealis dan tataran kedua ada dalam kelakuan yang namanya tataran realistis. Semua manusia berhadapan selalu dengan dua hal ini. Dua tataran ini kadang tidak sejalan. Apa yang ada dalam otak kita kadang (kalau bukan selamanya) tidak berjalan bersamaan dengan apa yang kita lihat, kita alami dan kita rasakan.

Dalam bayangan saya, pendeta adalah orang yang sangat sempurna. Dalam istilah saya seorang pendeta adalah manusia yang punya tingkatan di atas manusia normal lain. Atau "sedikit di bawah malaikat." Image ini sudah terbangun sejak kecil. Papa saya yang dipercaya mengelola satu gereja kecil di desa selalu menjemput Pak Pendeta untuk melayani sakramen. Wibawa dan nada suara pak Pendeta, bahkan jubah hitam dan "dasi" putihnya membuat saya semakin mengagumi pendeta. Saat saya mulai sekolah teologi dengan harapan untuk menjadi pendeta, barulah saya tahu, gambaran saya tentang pendeta kelitu. Kenyataan mengatakan bahwa calon-calon pendeta di sekolah teologi mempraktekan berlawanan dengan image saya. Gambaran ini masih terus ada setelah saya tinggal serumah dengan para pendeta dan saya ternyata tahu bahwa memang gambaran saya terhadap pendeta sangat keliru. Jika rocker saja adalah manusia., pendeta jelas adalah manusia juga.

Dalam hal komunikasi, image dan reality juga harus diperhatikan. Dr. Donald K. Smith dalam sebuah bukunya yang saya baca berjudul Creating Understanding menyebutkan bahwa dalam komunikasi, terutama komunikasi lintas budaya dengan tujuan pekabaran Injil, hal terbaik bagi seorang komunikator adalah memperhatikan gaya presentasi. Walaupun isi dan essensi pembicaraan tidak berubah, namun gaya presentasi harus disesuaikan dengan gambaran mental audiens. Untuk dapat mempersiapkan secara cukup, seorang komunikator harus mengenal gambaran imageyang didapat dari audiensnya.

Demi pengenalan image dari audiens, hal-hal berikut perlu diperhatikan:
1. Apakah ketertarikan spiritual mereka?
2. Apakah merekan memiliki keingnan untuk terlibat dalam pekerjaan Kerajaan Allah?
3. Apakah mereka secara baik mendapatkan informasi atau edukasi? Apakah mereka
tertarik dalam urusan kekinian saja? Dunia? Nasional? Atau hanya komunikasi.
4. Apakah anda menganggap audiens anda atagonis atau bersahabat?
5. Apakah mereka tertarik dengan subjek yang anda bawakan?

Memang pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan memberikan sebuah gambaran yang penuh dari audiens. Namun ini membatu saya untuk semakin mengerti bahwa audiens penting dalam komunikasi. Bagaimana dengan kasus image & reality kehidupan pendeta?

Semoga saja mereka (termasuk saya) yang bekerja di ladang Tuhan demi kerajaan-Nya tidak terjebak. Semoga.

Rabu, 05 November 2008

PAK DAN IBU CHRIS YANG KU KENAL



Ini kisah tentang seorang anak desa. Ia lahir dan dibesarkan di sebuah pulau yang tidak ada di peta Indonesia. Ia merantau ke Jawa, dibesarkan dengan terpaan kerasnya hidup, tetapi yang berhasil sukses dalam studi Doktornya di Amerika. Ia lahir di pulau yang tidak ada dalam peta Indonesia tapi ia memiliki pemikiran besar untuk Indonesia.

Saya tidak mengenal pria ini sebelumnya sebelum tahun 1999. Waktu itu ada brosur yang sampai ke tangan saya, sementara saya masih berada di sekolah teologi lain yang bukan berada di bawah asuhannya. Ketika pertama kali membaca nama Chris Marantika dalam brosur itu, keinginan saya semakin kuat untuk kuliah di sekolahnya. Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia (STII) Yogyakarta. Hari-hari pertama kuliah di STIIpun saya belum mengerti dengan jelas siapa beliau. Sampai akhirnya suatu saat Beliau berkhotbah di Kapel STII dan kesan pertamaku adalah, "Pak Chris Luar Biasa." Suaranya yang menggetarkan kalbu, pembawaannya, dan ekspresinya yang menggugah pendengar dengan tatapan matanya yang tajam menerobos kacamata tebalnya menuntun untuk mengatakan, "Yes pak Chris, I'm your Vision follower." Beberapa kali saya mendengar beliau berkhotbah dan Puji Tuhan saya mengikuti kelas Manajemen Kepemimpinan yang diasuh beliau dan Eksposisi Wahyu. Banyak hal praktis yang diajarkan di sana selain materi yang diajarkannya. Dan hal-hal praktis itu berasal dari hidupnya.

Sekarang, walaupun mengalami banyak pergumulan setelah lulus dari STII dan membantu melayani di STII Kupang, namun ungkapan, "mundur selangkah maju dua langkah, dek" yang khas dari Pak Chris masih terpatri. Walaupun Juli 2008 yang lalu beliau sudah kelihatan lelah karena sakit yang dialaminya, namun semangatnya masih membara. Bahkan cerita unik dari sakitnya Dr. Chris Marantika adalah pada saat sakitnya sudah parah, ia sendiri menyetir dan masuk ke UGD untuk berobat.

Semangat lain saya dapat dari istri Beliau. Dr. Saria Marantika. Saat sebelum menyelesaikan skripsi saya dan menyelesaikan pelayanan saya, beliau datang ke desa tempat saya melayani dan masuk di rumah orang-orang desa, memeluk 'Mbok Karjo' yang baru pulang dari kebun dan menciumnya, membersihkan lantai desa yang kotor dengan menyeka sisa makanan yang jatuh dari meja dengan tissue, bahkan berjalan kaki mengunjungi beberapa jemaat desa di Belang, Terbah, Patuk Gunung Kidul. Saat kami keringatan sesudah berjalan kaki jauh, beliau menyuruh kami untuk bersiul-siul kecil. Konon kata bu Chris, angin akan segera berhembus. Bu Chris juga pernah mengajariku secara tidak langsung tentang kesabaran. Saat kami antri akan menghadap dosen pembimbing, Beliau yang adalah pimpinan, dan bahkan pemilik kampus itu ikut antri dengan kami untuk menghadap Pak Noor yang notabene adalah anak didiknya. Sambil antri beliau berseloroh. Kita harus mempraktekan filsafat "gareng-Petruk." Sabar Subur, ora sabar mlebu kubur utowo dhadi bubur. Mudah-mudahan tidak salah ejaanya. Sabar menanti sama dengan subur. Tidak sabar akan masuk kubur atau jadi bubur. Kesehatan Ibu Chris saat terakhir saya bicara dengan beliau pada makan siang rapat pimpinan STII Nasional di Jogjakarta sudah tidak sesehat dulu. Tapi semangatnya masih tetap semangat Ibu Chris dulu saat ke Gunung Kidul


Semoga saja api pak Chris tidak padam dan dipadamkan.

