Sepanjang bulan Maret dn April, saya sangat bersyukur karena ada banyak hal yang Allah kerjakan dalam hidup saya. Paling tidak, ini terbaca dari SMS yang dikirimkan kepada saya. Berikut beberapa SMS,
Syalm k2, gmana dgn t4 mgang d kupang? Msh bermnt? Keadaanx tggl dknfmskan kepdt untuk disetujui. Klw berminat b tnggu jwbnnya, t4 d Oelon grj GMIT usi apakaet
085739832xxx
Slmt mlm kak Soni, bt mau ttip ucpn slmt Ultahbesok untk Pak Medison Tanesib, jgn lupa o, bsk pg dibca dan didoakan. Sekian dan trimakasih,TYM
081237978XXX
Happy b'day...pjg umur, enteng jodoh, cepat nikah.. adi meak jangan nangis ya..
085239337xxx
Kebahagiaan datang dari hati, mnglir dalam jiwa n memancar dalam senyuman. Temukan kebahagiaan pd setiap hal yg kamu jupai dalam hidupmu, ciptakan senyumansebagai tanda syukur tuk semua sebagai rasa bahagiamubuatlah dunia tersenyum dengan senyuman hari ini. Mat ultah Mas semoga panang umur, diberkati Tuhandalamsetiap rencanayang sementara dan akan datang
081339286xxx
Comment : Wah ini SMS terpanjang neh... BTW thanks yah Mas Yanto!!!
Bgn..bgn..bgn..adaseorang bayi lahir... Hehehe. Happy b'day y h2. Smg pnjg umur, dbrkti Tuhan ms dpn, plynn, cita2 n cinta. Hdiah dr B Mas, Kemenyan dan Mur. Hehehe
085339008xxx
Hari KeMarin is KeNangan,Hari ini isPeristiwa, and Hari Esok isTandaTanya, met Ultah Panjang Umur, disayang kel, shbt, orng yang disayangi tutama TUHAN and sukses dalam segala hal.
08525304XXX
Comment : Lho, bahasa Inggrisnya kok dikir - dikit doang. Artinya lilel2 sih i can...
Tuhan mengecupmu dengan sinar mentari pagi. Dia mengulurkan tangannya menggapaimu dan mengajakmu berjalan bersamanya hari ini. Gapailah tangannya melalui doamu. Mat Ultah, panjang Umur diberkati Tuhan, sukses dalam tugas dan pelayanandan cepat dapat Jodoh ya..
08523938xxx
Comment : Jodoh lagi didoain... Syukurrrrrrrr
Slmt ultah, pjg umur Tuhan Yeus berkati dalam segala hal
0812379xxx
Pg met ltah smga bertmbh hkmt N d berkati pelayanan, pekerjaan n enteng jdhnya. Gbu
0856610419xxx
Mat Siang, Tadi jam 9 yadi pu Mama melahirkan. Nona.
08133909xxx
Comment : Dapat anggota keluarga baru oiii,,,,
Mat siang,pak dimana? Tadi b pi di pak pung kos tapi sonde ada jadi pulang dengan kosong.
08525345xxx
Comment : Ini mah orang mau konsiltasi skripsi..
Kami turut berdukacita atas dipanggilpulangnya opa ke pangkuan Bapa di Sorga untuk istirahat
081347270xxx
Pdt. Paulus L
Comment : Ada yang lahir, ada yang meninggal, ada yang ulangtahun. Dinamika Hidup
Shalom bro,Om Jhony Fanggidae pung istri ada masuk RMH SKT.
085239337xxx
Yah.... Dinamika Hidup. Trimakasih Tuhan karena engkau mampukan aku menjalani semua ini....
Selasa, 05 Mei 2009
Jumat, 20 Maret 2009
TANGGA KE 29

Aku terkesima dengankata-kata lagu, "hidup bukan karena hari, hidup hanya karena arti." Mataku berkaca-kaca saat nyanyian ini menjadi nyanyian lagu pertama dalam acara worshipline (SEBUAH ACARA DO'A di Radio SKFM )malam ini.Dalam hatiku muncul berbagai macam perasaan. Salah satunya adalah tentang beratnya jalan-jalan hidup yang aku lalui. Jalannya memang tidak mudah. Berkelok-kelok. Kadang ada tanjakan yang tinggi yang aku tidak dapat ketahui, kapan puncak dapat aku capai. Kadang begitu menukik curam dan penuh dengan bahaya. Tetapi satu hal yang pastu, di tengah-tengah berbagai gelombang dan prahara hidup itu, aku sudah tudak sendiri lagi. Sejak usiaku 17 Tahun aku menyadari sepenuhnya bahwa aku tidaklah sendiri lagi. Ada "Tangan yang kuat" yang menuntun aku.
Sambil aku menuliskan bagian ini, lagu-lagu mazmur 23 terus mengalun dari speaker di depan meja siarku. Tuhan adalah gembalaku, Takkan kekurangan aku, Ia membaringkan aku, di padang yang berumput hijau. Ia membimbingku ke air yang tenang, ia menyegarkan jiwaku, Ia menuntunku ke jalan yang benar oleh karna nama-Nya sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman.
Tuhan, terimakasih untuk tangga ke 29 yang aku injak sekarang. Di bawah tangga-tangga ini terlihat tangga-tangga yang pernah aku tapaki. Ada banyak hal, tapi kalau engkau masih memberi aku kesempatan untuk hidup, biarkan aku menapaki tangga-tangga itu dengan tangan-Mu. Aku ingin tangan-Mu menggandeng aku terus, sampai maut menjemputku. Aku masih ingin melayani engkau Tuhan. Bimbing aku supaya terang-Mu semakin nyata dalam tapak-tapak kecilku ini.
Jumat, 27 Februari 2009
KIAT MENGHADAPI MASALAH ALA NAAMAN