Selasa, 04 November 2008

INFORMASI YANG MULTITAFSIR



Ada dua orang yang mendengar berita tentang seorang sahabat yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Orang pertama adalah seorang pria. Ia berpikir, bagaimana memberi support kepada anak yang baru lahir itu? bagaimana ia bisa memberikan kebutuhan yang diperlukan anak ini untuk masa depannya? Berbeda dengan orang kedua. Ia seorang perempuan. Ia kemudian berpikir, apa nama yang cocok untuk anak itu? Selucu dan seimut apakah anak itu?

Semua informasi selalu akan ditafsir berbeda oleh pribadi, kelompok, latarbelakang suku yang berbeda. Saya teringat sebuah cerita sewaktu masih kuliah di Doulos sesaat sebelum pindah ke STII. Kata kakak-kakak kelas, ada seorang dari kelompok anak Timor yang bersaksi tentang latarbelakang keluarganya. Dalam kesaksiannya itu disebutkan, "mama saya masih hidup, papa saya masih hidup, nenek saya masih hidup, tapi ba'i saya sudah mati." Pada saat menyebut ba'inya mati, beberapa anak Nias tertawa terbahak-bahak sehingga kesaksian yang tadinya haru berubah menjadi ramai. Setelah diselidiki, kata ba'i yang oleh orang Timor berarti kakek, dalam bahasa Nias konon berarti kemaluan laki-laki.

Ternyata informasi yang kita sampaikan bisa multitafsir jika dipengaruhi oleh latarbelakang pendengar. Karena itu, dalam kesempatan menyiar, saya mulai belajar untuk berhati-hati menyampaikan informasi bagi pendengar. Senin kemarin, peristiwa itu terjadi. Teman-teman saya yang menyiar sebelum saya mendapat SMS bertubi-tubi bahwa seorang fans radio kami telah meninggal. Beberapa panik dan informasi ini sempat tersiar di udara. Beberapa teman fans bahkan mengkonfirmasi ke radio. Tapi ternyata info itu salah. Fans yang bernama Haris di Fatukoa masih saja hidup.

Ini warning bagi semua orang yang mau menyampaikan informasi. Lihat dulu latar belakang audience, pastikan bahwa informasi kita tidak multitafsir. Selamat memberi informasi. [MT]

Senin, 03 November 2008

DID I SPENDING TOO MUCH TIME FOR THIS?




Judul di atas nampaknya terlalu berlebihan. Sok Inggris,gak? :) Tapi sebenarnya judul ini tercetus dari pemikiran sederhana saya dalam perjalanan pulang pelayanan week-end dari satu gereja desa di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Ini kegiatan rutin saya setiap senn pagi. Bangun pada jam 4.30 pagi. Bersyukur karena malam yang sudah lalu. Dengan mengangkat hati sambil menundukkan kepala, saya juga meminta Tangan yang Kuat menuntun saya dalam perjalanan hidup saya, maupun perjalanan pulang saya ke kost saya di Kupang untuk aktivitas lainnya di Kupang. Sesudah saya membuka mata, saya belum melihat siapapun bangun dari tidurnya kecuali saya. Setelah membereskan tempat tidur, dua gelas air putih saya teguk (ini juga kebiasaan) dan kemudian saya membuka pintu, mempersiapkan diri dengan mandi dan aktivitas lain di kamar mandi dan kemudian mengambil tas saya dan duduk di depan rumah menunggu angkutan umum utuk pulang ke Kupang. Saat itulah mereka yang lain termasuk pak Pendeta bangun dan saya kemudian pamit untuk menunggu datangnya angkutan umum yang hanya beberapa unit untuk jurusan tempat saya melayani.

Ini angkutan pertama yang saya tumpangi hari ini. Biasanya harus berdesak-desakan dengan ibu-ibu dari desa yang akan berangkat ke pasar. Beberapa karung beras ditumpuk di dalam angkot. Selain itu kadang beberapa karung mangga juga ada, tidak jarang ada ayam yang juga dimasukkan ke dalam angkot. Bisa dibayangkan aroma di dalam angkot. Jujur saja, aroma itu seringkali ditambahi dengan bau yang sangat mengganggu, bau badan yang ikut bercampur menjadi satu. Perjalanan pertamaku di pagi itu dan biasanya di setiap senin pagi menghabiskan waktu satu jam setengah. Sesudah tiba di pasar, selain napas saya cukup lega saya juga semakin senang karena sudah mendekati tujuan saya walaupun harus dua kali lagi berganti angkot. Di angkot kedua yang cukup nyaman (paling tidak tanpau aroma aneh karena rata-rata ditumpangi oleh mahasiswa yang akan berangkat kuliah atau karyawan di kota Kupang)di sinilah saya memikirkan tentang berapa banyak waktu yang saya habiskan untuk berada di atas angkutan kota.

Maklum, setiap hari saya harus menghabiskan minimal beberapa menit untuk menumpang angkutan kota. Senin jam 7-9 pagi, dilanjutkan jam 13.00-13.30; Selasa, jam 20.00-20.30; Rabu, 07.15-7.35; Kamis,20.00-20.30; Jumat (hari paling melelahkan) 07.15-7.35; 14.00-14.20; 17.05-17.20; 20.05-20.25; Sabtu, 08.00-08.20, 13.00-17.00.


Syukurlah, hari minggu aku hormati sebagai hari Tuhan dan hari untuk melayani Tuhan, dan karenanya tidak ada aktivitas bepergian dengan angkot pada hari itu. Maklum, gerejanya dekat. Ini kegiatan transportasi rutin saya, belum ditambah lagi dengan kegiatan lain yang harus dilakukan di luar rumah dan karenanya membutuhkan transportasi. Jika ditotal, ternyata banyak jam yang saya habiskan untuk berada di atas angkutan kota.