Masalah dalam hidup manusia adalah bumbu-bumbu kehidupan. Istilah ini pernah saya dengar dan terrekam persis dalam benak. Tetapi seiring persoalan yang bertubi-tubi, rekaman yang tersimpanpun mulai memudar bahkan hilang. Saat masalah kehidupan menghimpit, fokus seringkali tidak jelas. Ini saya alami sendiri sejak awal 2009 ini, sampai suatu hari seorang rekan pelayan meminta saya untuk membawakan firman Tuhan di gerejanya di Kupang. Dalam benak saya, saya ingin sekali membawakan tentang Naaman. Ini karena akhir-akhir ini saya sedang menggeluti sebuah bacaan kecil. Buku ini juga saya temukan secara tidak sengaja di timbunan sampah-sampah bekas angkutan barang-barang yang dibenahi saat banjir lumpur menimpa rumah keluarga Banfatin (om saya) di Toineke. Secara tidak sengaja saya menemukan sebuah buku usang yang sudah kumal dan kekuning-kuningan dengan ejaan lama. Saya membaca-membaca- dan membacanya dan sangat diberkati dengan kehidupan isi buku kumal ber-ejaan lama ini.
Ketertarikan saya untuk mengkhotbahkan tokoh Naaman karena ia menghadapi masalah yang besar. Naaman seorang panglima yang tentu punya banyak bawahan; Ia juga seorang yeng terpandang dihadapan Tuannya dan dikasihi, bahkan ia disebut-sebut sebagai pahlawan. Sayangnya dia sakit kusta. Penyakit Kusta menurut Imamat 13:45 menyebabkan orang yang menderita itu harus diasingkan,bahkan mengenakan pakaian yang sobek-sobek dan tinggal di pembuangan. Sayang sekali, Naaman terancam di "ekstradisi" dari lingkungan kerajaan tempat ia sangat dihormati. Ini masalah yang dihadapi Naaman.
Tetapi bacaan ini membawa saya kepada tokoh kedua yang tidak terlalu istimewa. Dia seorang gadis (yang kesaksiannya mungkin tidak akan dipercaya), seorang anak (ingusan), dan seorang budak Naaman pula. Hebatnya, gadis kecil ini punya iman bahwa nabi di Samaria itu "tentulah" atau dalam terjemahan lama "niscaya" mampu menyembuhkan. Inilah iman. Iman yang tidak dimiliki orang gede-an tapi oleh seorang anak kecil yang sederhana muncul iman itu. Iman yang kita miliki dapat menolong kita untuk memberi solusi bagi orang yang bermasalah.
Faktor kedua menurut catatan dari perenungan saya adalah kesiapan batin. Ketika berangkat mengikuti saran untuk memperoleh kesembuhan, Naman mempersiapkan 10 talenta perak, 6000 syikal emas dan sepuluh potong pakaian (harta)ia juga membawa surat (administrasi baik) dan diplomasidengan raja. Tapi Dia tidak siap bathin katika sesampainya di Israel, raja bahkan memintanya menghadap Elisa dan Elisa pun tidak mau menemui dia selain menyuruh bujangnya menemui Naaman. Perbuatan ini membuat Naaman gusar (ay.11) dan panas hati (ay.12). Saya menyimpukan bahwa kesiapan bathin tidak ada dari Namaan dalam memahami solusi Alah. Dalam sebuah masalah, kita harus menyiapkan bathin yang kuat. Saya refleksikan dengan diri saya sendiri.Bebebrapa aktu lalu secara fisik, dan administrasi saya berpikir bahwa mustahil saya akan diganti dari jabatab saya, tapi saya tidak secara psikis dan bathin siap untuk diganti sampai saat pergantuan itu datang. Saya benar-benar diganti. Saya bersyukur, malam itu saya mendapat sebuah kekuatan bathin.
Dan hal ketiga adalah harus menjalani proses. Naaman bisa saja mandi di Parpar dn Abana yang lebih bersih, tapi prosesnya adalah, Ia harus datang dan sampai di Israel dan mandi di sungai Yordan. Supaya Ua tahu bahwaUsrael ber-Allah. Proses harus dijalanunya. Dan saat Naaman menjalani proses itu maka, pulihlah tubuhnya kembali seperti seorang naka dan iamenjadi tahir (ay.14).
Dengan demikian selesailah masalah Naaman, dan selesailah saya menulis point ini karena waktu sudah menunjukkan jam 00.41 sekarang. Saya harus segera tidur karena pagi hari jam 04.55sudah harus bangun dan bercuap-cuap kembali di Sambut Pagi Radio Suara Kupang.
Apapun yang terjadi, saya mendapat sebuah makna penting untuk hidup. Kalau menghadapi sebuah masalah, ingat tiga hal : (1)Iman adalah modal; (2)Kesiapan Bathin;(3)Menjalani Proses. [MT]
Kamis, 05 Februari 2009
TOLONG...SAYA KECOPETAN ... (di Kupang)

Baru saja pelajaran tentang cara menafsir Alkitab selesai, saya bergegas pulang. Dengan berjalan kaki + 1 Km ke jalan raya untuk akhirnya menumpang angkot, saya masih sempat membalas SMS dari seorang siswi binaan STII. Dia bertanya, "kalau seandainya Yudas tidak menjual Yesus, apakah yang akan terjadi dengan kamu?" Telfon genggam saya saya isi di kantong tas dan dengan sekali panggil, angkot yang akan saya tumpangi segera berdiri. Mata saya masih sempat mengawasi dua atau tiga orang di atas angkutan kota yang saya tumpangi. Beberapa orang mahasiswa duduk di kursi yang berhadapan dengan saya. Sementara di samping saya, duduk seorang kakek. Saya menduga dia pengungsi. Jalur yang saya lewati adalah jalur pengungsi Tim-Tim. Dalam perjalanan, beberapa mahasiswa turun dari angkot tapi saya rasa, tidak pernah berkurang penumpang di dalam. Beberapa kali saya merasa, kakek yang duduk di samping saya seolah "mendorong" saya. Naluri "jawa" saya muncul. Jangan-jangan kakek itu akan mencopet. Tapi segera saya tepis anggapan itu. "Masa,sih.. di kupang ada copet. Kayak bis jogja - Solo atau Kartosuro - Semarang aja.." Setelah turun angkot, saya memanggil ojeg, yang kebetulan ada di mana saja di Kupang, untuk tiba di kost saya. Dengan kelelahan dan rasa kantuk yang dalam saya membuka pintu, masuk dan siap untuk istirahat siang. Sekedar untuk memastikan apakah ada pesan yang masuk, saya mencari telpon seluler saya, tapi astaga.... Sesudah bongkar sana sini, tidak saya temukan lagi....
Handphone itu raib di Bemo tadi. Saya baru sadar, copet ternyata tidak hanya ada di Semarang, terutama di Pedurungan dalam bis menuju Kartosuro. Waktu itu alih-alih menjual koran, dia merogoh kantong saya, beruntung tidak ada uang atau barang berharga lainnya di sana. Salah sasaran. Seharusnya ia tidak mencopet pada anak kost seperti saya. Ehehehe... Ketipu dia. Tapi sekarang hal itu terjadi di Kupang, kota propinsi kecil yang sepi pengamen. Ternyata mental jelek tidak harus di kota Besar. Sekarang, sayalah korbannya, tanpa HP. Susah menghubungi siapapun. Saya dapat merasakan sekarang bagaiamana orang yang dikarantina tanpa HP dan bagaimana orang yang meminta dukungan doa dari saya karena kehilangan. Tuhan kuatkan saya... Amin.
Jumat, 09 Januari 2009
KUNING DAN 2009
Trend warna 2009 menurut beberapa orang yang berkecimpung di dunia urus-mengurus warna 2009 adalah kuning. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang gampang percaya dengan ramalan atau hal-hal yang berhubungan dengan ramalan itu. Tetapi warna nampaknanya memberi makna tersendiri bagi suatu peristiwa. Awal 2009 ini saat berkunjung ke rumah Om, saya ditegur karena semua pakaian saya berwarna hitam. Itu memang yang saya bawa, sekedar untuk menghindari kelihatan kotor dari pakaian. Maklum, maunya simple dan tidak membawa banyak pakaian saat liburan. Di awal tahun ini, beberapa teman mengajak untuk seragam kuning. Sebagai orang yang ingin menunjukan kekompakan dengan teman-teman, sayapun mengenakan baju kuning saya sebagai tanda solidaritas. Ternyata mereka main jepret-jepretan. Jadilah pasukan kuning.
Tapi Mimosa menggambarkan kuning peneduh yang “hangat dan erat” dan disebut mewakili harapan dan optimisme. Satu pesan besar seiring keuangan tahun tersebut tak stabil!
“Kuning menunjukkan kehangatan dan kualitas penaungan matahari, semuanya perangkat kita sebagai manusia yang secara alamiah menarik untuk menjamin keselamatan,” tutur Leatrice Eiseman, Direktur Eksekutif Pantone Color Institute, kepada Marketwatch.com “Mimosa juga banyak menyuarakan pencerahan, sebagaimana warna-warna terang yang memercikkan imajinasi dan inovasi.”
Mudah-mudahan keakraban yang hangat di antara teman-teman kerja akan terbina di tahun 2009 ini Aminnnn amin.
Tapi Mimosa menggambarkan kuning peneduh yang “hangat dan erat” dan disebut mewakili harapan dan optimisme. Satu pesan besar seiring keuangan tahun tersebut tak stabil!
“Kuning menunjukkan kehangatan dan kualitas penaungan matahari, semuanya perangkat kita sebagai manusia yang secara alamiah menarik untuk menjamin keselamatan,” tutur Leatrice Eiseman, Direktur Eksekutif Pantone Color Institute, kepada Marketwatch.com “Mimosa juga banyak menyuarakan pencerahan, sebagaimana warna-warna terang yang memercikkan imajinasi dan inovasi.”
Mudah-mudahan keakraban yang hangat di antara teman-teman kerja akan terbina di tahun 2009 ini Aminnnn amin.
Senin, 05 Januari 2009
SELAMAT DATANG TAHUN "PERJUANGAN MASA DEPAN"

Beberapa jam sebelum lonceng gereja berdentang di seluruh pelosok pulau Timor sebagai tanda bahwa tahun lama telah berlalu, saya masih ada di perjalanan pulang ke kampung halaman saya. Sukacita besar saat bertemu dengan mama dan Papa setelah lama tidak jumpa. Ini tradisi akhir tahun saya. Pulang kampung, walaupun saat study saya tidak pernah melakukan tradisi ini.
132 Kilo untuk ditempuh bukanlah perjalanan yang menyenangkan bagi saya. Apalagi harus berganti-ganti kendaraan sebelum akhirnya sampai di rumah. Setelah sampai, pekerjaan pertama adalah sekedar bercerita tentangkeadaan "kelabu" 2008 dan sekedar info tentang perihal adik-adik dalam kuliah dan kerja mereka. Baju saja hendak sedikit beristirahat, penanggungjaab gereja memberitahu jika kebaktian malam akhir tahun (baca :kunci tahun) akan diadakan jam delapan malam dan saya diminta memimpin ibadah ini. Sebenarnya saya juga ingin menolak. Tapi saya teringat motto study dulu : "beritakanlah firman tuhan itu, baik atau tidak baik waktunya." Cuaca desa kelahiran yang sangat dingin menambah rumit persiapan khotbah tutup tahun. Tapi dua jam menjelang ibadah dimulai semua persiapan diselesaikan dengan baik. Puji Tuhan.
Malam hari itu saya berkhotbah dari kitab Pengkhotbah 3. Untuk segala sesuatu ada waktunya. Memulai khotbah saya, sebuah ilustrasi saya pakai sekedar mengingatkan jemaat bahwa setiap manusia diberi satu pensil dan sebuah lembaran untuk ditulis. Tetapi manusia tidak pernah diberi penghapus untuk menghapusnya. Apa yang dialami dalam rentang waktu satu tahun tidak bisa dihapus kembali. Tulisan itu sudah terjadi. Kerena itu yang harus dilakukan manusia adalah merasa bahwa inilah waktu yang tepat untuk merefleksi diri. Merasa bahwa hidupnya memang tidak harus selalu menangis. Ada waktu untuk bergembira. Saya juga mengingatkan bahwa sepanjang 2008 sudah ada berapa banyak orang yang tiada tetapi kalau kita masih hidup, itu karena anugerah. Tapi kita harus selalu mengingat bahwa sebagaimana ada waktu untuk hidup maka ada waktu untuk mati. Saya melihat bahwa waktu yang akan segera berlalu (2008) tidak bisa diulang kembali. Yang perlu bukan meratapi, tapi meresapi dan berupaya untuk berbuat yang terbaik di 2009.
Pergantian tahun kami rayakan dengan sangat sederhana. Berdoa bersama dan mengunjungi kakek yang sudah sangat uzur dan berdoa bersamanya sebagai wujud syukur kehidupan. Malam itu dalam kesederhanaan, saya bersyukur bahwa akhirnya berbagai kemelut di 2008 dapat saya lewati. Lebih dari itu fokus saya di 2009 mulai saya tetapkan. Harus ada beberapa persoalan mengnai masa depan yang harus saya lakukan. Langkahnya dimulai dari malam itu.Sambil diiringi ucapan selamat dari beberapa kawan yang bergetar terus saya bersyukur dan merasa bahwa 2009 adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. Dengan demikian 2009 saya sebut selamat datang tahun Perjuangan Masa Depan.
Minggu, 28 Desember 2008
DESEMBER KELABU

Desember 2008 ini adalah desember yang mengesankan bagi saya. Sebenarnya saya sendiri tidak begitu memahami jalan pikiran kenapa penulis lagu desember kelabu menuliskan lagu itu. Tetapi mungkin kata itu yang tepat menggambarkan suasana hati saya di bulan desember 2008 ini. Bagaimana tidak, awal Desember menyisakan persoalan di bulan November tentang persoalan uang praktikum beberapa orang adik yang kuliah di Jawa.Belum berlalu, masalah radio yang disegel masih menjadi persoalan yang memakan pemikiran saya juga. Penyelesaian mata kuliah Ibrani dua yang minim alat lebih menambah beban ini, ditambah lagi dengan berita bahwa saya juga tidak akan lagi menduduki posisi saya di kampus seperti dulu. Yang terakhir ini sebenarnya tidak terlalu berpengaruh bagi saya, tetapi desember ini diwarnai dengan peristiwa-peristiwa ini.
Tetapi Tuhan baik. Dia tidak pernah membiarkan anak-anaknya sampai tergeletak. Hari ini 28 Desember 2008, hari minggu terakhir 2008 satu persatu dari persoalan ini terjawab. Kami baru saja mensyukuri datangnya 200kilo pemancar baru kami dalam ibadah singkat di studio, dan malam ini akan mulai dikerjakan. Uang adik-adik untuk praktikum diselesaiakan. Dan satu lagi yang menyita pemikiran tentang adik yang bekerja di Surabaya yang tidak memberi khabar juga sudah terjawab lewat telpon dari salah satu keluarga di Bali bahwa Ia sekarang ada di Bali. Satu demi satu persoalan dapat terselesaikan berkat Tuhan. Syukurlah, Desember kelabu itu seharusnya mulai diganti dengan desember Ceria. Trimakasih Tuhan 2008 ini penuh dengan suka duka tapi Engkau membawa saya melewatinya.
Sabtu, 06 Desember 2008
“MANTAN DOULOS”