Spend too much time? Maybe. But what about it's cost? [MT]

Jumat, 31 Oktober 2008

SELAMAT ULANG TAHUN GMIT




Hari ini 31 Oktober 2008. Terhitung sudah tiga tahun tiga bulan empat hari sudah, saya menyelesaikan studi saya di Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia (STII) Yogyakarta. Sekolah ini adalah sekolah yang 'interdenominasi.' Artinya, denominasi apa saja bisa studi di sana dan setelah selesai studi, diharapkan kembali ke gerejanya dan menjadi berkat bagi gereja asalnya. Di Gereja Masehi Injili di Timor, STII dan sekolah Ijili lainnya dianggap tidak seasas sehingga tidak bisa melayani sebagai pendeta, kecuali kuliah ulang di Fakultas Theologi yang seasas dengan GMIT. Penyesuaian ini memakan waktu dua tahun minimal. Adapun sekolah yang alumninya diterima untuk divikariskan adalah STT Jakarta, Duta Wacana, Satya Wacana, STT INTIM dan Fak Teologi UKAW.

Oleh karena berbagai kendAla, sampai saat ini saya tidak mengikuti penyesuaian itu. Namun bukan berarti saya harus menyangkali gereja asalku dan mencari gereja lain sebagai tempat saya bernaung. Mungkin kelihatannya saya terlalu sok loyal dengan GMIT. Tapi saya tidak dapat menyangkali itu. Saya memang percaya bahwa gereja secara universal adalah tubuh kristus dengan berbagai denominasi yang ada. Tapi saya juga percaya bahwa gereja lokal penting artinya bagi saya. Karena itu walaupun saya pernah beribadah dan bahkan melayani di banyak gereja yang tidak seasas dengan GMIT misalnya GPdI, Gereja Siloam Injili, Gereja Baptis, namun dalam diri saya tetap merasa bahwa saya adalah anggota GMIT. Maklum, sejak kecil papa saya adalah seorang majelis di GMIT yang membiasakan kami untuk akrab dengan berbagai pelayana di GMIT.

Kini setelah tiga tahun lebih saya tamat dari sekolah teologi, saya masih belum menjadi pendeta, apalagi pendeta GMIT. Tetapi saya tidak mau menjadi pengecut. Pengecut yang hanya demi alasan mendapat jabatan pendeta baru mau melayani di GMIT. Walaupun sampai sekarang saya hanya melayani sebagai pelayan katekesasi di GMIT atas komunikasi dengan pendeta dan majelis jemaat lokal, tetapi saya tetap bangga menjadi warga GMIT.

Karena itu dengan bangga saya mau mengatakan kepada gereja asalku. Selamat Ulangtahun GMIT. Semoga pelayan-pelayanmu tetap loyal dengan Kristus kepala gereja. Semoga saya juga. Amin. [MT]

BHINEKA TUNGGAL IKA




Sore ini seperti biasa aku membuka acaraku "Mozaik Nusantara lagu Jawa" dengan senyuman yang tertahan. Maklum, kondisi tubuhku kurang sehat pasca pemulihan 'pusatku' yang terinfeksi. Mungkin karena pengaruh obat, saya merasa kondisiku kurang fit. Setelah DJ Talk opening, sebentar saya meninggalkan lagu berjalan di raduga sambil sekedar saya minum dan menarik napas sejenak. Oh.. Perutku terasa kosong. Maklum, saat selesai mengajar saya belum sempat makan siang. Sambil telingaku terus memonitor beberapa iklan yang terus jalan, saya mengisi perut dengan makanan yang tersedia di meja makan yang memang disediakan di studio. Siang ini lumayan istimewa karena ada beberapa potong daging yang belum disentuh teman lain. Sambil makan, pikiranku menuntun untuk segera menghabiskan nasi di piring dan masuk karena lagu pasca iklan sudah mulai berjalan.

Ini rutinitas saya setiap hari Jumat. Di studio, kami menyebutnya hari jumat sebagai hari paling melelahkan. Saya juga heran, karena beberapa waktu terakhir ini saya seolah menjadi bukan diriku sendiri. Paling tidak setiap hari Jumat jam 15.00-17.00. Tiba-tiba saya harus berbahasa Jawa di program ini. Beberapa pendengar pernah menelepon dan bertanya, dari Jawa mana asal saya? Mereka bahkan kadang protes karena saat membaca berita, marga saya Tanesib, sering saya sebutkan. Pada akhirnya toh mereka tahu bahwa saya asli Timor. Karena tidak mungkin ada orang Jawa yang bermarga Tanesib.

Hari terakhir di bulan Oktober ini, saya disadarkan oleh seorang penelepon. Ibu Eko dari Jogjakarta yang bersuami Timor dan sudah lama tinggal di Timor. Ketika bercakap-cakap tentang makanan kesenangannya, Apakah Jadah Tempe khas Kaliurang, Ibu Eko menjawab, ia lebih suka menikmati jagung bose makanan khas Timor. Apakah dia suka menggunakan jarig khas Jawa, ia menjawab ia lebih suka mengenakan kain khas timor. Ia justru heran dengan anak-anak muda di Timor sekarang yang selalu dengan busana "bertali satu" datang ke pesta.

Budaya yang diwakili oleh pakaian, makanan, dan bahasa dalam pengalaman hidup saya hari ini membuat saya merenung. Saya seorang Timor dari Bisnaen, sebuah kampung kecil di pertemuan dua sungai kecil di pedalaman Timor. Tapi puji Tuhan, saya sedikit mengenal bahasa dan makanan Jawa. Saya kemudian berpikir, betapa sulitnya memperjuangkan sesuatu yang namanya perbedaan dan menjadikannya satu. Betapa beratnya mereka yang merumuskan "Bhineka Tunggal Ika." Hari ini saya semakin menyadari bahwa perbedaan itu adalah sebuah seni. Untuk memahami orang lain diperlukan pengorbanan.