(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama. Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.
Awalnya aku ingin kuliah di STT Doulos. Keinginan ini juga oleh karena dorongan dari Omku. Sebut saja Marthen Banfatin, Om yang menyayangi aku. Satu-satunya saudara laki-laki mamaku. Tuhan tidak memberi mereka anak, tetapi Tuhan memberi kami seorang Om yang luar biasa yang dapat memahami kami. Puji Tuhan. Suatu hari beliau meminta, kalau kamu ingin kuliah ke Jawa, saya dukung, katanya. Akupun memutuskan untuk ikut perekrutan STT Doulos ke Jakarta. Pikirku, STT Doulos akan sama dengan STT yang lain yang mencetak para pendeta di GMIT, gereja asalku. Setelah keputusanku bulat, aku diantar dengan air mata di pelabuhan Tenau kupang dan berangkatlah aku ke Jakarta. Membayangkan Jakarta dan kampus yang megah, akupun berangkat.
Beberapa hari berlayar, tibalah di Jakarta. Jujur, aku belum pernah membayangkan kota besar. Jangankan Jakarta. Aku bahkan belum pernah menginjakan kaki di kota propinsi kami yang bernama Kupang. Setiba di Tanjung priok, kami dijemput dengan mobil khusu dan diantar ke Cipayung, Jkarta Timur. Langsung hilang bayanganku tentang kuliah di tempat yang nyaman setelah aku melihat dengan mataku sendiri kampus STII Jakarta. Sampai di sana kami dibagi dalam dua rombongan. Sebagian tinggal di Jkaarta dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Bandung. Keindahan pemandangan d Jalanan menuju Bandung sejenak membuat aku lupa akan tujuan utamaku kuliah. Sekitar Jam 11 malam, tibalah kami di satu desa yang sunyi dan gelap. Pada akhirnya aku tahu desa itu bernama Langensari dan kampung tempat kami dibawa bernama Cikidang di kecamatan Lembang, Bandung. Astaga, kami tidur malam itu di ruangan yang bau kotoran ayamnya masih menyengat hidung. Aku tidak tahu persis kalau itu kampus yang dimaksud. Maklum, kami tiba pada malam hari. Besoknya, betapa kagetnya diriku, kami ternyata berada di desa yang terpencil. Sepanjang mata memandang hanya ada gunung dan hutan. Astaga, aku baru sadar, keinginanku untuk melihat kampus yang mewah sirna. Aku tidak bisa pulang karena kemana aku harus pergi, akupun bingung.
Proses perkuliahan berjalan dan aku sadar bahwa ada banyak masukan dan ilmu yang kudapat dari para pengajar. Tetapi banyak keganjilan dalam hal manajemen membuatku bertanya-tanya tentang kejelasan masa depanku menjadi pendeta GMIT. Mungkinkah aku akan menjadi pendeta di GMIT? aH.. aku berusaha menjauhkan pikiran itu. Tapi kembali aku dihantui karena setiap alumni diminta hanya untuk melayani sebagai penginjil dan bahkan melayani di panti rehabilitasi. Aku semakin sadar bahwa keinginanku menjadi pendeta GMIT akan tidak tercapai.
Di tengah kebingunganku itu, STT Doulos kemudian diminta untuk tutup. Beritanya aku baca sendiri keluar di Koran Pikiran Rakyat. Aku kemudian semakin kuatir dengan masa depanku. Dari Bandung, kami dipindahkan ke Jakarta dan dari Jakarta, kami akan dipindah lagi. Aku memutuskan untuk pindah ke STII Jogja walaupun saat aku pamit, aku tidak direstui, bahkan nyaris dipermalukan. Tapi aku bersyukur pada Tuhan aku dapat pembekalan dan mengenal Yesus di sana. Aku kemudian hengkang ke STII Jogja yang membentukku sampai menjadi yang sekarang, walaupun belum tidak menjadi pendeta, aku enjoy melayani sukarela di GMIT. Demi pekerjaan dan kecintaanku pada Tuhan
PAPA . .

(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama saya pada 29 September 2008).Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.
Ayahku seorang Petani. Papa Oktovianus Tanesib. Petani, di daerah lain mugkin bisa diandalkan. Tapi di Timor? Petani jauh dari bayangan. Papaku lahir dari sebuah keluarga Besar. Papaku anak pertama, disusul papa Yunus Tanesib, Tante Ully, Tante Koba, Tante Yanse, Bapak Yulius, Tanta Sin dan yang terakhir hampir seumuran aku namanya Nitanel. Sebagai anak pertama dalam keluarga, papaku harus berpikir tentang adik-adiknya. Tapi puji Tuhan, semua adiknya sampai sekarang “Takut Tuhan.”
Walaupun kondisi ekonomi keluarga kami sangat minim, satu hal yang menarik dari papaku, sejak muda, dia sudah melayani Tuhan. Awalnya dia hanya menjadi syamas, kemudian menjadi penatua,dan kemudian menjadi Penanggungjawab gereja. Tugas ini cukup berat. Maklum pendetanya hanya satu orang, sedangkan gerejanya ada sembilan dengan jumlah jemaat masing-masing gereja, ratusan bahkan ribuan. Papaku 18 tahun melayani Tuhan sebagai pelayan syamas, penatua bahkan Penanggungjawab.
Mungkin gara-gara itu, kami mulai di ajar sejak kecil untuk tertib secara rohani. Aku ingat, kamidibiasakan untuk bangun jam 5 pagi, duduk bersama-sama kemudian berdoa sebelum kami melakukan pekerjaan. Desa kami, Ajaobaki adalah satu desa di Kapan, kecamatan Mllo Utara yang sangat dingin. Bangun di jam itu sama dengan menyiksa diri. Tapi disiplin ini mengarahkan kami dan akhirnya kami juga belajar takut akan Tuhan. Walaupun sampe sekarang masih juga terus belajar. Tapi bagi aku, apaku adalah fondasi iman dan panggilanku sebagai pelayan Tuhan.
Aku ingat, papaku sungguh-sungguh berjuang untuk kami. Semasa kecil aku ingat, papaku berdagang buah-bahan dan hasil bumi. Hasil bumi yang dijualnya adalah ketumbar, bawang putih, dan buah unggulan Kapan, Apel. Dulu seingatku, buah Apel adalah produk di kapan. Sayang, sekrang sudah musnah… tanpa bekas bahkan. Dengan hasil berdagang, kami dibelikan pakaian ala kadarnya untuk bersekolah di SD. Menghidupi kami dengan sarapan bubur setiap pagi sebelum ke sekolah, dan biaya lain. Yang sangat membuat aku terharu, saat aku SMA, papakuyang tidak pernah mengena mengenakan celana panjang, berusaha membelikan sebuah celana panjang untuk aku. Aku malu-malu mengenakannya (maklum belum pernah bercelana panjang). Tapi astagaaaa… celana itu kebesaran dan kedodoran karena dibeli tanpa ukuran. Tapi syukurlah. Aku semakin sadar. Walaupun papaku seorang petani, ia menginginkan kami untuk menjadi lebih baik darinya. Aku ingat dulu papaku pernah berkata, kendatipun aku tidak pernah belajar Alkitab, anakku harus mengerti tentang Alkitab dengan belajar. Terimakasih Papa.
Sekarang aku belum bisa berbuat sesuatu untuk papaku. Tapi aku akan terus membuat dia tersenyum dan bangga punya anak seperti aku.
DAPATKAH ORANG PERCAYA BUNUH DIRI?