Semoga Mozaik Jawa ini menolong saya memulai memahami perbedaan sebagai sebuah seni hidup. [MT]

KUAT DALAM KELEMAHAN




Kelemahan sudah menjadi bagian hidup dari semua manusia. Hampir dapat dipastikan bahwa semua makhluk yang bernama manusia pasti pernah mengalami kelemahan. Jika tidak dalam bentuk fisik, kelemahan itu bisa saja datang dalam bentuk emosi, intelek atau rohani. Kekuatan dalam satu segi misalnya dalam hal intelek tidak selalu menjamin ketidaklemahan di sisi lain. Paulus seorang pelayan Tuhan yang luar biasa itu menyebut kelemahan dalam tubuhnya sebagai "duri di dalam daging."

Orang bisa saja menyimpulkan apa yang dimaksud dengan Paulus dengan "duri dalam daging." Misalnya saja dengan mengatakan bahwa duri dalam daging, yang dimaksud Paulus dapat menunjuk masa lalu Paulus. Mengapa masa lalu Paulus menjadi “duri dalam daging” baginya? Firman Tuhan dalam I Timotius 1:13 berkata,”aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihaniNya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” Hal ini berkaitan dengan apa yang pernah dilakukan Paulus sebelum bertobat yaitu menganiaya orang Kristen (Kisah 8:1-3). Masa lalu itu begitu menghantui Paulus, sehingga ia merasa bahwa masa lalu itu seperti duri dalam dagingnya.

Ada juga yang mengatakan Duri dalam daging dapat juga berarti masalah kesehatan pada matanya. Ini merupakan tafsiran beberapa teolog yang menyatakan bahwa kesehatan pada mata Paulus yang tidak baik, sehingga sangat menggangu pelayanannya.

Hal lain yang duikatakan orang mengenai Duri dalam daging dapat juga berarti bahwa di dalam pelayanan Paulus, ada orang-orang yang tidak senang terhadap dia. Dan orang-orang ini selalu menentang dan berusaha menjatuhkan Paulus dalam pelayanannya.

Apapun pendapat orang terhadap duri dalam daging sebagaimana kata Paulus, tapi dalam refleksi pribadiku malam ini 30 Oktober 2008 aku merasa bahwa ada "duri dalam dagingku." Duri itu adalah peringatan dari dokter beberapa hari yang lalu bahwa aku kemungkinan harus menjalani operasi. Operasi? Sebenarnya kata itu saja telah membuat aku cukup merinding. Maklum aku sangat trauma dengan beberapa teman yang pernah operasi dan aku sempat menjaga mereka di rumahsakit. Pemicu dari kata dokter sebenarnya adalah pusarku. Orang Jawa menyebutnya "udhel." Betapa kagetnya aku karena di puserku ada rasa sakit dan setelah aku mencoba melihatnya, keluar nanah yang membuat aku sendiri minder dengan aromanya. Tidak terlalu banyak sih... Cuma membuat aku takut. Setelah diperiksa dokter memintaku meminum antibiotik yang diresepi oleh dokter dan kata dokter akan berakibat dioperasi jika dalam tiga hari tidak kering atau sembuh. Membayangkan operasi membuat bulu kudukku merinding meskipun dokter menghiburku dengan mengatakan biusnya adalah bius lokal. Moso gara-gara udhel kok operasi to, dok? Medheni tenan. Syukurlah, aku sekarang merasa sedikit nyaman dengan meminum obat itu. Imanku meyakinkan aku bahwa aku tidak harus dioperasi.

"Duri" ini bukanlah satu-satunya duri yang pernah kualami. Sebelumnya aku punya banyak keluhan dengan masalah kesehatan. Misalnya dengan masalah flu berkepanjangan, masalah sariawan yang muncul dua minggu sekali dan kondisi fisik yang rawan de el el de el el. Tetapi aku tetap melayani. Setiap pagi jam 05.00 pagi aku sudah harus mulai bercuap-cup di depan mikrofon radio, jam 08.00 sudah harus berada dengan sejumlah materi yang harus disajikan di depan mahasiswaku sampai jam 2 siang. Sesudah itu dalam kondisi kelelahan aku pulang, mempersiapkan makan siangku sendiri, beristirahat dan jam 7 malam aku sudah harus kembali ada di studio untuk bersiap-siap bercuap di mikrofon radio sampai jam 12 malam. Setiap sabtu, aku harus menempuh perjalanan berkilo-kilo dengan berganti tiga kali angkutan umum untuk menjangkau orang-orang yang harus kulayani di desa. Semua kulakukan untuk Tuhan karena program yang aku asuh di radio juga adalah program rohani. Bersama dengan Paulus, malam ini aku berkata ada 'duri dalam dagingku.'

Aku pernah bertanya kepada Tuhan, mengapa hal ini musti terjadi denganku? Kenapa masih ada kelemahan fisik yang aku alami. Aku khan sudah melayani Tuhan. Kenapa aku tidak diberi kesehatan terus. Tapi pertanyaan bodohku ini dijawab:


Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna."
[MT]

Kamis, 23 Oktober 2008

Ibadah di 'Pak Laru'



Melayani Tuhan memang memerlukan strategi. Kadangkala strategi-startegi itu ada di luar pelajaran yang pernah didapat di bangu kuliah. Jika mau menghitung, saya menghabiskan waktu delapan tahun untuk belajar melayani Tuhan. Delapan tahun dimaksud bukan untuk dua strata, tetapi hanya S1. Delapan tahun hanya untuk mendapat s1? Iya. Ini fakta dan mungkin jarang terjadi. Saya pernah mendengar cerita bahwa ada orang yang bahkan sampai tahun ke-13 hanya untuk menyelesaikan studi sarjananya. Mengenai ini, saya tidak perlu berbangga karena lebih awal enam tahun sebelum ke-13.

Sebenarnya syarat lulus Sarjana bagi seorang yang kuliah di Theologia ada tiga. Kemampuan akademis harus mumpuni, ketelatenan melayani harus teruji, dan pembuktian tentag kehidupan moral harus terasah. Dalam enam tahun dan berpindah dari Doulus ke STII sebagaimana kisahku di bagian lain blog ini, aku bersyukur karena kemampuan akademisku dianggap lumayan. Kesan ini saya dapat dari beberapa orang dosen dan teman sekelasku. Kemuliaan bagi Tuhan untuk itu. Mengenai masalah kelakuan dan tindakan, aku bersyukur aku belajar untuk mendisiplin diri dan puji Tuhan bisa mendapat penilaian yang cukup dari pihak sekolah. Tentu saja penilaian ini tidak sempurna. Menurut saya yang berhak menilaikita layak adalah Tuhan. Syukurlah, standar minimal sekolahku untuk moral aku bisa lewati. Aku juga bersyukur karena standar minimal ketrampilan pelayanan dapat aku lewati di sebuah desa di pinggiran Jogjakarta. Dari sana manfaat gandanya dapat saya nikmati sekarang dengan mengerti bahasa Jawa. Minimal "ngoko."