(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama saya pada 2 Oktober 2008).Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.
Pertanyaan pada judul di atas menjadi sebuah pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Paling tidak selama studi di Jogjakarta. Paling tidak, pertanyaan ini muncul karena saya pernah tinggal dan mengabdi di satu daerah yang angka bunuh dirinya dibilang tinggi setiap tahunnya. Gunung Kidul. Di kabupaten yang terletak di selatan Jogjakarta itu, saya membantu melayani segelintir jemaat Kristen. Tepatnya di Dukuh Belang, Desa Terbah, Kecamatan Patuk. Syukurlah, di jemaat ini tidak pernah ada kasus bunuh diri. Tapi saya bertanya, dapatkah seorang percaya bunuh diri? Jawaban atas pertanyaan ini sedikit terungkap saat saya membaca buku karya Charles Caldwell Ryrie berjudul “You Mean the Bible Teaches That.” Ryrie mengatakan:
Dapatkah orang percaya bunuh diri? Tentu saja ia dapat melakukannya, tak pelak lagi orang percaya melakukannya. Tapi beberapa orang mungkin berkata apakah anda yakin bahwa mereka yang bunuh diri adalah sungguh-sungguh orang percaya? Beberapa orang yakin bahwa orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya tidak dapat melakukan bunuh diri, tetapi tidak ada fakta Alkitab yang mengklaim demikian. Beberapa orang yang mempertahankan bahwa seseorang dapat kehilangan keselamatannya berpendapat bahwa jika seorang Kristen mencabut nyawanya sendiri, ia kehilangan keselamatan dan tujuannya adalah lautan api. Bahwasannya orang yang sunggu-sungguh percaya tidak dapat melakukan bunuh diri nampaknya membuka sebuah pertanyaan serius namun hal ini dilakukan banyak orang. Lebih dahulu kita harus memahami bahwa pengalaman bukanlah sebuah tuntunan yang selalu aman. Karena kita tidak bisa memberikan sebuah penghakiman yang pasti tentang orang yang tidak percaya yang bunuh diri.
Adakah contoh-contoh di dalam Alkitab tentang orang percaya yag melakukan bunuh diri? Ryrie memberikan jawaban dengan mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada dalam Perjanjian Baru. Anggapan ini adalah didasarkan pada pendapat bahwa Yudas bukanlah orang percaya. Tetapi di dalam Perjanjian Lama, ada cerita tentang bunuh diri yang dilakukan oleh Raja Saul dengan menggunakan pedangnya sendiri. Apakah Saul adalah orang percaya atau tidak, masih merupakan sebuah perdebatan. Beberapa orang mengambil pernyataan Samuel dalam 1 Samuel 28:19 yang mengatakan bahwa Saul segera bersama dengan anak-anakNya sebagai pernyataan bahwa Saul masuk surga bersama-sama dengan Samuel. Yang lain memahami bahwa pernyataan ini semata-mata bahwa Saul akan segera mati dan pergi ke Sheol yang adalah tempat orang-orang jahat yang sudah mati. Jadi pernyataannya berarti ganda dan kita tidak bisa menyimpulkan bukti bahwa Saul adalah orang percaya yang bunuh diri.
Meskipun demikian, kita mengetahui bahwa orang-orang percaya tidak akan kehilangan keselamatannya karena jenis dosa tertentu. Tidak dapat disangkal bahwa bunuh diri adalah sebuah dosa (karena seseorang membunuh diri sendiri). Tetapi perzinahan dan membunuh orang lain adalah juga dosa yang sama besarnya dengan membunuh diri sendiri. Kita tahu bahwa raja Daud yang melakukan kedua dosa tadi yaitu perzinahan dan membunuh orang lain, tidak akan kehilangan keselamatannya hanya karena ia melakukan dua hal itu (Roma 4:7-8). Darah Yesus Kristus membersihkan kita dari seluruh dosa kita, termasuk bunuh diri.
Setelah membaca tulisan Ryrie, kesimpulannya kembali pada masing masing orang. Dapatkah orang percaya bunuh diri? Menurut aku, mungkin ya. Tapi masuk sorga dan masuk nerakanya orang yang bunuh diri bukanlah sebuah kepastian. Namun seharusnya satu hal yang tegas, Bunuh diri bukan sesuatu yang diizinkan oeh kekristenan.
Pertanyaannya masih menggantung? Komentari…..
AHLI KEPEMIMPINAN DAN KOMUNIKASI

(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama saya pada 23 Oktober 2008).Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.
Salah satu aktivitas harian yang saya lakukan adalah ‘announcing’ pada radio Suara Kupang. Untuk kegiatan ini, saya membutuhkan stamina yang ekstra. Maklum, saya harus tidur lebih malam dari biasanya dan bangun lebih subuh. Setiap harinya kecuali hari week-end, saya baru akan bisa tidur jam 00.00. Ini karena program yang saya asuh adalah “Worship Line,” sebuah program doa online setiap malam di Radio. Program lain yang saya asuh adalah “Sambut Pagi,” yang dimulai jam 05.00. Artinya saya hanya tidur beberapa jam saja. Sebenarnya berat juga bagi fisik saya tapi syukurlah ada keceriaan yang saya peroleh setiap hari bersama dengan orang-orang yang saya temui dan menemui saya via telfon ke radio.
Dalam program yang aku asuh, ada satu sesi yang menjadi konsumsiku setiap hari yaitu paket renungan “bermimpi satu menit.” Program ini dihantarkan oleh Prof. Samuel Tirtamihardja. Radio kami mendapatnya dari kerjasama dengan YASKI. Dalam program ini, ada tips-tips yang diberian untuk dapat lebih efektif dalam hidup setiap hari. Prof. Samuel disebut punya keahlian dalam kepemimpinan dan komunikasi. Pagi ini Jumat 24 Oktober 2008 saat aku memutar program ini kepada pendengar, pikiran saya dibawa kepada kata-kata “kepemimpinan dan komunikasi.” Kedua kata ini membuat saya merenung. Sambil tetap memonitor jalannya lagu-lagu yang saya putarkan di raduga sebelum DJ Talk, saya berpikir, betapa bahagianya karyawan atau bawahan yang pimpinannya mampu berkomunikasi dengan baik kepada mereka. Pikiran ini muncul karena beberapa hari terakhir ini bahkan bulan dan tahun-tahun terakhir, pimpinan kami di tempat kerja lain (bukan radio) tidak punya komunikasi yang baik dengan kami karyawan di sana. Kehausan akan komunikasi yang normal, ramah dan bersahabat juga solutif seolah-olah memenuhi jiwa saya. Seandainya saja beliau mengerti tentang cara yang baik seperti Prof Samuel yang disebut ahli kepemimpinan dan komunikasi. Tapi bagaimanapun, kepemimpinan yang tidak disertai komunikasi yang bertatakrama akan menyebabkan banyak protes dan bahkan ketidaknyamanan.
Seorang pemimpin hanya akan menjadi pemimpin jika ada orang yang dipimpinnya. Karena dia berada di tengah orang lain maka ia harus membuka mulutnya, mengeluarkan suara dari sana dan berbicara dengan orang lain. Tapi dalam mengeluarkan suara, tatakrama dan aturan harus diketahuinya. Seorang pemimpin akan dianggap otoriter jika pada saat salah saja ia menegur dengan keras dan itupun dilakukan di hadapan orang lain. Dia tidk pernah memanggil dan mengkomunikasikan sesuatu secara intern sebelum publikasi. Ini membahayakan. Komunikasi ini juga dalam hal-hal biasa. Contoh sederhana, kalau ada tamu yang ingin mngantarkan sesuatu, saat tamu mengetuk pintu, bukakan pintu dan suruhlah masuk baru menanyakan apa maksudnya. Bukan berteriak dari dalam sementara tamunya di luar dan menyuruh meletakan benda yang diantar di depan pintu.
Tapi Kristus adalah kepala segala pimpinan. Dia tahu apa yang bisa dibuat.
JAMPI STRES

Jujur, beberapa hari ini saya sedang mengalami stress.Bagaimana tidak, sejumlah pekerjaan yang menumpuk, ditambah lagi dengan empat matakuliah yang harus saya asuh, ditambah lagi dengan hubungan dengan beberapa teman kerja yang kurang baik. Sungguh-sungguh membuat saya lelah memikirkannya.Apalagi, pemikiran tentang natal yang semakin mendekat, sementara persiapan untuk sekedar pulang kampung dan uang makan adik-adik yang kuliah di Jawa semakin memperburuk keadaan ini.
Ini bukan kali pertama rasa stress saya alami. Semasa kuliah di Jogja dulu, kondisi ini sering saya alami. Kalau bukan karena kiriman uang yang telat, pasti karena tugas-tugas kuliah yang harus saya kerjakan atau masalah pelayanan. Tapi saya selalu punya kiat sendiri untuk menghilangkan stress. Maklum, kami di asrama dan ada banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satu hal yang saya biasa lakukan ialah dengan bersepeda "onthel" keliling-keliling. Atau keluar pada malam hari dan "jagingan" dengan teman-teman di warung kucing atau lesehan khas Jogja.