Mengasah diri dalam ketrampilan pelayanan masih terus saya lakukan. Maklumlah, konteks studi lapangan di Jawa berbeda dengan konteks pelayanan saya sekarang di GMIT di tengah-tengah orang suku Sabu dan Rote. Malamminggu yang lalu, aku mendapat sebuah ilmu ketrampilan melayani dari seorang muda gereja. Pemuda ini bernama Yap. Sejak beberapa tahun lalu ia dipercaya sebagai pemimpin umat di rayonnya. Walaupun Ia masih muda, ia diminta melayani sebagai penatua. Dalam perjalanan kami menuju sebuah rumah du kampung sebelah, dia bercerita tentang pengalamannya melayani. Ceritanya begini. Suatu hari ia mendapat kesempatan memimpin ibadah rumahtangga di sebuah rumah yang sekaligus dipakai sebagai tempat menjual minuman keras. Orang Kupang menyebutnya "Pak Laru." Setelah mempersiapkan diri, ia datang dengan membawa Alkitab dan buku nyanyian Kidung Jemaat. Setibanya di rumah itu, lampu kebetulan sedang padam. Oleh tuan rumah dia dipersilakan masuk dan duduk. Sampai beberapa menit lampu itu juga tidak kunjung menyala lagi. Tumben, rumah itu sepi, pikirnya. Karena biasanya tempat itu ramai dikunjungi penjaja minuman keras yang bernama laru. Dia masih terus menunggu dan menunggu, kapan kira-kira aggota jemaat yang lain akan datang untuk memulai ibadah. Ditengah-tengah menunggu, tiba-tiba suara ramai-ramai orang dari kejauhan terdengar. Ternyata mereka adalah orang-orang yang ingin minum malam itu. Sebagian mereka tidak berbaju alias bertelanjang dada. Mereka mungkin tidak tahu kalau malam itu jadwal ibadah di rumah itu. Mereka juga adalah anggota jemaat di gereja. Dengan santai mereka masuk dan meminta minum. Betapa kagetnya saat mereka duduk, sementara suasana ruangan gelap, mereka melihat Alkitab di meja dan pelayan juga sudah siap untuk memimpin ibadah. Dengn malu-malu mereka mulai duduk. Dan karena pemilik rumah adalah simpatisan sebuah partai yang memiliki banyak kaos partai, maka kaos itu dibagikan kepada para pengunjung pak laru yang kecele itu. Ibadahpun segera dimulai dengan peserta yang kebanyakan berseragam partai.

Ini ibadah yang jemaatnya kecele, ketakutan dan berpakaian partai. Ini ibadah atau kampanye?

Tapi saya bersyukur dan bangga dengan strategi pemuda ini. Syukurlah, malam itu aku mendapat ilmu baru. Ilmu itu adalah ilmu ibadah di Pak Laru. Sabar, tunggu mereka datang, berimereka pakaian yang sopan dan sesudah itu ajak mereka berdoa. [MT]

Jumat, 10 Oktober 2008

Jalan pikiranku dan Arahan TUHAN


Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya. (Amsal 16:9)

Pemikiran tentang jalan hidup adalah pekerjaan setiap manusia. Terutama mereka yang sudah lulus kuliah dan mulai menapaki pekerjaan. Apalagi mereka yang sudah memasuki usia dewasa. Seorang temanku pernah secara terbuka jujur bahwa dia kebingungan dengan usianya yang sudah hampir kepala empat dan dia belum berkeluarga. Sama dengan temanku, semua orang pasti memikirkn tentang jalan hidup, walaupun tidak semata-mata berhubungan dengan menikah dan berkeluarga. Bagi orang-orang yang belum memiliki pekerjaan yang "mapan," memikirkan jalan hidup karier adalah sesuatu yang normal. Apalagi jika diperhadapkan dengan beberapa pilihan yang masing-masing pilihan belum tentu pasti.

Peristiwa memikirkan jalan hidup pernah juga menjadi bagian hidupku. Saat itu aku masih duduk di tingkat tiga di bangku kuliah. Ketika masalah pelayanan menimpaku, aku berpikir apakah aku akan menyelesaikan studiku dengan baik dan akan berhasil diwisuda. Saat itu tidak ada pikiran apapun yang jelas tentang jalan hidupku. Memasuki tahun kelima dan keenam studiku (seharusnya hanya empat tahun), aku kembali berpikir dalam kebingunganku, apakah aku akan diwisuda? Menjelang aku diwisuda, aku bertanya lagi, apakah pelayanan panti, kampus, sekolah atau gereja yang menjadi pilihanku? Banyak pikiran tentang jalan hidup yang terpikirkan.

Tapi hari ini aku melihat bahwa jalan yang aku pikirkan berbeda dengan cara Tuhan menuntunku. Dalam masa "kritisku" aku justru melihan arahan Tuhan. Aku dapat memiliki sebuah ketrampilan yang tidak kusangka hari ini berguna bagiku. Dulu saat aku berada dalam peristiwa itu, aku tidak menyadarinya. Hampir-hampir aku putus asa. Tapi aku terus berjalan dan maju, dan sekarang aku sadari, arahan Tuhan memang di luar dugaanku.

Trimakasih Tuhan, engkau mengarahkan aku dan memberi aku kekuatan untuk terus melihat jalan-Mu semakin jelas. [MT]

Kamis, 09 Oktober 2008

Hikmat di Jalanan


Mencari hikmat. Mungkin kata-kata ini terlalu abstrak untuk dipahami. Pertanyaannya adalah, di mana hikmat harus dicari? Mungkin ada yang berkata, dengan menyelesaikan S1,S2 dan S3, seseorang telah memperoleh hikmat. Aku ingat temanku namanya pak Yanto dan Pak Iwan Tarigan. Dua-duanya adalah mahasiswa Pasca Sarjana yang tinggal seasrama dengan kami mahasiswa S1. Mereka sering bersendagurau. Salah satu candaan mereka adalah, "masa orang S2 pikirannya kayak SD?" Kamipun beramai-ramai tertawa. Dari candaan ini, sesuatu yang menarik dapat dipetik, hikmat tidak bisa hanya diperoleh dengan gelar yang dimiliki. Trus dimana hikmat dapat ditemukan?

Hikmat berseru kepada kita di manapun dan kapanpun. Bahkan dari tempat yang kita tidak duga-duga. Kitab Amsal menyebutkan bahwa hikmat berseru di jalan-jalan, di lapangan-lapangan, di atas-atas tembok (Ams. 1:20-21). Tafsiran apapun mungkin akan diberikan terhadap jalan, lapangan atau tembok. Tapi bagiku, penulis kitab Amsal ingin mengatakan bahwa dari tempat manapun, seseorang dapat memperoleh hikmat. Bahkan di tempat-tempat yang tidak dapat disangka ada hikmat yang dapat dipelajari di sana. Di desa yang terpencil, di bawah sinar lampu minyak tanah, di rumah gubuk yang ada di tepian sungai, bahkan di kampus juga aku belajar mengenal hikmat. Hikmat ada di tengah-tengah jemaat Rote dan Sabu di Pariti, di mahasiswa STII tingkat satu (aku banyak belajar dari mereka) dan bahkan anak-anak sekolah mingguku. Tolong aku Tuhan untuk terus melihat hikmat yang bersembunyi di mana-mana, tetapi juga yang dengan suara nyaring berseru kepadaku. Dimanapun dan kapanpun ajar aku belajar menemukan hikmat yang Kau selipkan bagiku agar aku tidak lalim suatu saat nanti. [MT]

Rabu, 08 Oktober 2008

Bertemu Pak Ans Takalapeta (Bupati Alor)


Sidang Sinode GMIT XXXI di Alor adalah awal aku mengenal Pak Ans Takalapeta. Aku bukan peserta sidang itu. Aku hanya setia mengikuti sidang itu dari Radio. RRI Kupang tepatnya. Aku berusaha menjadi pendengar setia saat itu. Semua siarannya berhubungan dengan sisi sidang Sinode aku dengarkan. Maklum, aku adalah warga GMIT yang harus tahu sedikit tentang hasil sidang sinode. Dalam siaran itu, sesi yang membuat aku cukup terpaku adalah pidato Bupati Alor, pak Ans Takalapeta. Aku tertantang untuk semakin melayani giat, justru dari pidato pak Ans. Aku lupa kata-katanya persis, tapi waktu itu aku seolah-olah dibakar untuk giat melayani di manapun. Yang aku ingat persis dan aku catat adalah nomor(HP) beliau. Itupun karena disebutkan dalam pidatonya waktu itu. Beberapa waktu kemudian, SMS-SMS-an pun dimulai. Awalnya hanya kata-kata ucapan selamat hari minggu dari beliau.


Suatu saat aku membaca buku Pdt. Dr. Eben Nuban Timo yang dalam sidang sinode terpilih menjadi ketua Sinode. Judulbuku itu “Sidik Jari Allah dalam Budaya.” Dalam salah satu halamannya ada yang diambil dari tulisan Pak Ans Takalapeta. Keinginanku untuk membaca buku Pak Ans dan mengenal secara jelas beliau dan ide-idenya mulai muncul. Aku kemudian menyampaikan maksudku kepada beliau. Aku bersyukur. Pak Ans adalah seorang Bupati yang rendah hati. Mau membalas SMSku dan bahkan meminta alamat pengiriman buku. Aku mengirimkan alamat itu ke beliau. Tapi aku tidak banyak berharap karena aku tahu, seorang Bupati adalah orang yang cukup sibuk hanya untuk orang seperti aku. Sebulan lebih kemudian aku tidak mengingatnya lagi. Tapi aku tetap punya keinginan membaca buku Pak Ans.Aku kemudian punya niat untuk mulai kembali mengingatkan beliau. Gayung bersambut. Minggu pagi, pasca aku diundang untuk berkhotbah di salah satu gereja, beliau memintaku datang ke rumahnya di Kupang. Kebetulan beliau transit karena baru pulang dari Jakarta. Setelah ibadah aku kemudian ke rumahnya. Beberapa kali nyasar, tapi kemudian aku SMS ke beliau n beliau dengan rendah hatinya mau menelpon dan memberitahu alamat rumah yang sebenarnya. Aku jadi semakin "pakewuh" dengan beliau. Tiba di rumah beliau, ada seorang gadis hitam manis (aku perkirakan umurnya 20-an) keluar dan menanyakan maksud kedatanganku. Sesudah dipersilakan masuk ia kemudian mengetuk pintu dan memanggil, "Papa! Ada yang cari." "Ohhh... itu anaknya," bathinku. Aku menatap beberapa foto di temboknya. Beliau mengenakan pakaian kebesaran bupati bersma istrinya. Aku teringat kalo ada temanku yang pernah bilang, "istri pak Ans itu Pendeta." Selama menanti beliau keluar dari kamar, pikiranku kemudian menjawab sendiri, "Pantas aja, beliau rendah hati sekali." Lamunanku dikagetkan dengan bunyi pintu kamar dan Pak Ans keluar. Dengan peci khas dan berbatik lengan pendek beliau keluar dan menyalamiku dengan penuh keramahan. Di tangannya ada tiga buku yang sudah ditandatangani. Buku-buku itu diserahkan ke aku. Kira-kira 15 menit kami mengobrol, beliau menguatkan aku untuk tetap melayani. Kemudian aku pamit karena nampaknya beberapa anggota keluarganya berdatangan. Aku tidak mau mengganggu beliau. Aku pulang dengan tiga buku di tangan.

Semua buku itu sudah selesai aku baca. Aku baru tahu tentang latar belakang dan semua yang menjadi pemacu beliau bersemangat. Di antaranya yang memotivasiku adalah beliau pernah menjadi guru Sekolah Minggu, pernah juga jadi "Doktor" alias Mondok di Kantor. Beliau juga pernah mengurus hewan peliharaan keluarga mereka. Aku sering mengalami hal yang sama. Mama Dina, istri beliau yang pendeta juga membuat aku untuk bersemangat melayani masyarakat karena pelayan yang sesungguhnya adalah yang berguna bagi masyarakat. Satu yang terus memacuku, "Orang yang ingin besar memulainya dari hal-hal kecil." Itu kesimpulanku. [MT]

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara- perkara besar.