Lha itu kalau di Jogja. Ini di Kupang. Bagaimana jampi stress? Tanggal 5 Desember 2008 setelah pulang kuliah, beberapa mahasiswa sedang berdiri di depan ruangan. Saya mendekati mereka dan bercanda, dan salah satu hal yang kami bicarakan adalah apa kiat mengatasi stress. Ibu Rina Foeh, seorang mahasiswa yang mengambil matakuliah di kelas saya menyebut, kalau stress, hal yang sering dilakukannya adalah pergi dari rumah tanpa pamit kepada suami dan meninggalkan anak-anak. Ya sekedar jalan dan setelah itu pulang dengan kesegaran baru. Nampaknya itu juga obat jampi stress saya di Kupang. Beberapa hari lalu saya berjalan kaki sendirian di Jalan Palapa Kupang sore hari, tanpa teman. Setelah lama berjalan, saya rasa stress saya akhirnya hilang.
Okeszone pernah menuliskan pada Jumat,2 Juni 2006: Stres sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan dan biasanya terjadi karena aktivitas sehari-hari, entah itu karena pekerjaan, hubungan dengan kekasih atau masalah pribadi yang membuat Anda terpuruk. Untuk meminimalkan hal tersebut dan mengembalikan senyum di wajah Anda, berikut beberapa cara agar Anda dapat mengatasi dengan sumber stres Anda setiap harinya.
* Kurangi sumber stres. Sebagai contoh, jika berada dalam kerumunan sangat mengganggu Anda, pergilah ke supermarket di mana Anda tahu pasti antriannya tak akan terlalu panjang. Cobalah menyewa video atau DVD daripada menonton di bioskop yang penuh orang. Bereskan hunian Anda dengan memberikan atau menyingkirkan barang-barang yang sudha tak berguna, atau bisa jadi Anda membuka garage sale merupakan salah satu cara terbaik untuk ini.
* Jika Anda selalu terlambat, coba pikirkan bagaimana Anda membagi waktu. Dimulai dengan berangkat kerja, katakan saja butuh 40 menit untuk sampai ke kantor, sudahkah Anda berangkat tepat waktu? Anda dapat menyelesaikan masalah dan mengurangi tingkat stres dengan hanya menjadi lebih realistis. Jika Anda selalu tidak punya cukup waktu untuk seluruh aktifitas penting, mungkin ini sudah suatu pertanda kalau Anda mencoba melakukan terlalu banyak. Sekali lagi, coba buat daftar apa yang Anda lakukan seharian dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan. Kemudian coba sederhanakan.
* Hindari kemungkinan terjadinya stres yang masih bisa Anda prediksikan sebelumnya. Jika olahraga atau permainan tertentu bisa membuat Anda tegang (entah itu tenis atau bridge), tolak ajakan untuk bermain itu. Kesimpulannya, inti dari segala aktivitas haruslah menyenangkan. Jika Anda yakin itu tidak seperti itu, tidak ada alasan untuk ikut melakukannya.
* Jika stres terus tak bisa disingkirkan maka singkirkanlah diri Anda. Menghilanglah sebentar untuk waktu menyendiri. Momen yang tenang ini akan memberikan suatu perspektif baru untuk mengatasi masalah. Jauhi orang-orang yang berpotensi menimbulkan stres. Sebagai contoh, jika Anda tidak cocok dengan mertua, tetapi tidak ingin menjadikannya itu menjadi suatu masalah, undanglah ipar-ipar yang lain di waktu yang bersamaan, kamu mengundangnya. Adanya orang lain di sekitar Anda akan meredam beberapa tekanan yang akan Anda rasakan.
* Bersaing dengan orang lain, entah itu dalam keberhasilan, penampilan atau kekuasaan merupakan sumber stres yang tidak dapat dihindari. Anda mungkin tahu orang seringkali melakukan apa saja yang bisa menimbulkan keirian. Solusinya sebenarnya sangat sederhana, cobalah puas dengan apa yang Anda punya. Stres akibat keirian semacam ini hanya akan merugikan diri sendiri.
* Perangkat kerja seperti handphone atau jaringan komputer, seringkali membuat kita terlalu menjejalkan banyak aktivitas dalam setiap harinya. Sebelum membeli peralatan baru, pastikan itu sungguh-sungguh akan mengembangkan hidup Anda. Berhati-hatilah, karena merawat dan menyervis suatu peralatan dapat menjadi satu faktor pemicu timbulnya stres.
* Lakukan hanya satu macam pekerjaan saja dalam satu waktu. Sebagai contoh, ketika berlatih di sepeda statis, Anda tidak perlu untuk mendengarkan radio atau melihat TV.
* Ingatlah, terkadang tidak ada salahnya jika tidak melakukan apa-apa.
* Jika Anda mengalami insomnia, sakit kepala, demam yang tidak sembuh-sembuh atau gangguan perut, coba lihat apakah stres yang menjadi masalahnya. Terus menerus marah, frustasi atau gelisah akan menurunkan daya tahan fisik kita.
* Jika stres Anda menjadi semakin parah, carilah bantuan para ahli atau terapis. Tanda awal dari stres yang parah yaitu mulai hilangnya akal sehat dan keengganan bangun di pagi hari untuk menghadapi hari yang baru.
Benar juga kata okezone tadi. Mungkin karenannya insomnia saya kambuh lagi. Dan fisik saya sedikit terganggu. Tapi semoga stress ini segera pergi. Jika datangpun sudah ada penangkalnya. Jalan kaki.[MT]
Jumat, 05 Desember 2008
PERJALANAN PANJANG
Hidup hari ini betul-betul adalah anugerah. Anugerah oleh karena jalan-jalan hidup ini sudah dilalu hari ini. Tetapi hari ini sebenarnya adalah satu hari di atas hari-hari lainnya. Banyak jalan setapak yang pernah saya lalui. Banyak jalan berliku yang pernah saya lalui. Banyak jalan menurun bahkan menanjak yang mengeluarkan tenaga untuk bisa ditapaki.Demikianlah kehidupan rohani kita dalam mengarungi perjalanan panjang di dunia. Setiap saat ada berbagai pilihan yang seakan-akan lurus, tapi bisa membuat kita tersesat atau bahkan berujung pada maut. Ada banyak ajaran yang seolah-olah terlihat benar, tapi sebenarnya menyesatkan. Salah satu aliran baru menyatakan kita akan mendapatkan hasil sejauh perbuatan kita. Ini seolah-olah terlihat benar, tapi keyakinan itu bertumpu pada pernyataan bahwa manusia-lah pusat dari segala sesuatu, bukan Tuhan.
Sepanjang-panjangnya jalan yang saya lalui, saya selalu sadar bahwa di hadapan saya terbentang panjang jalan lain yang harus dilalui. Jadi berjalan di jalan-jalan yang kemarin adalah pengalaman untuk melihat kenyataan bahwa jalan masih panjang. Jika pemilik jalan itu masih mengizinkan saya untuk berjalan di jalan panjang itu, maka saya sadar jalan itu masih panjang. Mungkin ada belokan di depan. Namun Tuhan, kuatkan saya di jalan-Mu.
Seringkali saya berdiri, memandang ke depan. Ughh..Betapa jauhnya jalan itu. Di depanku terlihat jelas sebuah lubang kecil di jalan. Tapi lubang-lubang lain sepanjang jalanan ini tidak saya kenali dengan pasti. Kuatkan saya untuk menelusuri jalan ini dengan menghindari lubang berbahaya di perjalananku.[MT]
KURSI KOSONG
Foto di atas diambil di depan tempat saya mengabdikan diri saya. Tempatnya memang masih sangat sederhana karena masih merupakan rintisan sekolah para pelayan Tuhan di Kupang. Saya adalah yang duduk di urutan kedua dari samping kiri. Semua kami yang duduk adalah pengajar di tempat saya mengabdi, STII Kupang. Namun keunikan terjadi. Di tengah-tengah kami, ada satu kursi kosong. Pertanda apakah ini?
Saat melihat foto ini beberapa waktu lalu, teman-teman saya memiliki komentar tersendiri. Ada yang mengatakan bahwa ini ada pertanda kurang harmonis di antara kami yang duduk. Tapi bagi saya, foto ini bukan pertanda buruk. Hanya saja kebetulan saat itu pak Esra Soru yang seharusnya duduk di kursi itu sedang mengambil gambar. Itulah satu-satunya alasan yang masuk akal. Karena itu tidak ada alasan untuk menganggapnya sebagai suatu pertanda kurang baik di antara kami para pengajar. Seorang teman saya yang duduk di depan, sekarang telah menjadi pendeta di Sumba. Dialah Pdt. Yahya Keo,S.Th (orang ketiga yang duduk dari kiri).
Sebenarnya, apa makna "kursi kosong" selama ini?
Kompas 21 Juli 2006 menulis tentang kursi Kosong dalam kaitannya dengan pendidikan: "Ada banyak spekulasi tentang banyaknya kursi kosong pada seleksi PSB 2006 Surabaya. Ada yang menyatakan bahwa banyak calon murid yang tidak mendaftar ulang karena tidak punya uang, jarak sekolah terlalu jauh, mutu sekolah tidak lebih baik dari sekolah swasta, dan masih banyak lagi alasan."
Okezone,31 Maret 2008 menyebut: "Kursi kosong Wakil Ketua DPR yang ditinggalkan Zaenal Ma'arif ternyata sangat sulit diisi. Pasalnya sampai sekarang kursi tersebut masih kosong melompong.Menurut Ketua DPR Agung Laksono saat ini ada tiga formula pengisian yang masih diperdebatkan."
Jadi dari dua hal ini, paling tidak kursi kosong berarti ada usaha untuk meraihnya. Apa arti kursi kosong kami di foto ini? Ah... Lupakan saja.[MT]
Kamis, 04 Desember 2008
LAYANAN PUBLIK YANG MENGECEWAKAN

Peristiwa ini saya alami di salah-dua instansi pemerintah di Kota Kupang. Saat itu saya harus mengurus beberapa surat yang berhubungan dengan legalisasi diri saya sebagai penduduk asli Kupang. Maklum, saya lahir dan besar di sebuah desa di pinggiran kota kecamatan di Kapan. Studi SMA di kota kabupaten di So’e ibukota kabupaten. Tetapi saya belum pernah menginjakkan kaki di kota provinsi, Kupang. Setamat SMA di So’e, saya langsung melanjutkan studi di Lembang, Cipayung dan akhirnya tiba di Jogja. Karena seringnya berpindah, saya bahkan tidak punya KTP yang benar-benar paten. Saya pernah punya KTP sementara di Lembang, KTP local di desa Terbah, Gunung Kidul, tapi tidak di Kupang dan bukan KTP Nasional. Dalam petualangan mencari KTP itulah saya pernah bertemu dengan “tampang-tampang” galak para PNS di Kupang. Pelayanan publiknya memang tidak memuaskan. Paling tidak terhadap saya beberapa waktu lalu.
Waktu itu saya mengetuk pintu ruangan yang akan saya tuju di kantor tempat saya mengurus beberapa surat dengan ramah dan bersahabat. Maklum, keramahan Jogja masih membekas di benak saya. Saya merasa ketukan saya di pintu sudah cukup keras, dan bahkan para pegawai itu sudah sempat melihat saya dengan jelas di depan mereka. Tapi mereka malah dengan santainya mengurus riasan di wajah mereka. Sekali lagi saya bersuara agak keras menyapa dengan ramah’ “selamat pagi!” Tetapi malah dibalas dengan cibiran dan pertanyaan “sapa tuh?” (Dalam bahasa Kupang yang kental). Mungkin itu yang membuat seorang dosen kami dari Jogja Dr.Suroso ketika menginap di salah satu hotel di Kupang pernah berkesan, kalau hotel itu ada di Jogja, mungkin tidak ada yang menginap.
Kembali ke cerita saya di kantor tadi. Tanpa sedikitpun menghiraukan saya membuat saya naik darah. Ingin rasanya saya menmbentak. Tapi akh..biarkan saja. Toh saya ke sini dengan tujuan untuk meminta bantuan. Beberapa saat kemudian, seorang teman yang sekaligus sesepuh kami yang kebetulan bekerja di kantor itu bernama Ibu Erika Pandjaitan datang. Betapa kagetnya ibu-ibu yang duduk di depan saya karena ternyata saya mengenal ibu Erika. Dengan segera mereka berubah wajah dan meladeni saya dengan sopan karena saya mengenal ibu Erika. Segera surat saya diurus dan selesailah suratnya diurus.
Oh.. ternyata mereka hanya akan melayani orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengan mereka. Karena itu tidak salah kalau menyebut bahwa nepotisme di Kupang masih sangat kuat terasa. Kapan itu akan berakhir, saya juga tidak tahu. Tapi semoga nepotisme itu segera berakhir.[MT]
DITOLONG INA SABU

Ini sebenarnya bukan cerita mengenai diri saya, tapi cerita ini pernah diungkapkan adik saya saat kami berjuang untuk bisa berangkat ke Yogyakarta untuk kuliah. Namanya Merci Rosandi Tanesib. Sekarang dia sudah memasuki semester kedua perkuliahannya di FMIPA UKRIM Yogyakarta. Saya teringat kisah ini pasca menelepon mereka tadi pagi dan sekedar menanyakan kabarnya pasca makram FMIPA mereka di Wates. Saya teringat saat awal-awal kami bergumul untuk studinya.
Saat itu menurut om saya, semua peralatannya harus dipersiapkan dengan baik termasuk persiapan pembukaan rekeningnya. Kata Om, rekening harus segera diurus di Kupang karena pembukaan rekening akan terhambat jika sudah samapai di Jogja. Apalagi dia adalah penduduk baru yang tentu membutuhkan kartu identitas baru di tempat baru. Daripada ribet. Om meminta kami menyelesaikan semuanya di Kupang. Sambil menunggu pengurusan ATM-nya di BNI, saya menyuruh dia untuk menunggu sementara saya membeli beberapa peralatan termasuk trevel bag yang akan kami pakai.
Saat saya tinggal, petugas bank meminta dia untuk membayar beberapa rupiah karena kartunya sudah bias langsung dibawa pulang. Astaga… ternyata dia tidak membawa uang, sepeserpun. Dia baru saya bawa ke Kupang sekali. Teman juga belum punya. Tapi Erni tidak kehabisan akal. Di keluar, menyeberangi jalan dan meminjam uang pada seorang nenek penjual dari suku Sabu (Ina Sabu). Puji Tuhan, di Kupang yang kurang ramah ini, masih ada orang-orang yang baik hati yang mau mempercayai orang seperti adik saya dan meminjamkan uang. Ketika saya pulang, dia baru meminta saya untuk segera mengembalikan uang itu.
Pengalaman ini juga mungkin berguna untuk mereka yang akan mulai merantau, untuk mencari ilmu misalnya. Selesaikan dulu semua urusan rekening dengan apapun kerumitannya di tempat asal sehigga tidak direpotkan di tempat yang baru. Karena di tempat baru, tugas yang sesungguhnya adalah belajar dan bukan untuk mengurus kartu identitas. Syukur kalau petugasnya ramah.[MT]
Rabu, 03 Desember 2008
PROYEK IBRANI II YANG MINIM ALAT