Selasa, 07 Oktober 2008

Farisikah Aku?

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begii: "Ya Allah aku mengucapsyukur kepada-Mu karena aku tidak sama sperti orang lain... aku berpuasa, aku memberikan sepersepuluhan ... (Lukas 18:11-12)


Dalam perumpamaan ini, dikisahkan tentang dua orang yang memasuki Bait Allah untuk berdoa. Yang satu adalah orang Farisi. Seperi Farisi pada umumnya orang ini terkenal dengan kesalehannya, ibadah dan ketaatan melaksanakan hukum Taurat dan segala aturan tambahannya. Yang satu lagi adalah seorang pemungut cukai. Golongan ini dinilai orang yang munafik dan pendosa. Munafik karena mereka menjadi kaki tangan penjajah untuk memeras orang dari bangsanya sendiri. Karena itu anggapan bahwa mereka adalah sampah masyarakat, orang-orang berdosa, orang-orng yang tidak jujur selalu dijatuhkan kepada mereka.

Orang Farisi berdoa. Doanya adalah doa yang cukup egois. Seluruh isi doanya bersumber pada dirinya sendiri. Terima kasih Allahku, aku tidak seperti orang lain, perampok, orang lalim, pezinah dan terutama tidak seperti pemungut cukai itu. Dan tentunya, aku berpuasa dua kali seminggu walau sebenarnya cukup sekali seminggu. Lagipula aku memberi persembahan persepuluhan. Seandainya ini bukan sebuah perumpamaan, dan akulah sipemungut cukai itu, mungkin aku akan lebih tertuduh lagi.

Si pemungut cukai sebaliknya tidak berani masuk ke dalam pelataran Bait Allah dan bahkan takut menengadah ke langit. Ia memukuli dada tanda menyesal, dan mohon ampun. Doanya adalah permohonan agar Tuhan mengasihani dan mengampuninya. Sungguh sebuah doa yang jujur kepada Allah.

Untung kisah ini hanyalah sebuah perumpamaan. Yesus menujukannya bagi mereka menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain (ayat 9). Mereka yang oleh karena pelayanan kepada Tuhan kemudian menganggap manusia lain sebagai sampah termasuk dalam golongan ini.

Saat membaca dan merenung bagian ini, aku teringat pengalamanku berjemaat dan melayani. Berapa banyak pemuda GMIT yang adalah anggota Vocal Group, tetapi malam minggu, beberapa jam sebelum tampil menyanyi, begadang sambil mabuk. Berapa banyak majelis yang tidak menghadiri ibadah minggu karena alasan semalam mabuk. Aku teringat ibadah pemuda sbtu lalu, pengurus pemuda kami tidak hadir karena alasan teler. Ya Tuhan Farisikah aku? Tapi tidak. Aku memang bukan orang yang paling suci di antara mereka. Tetapi kewajiban untuk mengingatkan perlu dilakukan. Tuhan tolong aku.

Sabtu, 04 Oktober 2008

WONG TIMOR NJAWANI?


Aku lahir dan besar di pedalaman pulau Timor. Tepatnya di sebuah kampung tradisonal bernama Bisnaen, Desa Ajaobaki, Kec. Mollo Utara, TTS, NTT. Menjangkau kampung tempat aku dilahirkan dari Kupang berjarak 132 Km. Sesudah turun dari alat transportasi modern, kita harus menuruni jalan setapak sekitar dua kilometer, menyusuri sungai dan baru kemudian tiba. Bisa disebut aku produk asli Timor dan tidak akan bermimpi disentuh oleh teknologi dan budaya lain. Boleh juga disebut sebagai tradisonal. Tapi sejak berangkat ke Jawa untuk studiku, apalagi sejak tinggal di Jogja sejak 1999 aku mulai bersosialisasi dengan orang dari suku yang menurutku kebiasaannya sangat beda dengan sukuku. Suku itu adalah Jawa. Aku kemudian mulai belajar cara hidup mereka, maklum aku tinggal di pinggiran pada awal-awalnya. Syukurlah, aku dapat belajar banyak hal dari tempat-tempat yang aku sambangi. Adapun tempat-tempat yang pernah aku sambangi adalah Dukuh Krajan, Desa Dlingo, Mojosongo, Boyolali. Di sana aku mengabdi bersama seniorku Pdt. Edizon Dakkabesi di sebuah jemaat kecil. Aku tinggal di rumah masyarakat di sana. Nama yang layak disebut adalah Keluarga Winoto. Komunikasi mereka sehari-hari menggunakan bahasa Jawa. Syukurlah, Mas Mul anaknya menjadi teman yang baik selama aku tinggal bersama mereka.

Aku juga pernah tinggal di dukuh Mutihan di sebelah selatan kantor Kecamatan Kalasan. Di sana aku hidup seperti orang dusun Jawa pada umumnya. Aku menginap di rumah keluarga Asmodimedjo. Masakan tradisonal Jawa hasil masakan Mbah Asmo putri adalah menu andalan kami setiap hari. Dalam tahun-tahun kesulitanku menyelesaikan skripsi, keluarga Pak Sugianto dan Ibu Handayani di Cupuwatu II Kalasan menjadi tempat aku bernanung. (Bagian ini aku tuliskan saat Once Dewa menyanyi di Radio yang sedang aku dengar, .....manusia bisa mengambil hikmah.....). Memang aku pernah tinggal di sebuah kampung bernama Nambangan bersama sebuah keluarga Manado, tapi pergaulannya sangat Jawa. Disinilah aku kenal dengan Mbah Roto, yang cucu perempuanya pernah "singgah di hatiku" selama lima tahun terakhir.

Tempat yang paling lama aku sambangi dan tinggal di sana adalah Dukuh Belang, Terbah, Patuk, Gunung Kidul. Keluarga-keluarga di sana yang 'menghidupkan' bahasa Jawaku adalah Mbok Karjo, Pak Karjo Suwito. Bahkan Mbok Karjo sudah kuanggap mbokku dewe. Selain itu keluarga Pak Panut, Pak Mulyono dan Pak Yatno juga Yanto Ragil adalah yang mengambil bagian di dalam menumbuhkan dan membesarkan bahasa Jawaku. Tidak lupa juga aku sebutkan, nama seorang kakek yang ibadah pemakamannya didaulatkan kepadaku. Almarhum Mbah Sumo. Pergaulanku dengan muda-mudi 'mBelang' membuatku semakin enjoy bahasa Jawa. Mas Sugeng Susilo, Mbak Roy, Mbak Pur, Mas Kris dan Mas Gunarso. Juga anak-anak kecil yang aku bimbing "memaksaku" untuk mau tidak mau berbahasa Jawa. Perkenalanku terhadap keluarga-keluarga ini atas jasa Panjenenganipun Pendeta Peter Suryadi, S.Th. Memang harus kuakui, selama bersama mereka, komunikasiku adalah Bahasa Jawa ala wong Kupang. Tapi syukurlah aku dpat bertumbuh dalam bahasa juga selama membantu mengabdi kepada Gusti di Gunung Kidul.

Dasar dari semua ini bermula dari Daniel Kris Maryanto dan Dwi Kuncoroyatno, dua konco lawasku di tingkat satu STII Yogyakarta. Nama yang kusebutkan belakangan akhirnya pindah ke UKSW di Salatiga. Tapi sebelum pindah, dia pernah membawa aku untuk mampir dan menginap di Kauman Salatiga, tempat ibunya yang seorang janda tinggal. Selain nama-nama di atas, orang yang juga turut berpengaruh dalam membuat aku senang dengan budaya Jawa adalah pak Paringono. Nama ini di Jawa berarti Berilah. Semacam permintaan untuk dikasihani. Mungkin karena dia mengasihani aku untuk tidak merasa asing saat di pelayanan di Gunungkidul, jadi Pak Paring - demikian kami memanggilnya- selalu memutar wayang dari radio kesayangannya GCD FM setiap malam jumat. Kesenangannya akan wayang ini juga yang akhirnya membuat aku, teman sekamarnya dulu di Asrama Simson di dukuh Juwangen lama-lama suka dengan wayang. Paling tidak sebagai pengantar tidur. Karena bahasanya sangat membingungkan. Segmen yang paling kugemari adalah goro-goro.

Selama berada di Jawa, aku juga sering terlibat dalam kebiasaan masyarakat desa. Aku bahkan pernah diundang datang ke Kenduren yang hampir semua yang hadir adalah Muslim. Aku malah dipercaya duduk di sebelah pembaca do'anya (pak Mudin). Selain itu menonton wayang di balai desa semalam suntuk (di desa Terbah), menonton campursari dan ikut gotong-royong serta rapat dukuh pernah aku ikuti. Syukur sekali lagi, semua itu menolong aku bertumbuh dalam budaya dan bahasa. Walaupun bahasa Jawaku sampai sekarang masih belum sempurna tapi paling tidak aku dapat menjawab orang yang berbicara denganku dalam bahasa Jawa.

Semua ini kuceritakan karena sejak dua tahun terakhir ini, radio Suara Kupang, tempatku mengabdi meminta aku untuk mengasuh program lagu dan informasi tentang Jawa bagi komunitas Jawa di Kupang. Nama programnya "Mozaik Nusantara," dengan lagu-lagu Jawa. Sampai sekarang program ini masih terus berjalan. Aku masih mengasuhnya dan aku berterimakasih, karena pengalamanku tinggal di desa di Jawa menolong sekali untuk karierku.

Jika tidak berlebihan, satu hal yang ingin aku ambil hikmahnya, hal-hal kecil di dalam hidup yang kita belum lihat manfaatnya sekarang, jika ditekuni, suatu saat nanti akan bermanfaat. Hikmat akan mengenakan karangan bunga yang indah di kepalamu, dan mahkota yang indah akan dikaruniakan kepadamu... Bila engkau berjalan, langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung. (Amsal 4:9,12). [MT]

Jumat, 03 Oktober 2008

Namaku Medison - Nama Pemberian Orangtuaku


Medison. Itu Namaku. Aku tidak pernah menanyakan arti namaku itu sebelum menyelesaikan S1-ku di STII Yogyakarta. Saat aku kembali ke kampung halaman di desa Ajaobaki, aku bertanya kepada ayahku, kenapa nama itu diberikan kepadaku? Tanpa menjawab pertanyaanku, ayah balik bertanya: "Apakah nama itu jelek?" Aku tidak mau mengatakan kepadanya apa yang aku pikirkan, karena aku tidak ingin beliau tersinggung. Sebenarnya apa yang mendorong aku untuk bertanya tentang arti namaku kepada Papa?

Awalnya waktu aku SD. Saat mengikuti lomba bidang studi SD tingkat kecamatan Mollo Utara, teman-teman dari SD lain bertanya, "Namamu siapa?" Aku menjawab dengan PeDe, "Medison." Mereka menertawakan aku dengan nama itu. Apa salahku, pikirku. Tapi aku tidak pernah memikirkan itu lagi. Saat aku duduk di SMA 1 SoE, aku baru tahu kalau arti nama itu adalah merek sepatu. Dan saat studi di STII Jogjakarta juga aku semakin kaget karena Medison adalah obat penumbuh Rambut Botak. Astagaaaaaaaa....Sedemikian terpurukkah aku?

Kontras dari itu semua saat aku nonton tinju. Katanya acara itu disiarkan dari stadion Madison. Itukah sebenarnya namaku? Seorang teman kemudian memberitahu aku bahwa nama itu adalah nama salah seorang mantan Presiden Amrika serikat. Aku sudah bangga dengan namaku. Bukan karena itu sebenarnya dasar kebanggaanku. Apapun namaku, nama itu sudah aku pikul selama 28 Tahun sampai 2008 ini. Aku bangga dengan namaku. Salah satu kebangganku karena namaku unik. Selama SD-Kuliah, tidak ada satu orangpun yang bernama sama dengan aku. Apapun namaku, yang aku tahu, papaku yang "wong ndeso" ternyata bisa memberi nama "Wong Londo" itu kepadaku.

Hari ini aku bangga memperkenalkan namaku. Medison Tanesib. Nama belakangku itu adalah karena aku lahir dari sebuah keluarga Timor. Aku bangga dengan namaku. Dan bangga menjadi orang Timor. Tidak selamanya orang Timor "ndablek." Paling tidak karena Papaku memberi nama itu.

Karena itu sobat, kenalkan... Namaku Medison