Usaha untuk mengajar di STII Kupang membuat saya untuk kreatif. Semasa kuliah dulu di Jogja, teman-teman saya sering menyebut kata kreatif sebagai singkatan kere tapi aktif. Artinya walaupun miskin peralatan, tetapi harus aktif belajar dan berusaha. Mungkin itu juga yang memacu saya akhir-akhir ini. Untuk mendapat bahan dan alat-alat mengajar, kesulitan sering saya hadapi. Tetapi usaha untuk melakukan yang terbaik tidak pernah terhenti.
Beberapa semester terakhir ini saya dipercaya untuk mengajar beberapa mata kuliah yang rata-rata literaturnya berbahasa Inggris. Walaupun semasa SMU saya memilih kelas bahasa, pernah mengikuti kursus bahasa Inggris dan bahakan ToEFL Preparation, tapi nampaknya itu semua bukan jaminan bagi saya untuk memahami literatur-literatur teologi yang menggunakan bahasa ilmiah teologi.
Saya bersyukur, setelah melewati masa-masa persiapan dan mengajar Bahasa Ibrani I yang sulit, akhirnya saya menyelesaikan satu semester juga dengan mata kuliah itu. Hasilnya menurut saya cukup memuaskan. Paling tidak menurut saya. Sekarang, saya diminta untuk mengajar Bahasa Ibrani II. Bahasa Ibrani I memang tidak terlalu banyak memerlukan literatur, karena sekedar mengajar tulis dan baca juga beberapa aturan dasar kalimat Ibrani dan kosakata. Syukur juga, karena beberapa hal yang sebenarnya saya sebut "kebetulan" walaupun sebenarnya saya sadar di dalam Tuhan tidak ada yang kebetulan. "Kebetulan" yang saya maksud adalah semasa kuliah dulu adalah saya sempat memiliki diktat Ibrani lebih dari satu versi. Versi STII tempo doeloe, versi I3 Batu-Malang, versi Carl Reed,Ph.D dan yang betul-betul saya anggap sebagai "kebetulan" adalah saya pernah ditinggali versi Dallas Theological Seminary milik seorang pendeta yang akan pindah rumah ke Klaten kota. Waktu itu saya masih ada di Klaten. Karena membantu berbenah, buku itu akhirnya diwariskan ke saya, walaupun dalam bentuk copian dan agak lusuh. Syukur untuk semu "kebetulan" itu.
Bahas Ibrani II sekarang lebih rumit. Waktu diminta pertama kali untuk mengajar mata kuliah ini, saya sendiri belum punya panduan dan bahan ajar. Memang ada sedikit bayangan tentang matakuliah ini semasa kuliah dulu. Saya membongkar bahan-bahan saya yang sudah saya "kerduskan" dan akhirnya saya menemukan bahan parsing saya di Ibrani II dulu. Beberapa bahan Mas Samgar Setyabudhi, SKM juga masih saya simpan. Nama ini sekarang sudah menjadi dosen Ibrani setelah menyelesaikan Th.M-nya di STII. Saya kemudian meminta beliau lewat @mail diktat yang saya maksud. Kebaikan hatinya ditunjukan dengan arahan bahwa Ibrani II adalah penerapan sintaktikal dan leksikal Ibrani I. Atas usaha kedua adik saya yang kuliah di UKRIM Yogyakarta, bahan itupun tiba ke saya dan sekarang saya pakai sebagai bahan ajar.
Masalahnya sekarang adalah beberapa bahan yang saya rasa sangat penting tidak ada. Bahan-bahan itu seperti The Septuagint Version of the Old Testament with an Eanglish Translation, The Interlinear Bible: Hebrew - English, Analitical Key to The Old Testament. Satu buku yang penting yang tidak kami miliki adalah The New Brown-Driver-Biggs-Genesius Hebrew and English Lexicon.
Tak ada akar, rotan pun jadi. Begitu pikir saya. Bahan-bahan dari situs SABDA kami sikat habis. Bahkan bersama-sama dengan para mahasiswa, saya berusaha untuk mendorong mereka menggunakan apa yang ada. Parsing-parsing kecil kami lakukan, diskusi-diskusi sederhana kami buat dan saya sendiri bahkan merasa bahwa saya adalah bagian dari mereka yang sama-sama belajar. Mereka tidak sungkan-sungkan mengganggap saya sebagai teman studi. Trimakasih Tuhan. Bahasa Ibrani yang menakutkan bagi mereka dan bagi saya dulu kami buat lebih menyenangkan walaupun kami masih harus sama-sama belajar. Inilah Proyek Ibrani II kami yang minim alat.
Ketika saya menulis kisah ini, saya baru saja menyelesaikan pertemuan dengan mahasiswa untuk menyelesaikan parsing kata-kata tertentu. Semoga hasilnya menyenangkan dan dikenang.[MT]
Selasa, 18 November 2008
KETIKA RODA TIMBA RUSAK DI ATAS SUMUR

Ya, ingatlah akan Penciptamu selagi engkau muda, sebelum rantai perak (kehidupan) putus, dan mangkuk emas pecah, dan tempayan hancur pada mata air, dan roda timba rusak di atas sumur; (FAYH. Pkh. 12:6)
Ayat Alkitab ini langsung muncul di pikiran saya hari ini. Semalam saat saya siap-siap tidur, saya mendapat SMS dari seorang teman bahwa anak dari Pak Radja seorang teman sekaligus orangtua kami meninggal.Seakan tidak percaya, saya mencoba menghubungi beberapa orang teman pengajar dan menanyakan informasi yang sebenarnya. Sebagian mereka tidak tahu. Tetapi kepastian datang dari salah seorang senior yang menyebutkan betul, Cici (nama anak yang meninggal) telah berpulang karena diduga jantungan karena mennyaksikan tawuran di kampus Undana Kupang.
Cici, lengkapnya Cicilia adalah tipe anak periang. Itu sepintas yang saya ketahui. Baru saja beberapa bulan lalu kami bertamu ke rumah pak Radja dan sambil menyaksikan sinetron Indonesia di salah satu statiun TV swasta ia banyak berkomentar. Tapi disela-sela itu ia mempersilakan kami makan dan dengan rendah hati mengambilkan tissue untuk kami dan menyalakan kipas angin di tengah suhu udara kupang yang sangat panas waktu itu. Cici yang periang itu siang itu, ketika kami melayat terbaring kaku dengan pakaian putih panjang membalut jasadnya. Dia tidak bernyawa lagi. Setelah memberi salam pada ibunya yang kelihatan lemas di samping jasad ini, kami duduk. Pak Radja, ayah Cici tidak ada di tempat. Dia sedang mengurus peti untuk jasad Cici. Setelah kami menyalami ibunya, kami duduk di ruang dalam rumah keluarga itu. Sementara suara ibunya masih terus terdengar meriwayatkan tentang anaknya dalam tangisannya. Sesekali saya sengaja melihat ke plafon rumah hanya sekedar menahan air mata saya membayangkan tentang kesedihan yang dalam dari ibu Erika (mama Cici). Mata saya juga mengarah ke sudut ruangan di dekat bagian kepala, kakak lelaki Cici duduk dan memandang dalam-dalam wajah adiknya yang terbaring kaku. Pikiranku langsung tertuju kepada kedua adikku Elfi dan Erni yang kuliah jauh di Jogja. Adik-adik yang karena mereka aku berjuang untuk bisa mendapatkan sepeser untuk mengirimkan kepada mereka uang makan, sekalipun sering kurang. Oh.. Tuhan, kesedihan saya semakin mendalam karena membayangkan betapa dalamnya kesedihan seorang saudara laki terhadap adiknya. Dalam hatiku aku berpikir, "semoga keluarga duka dikuatkan."
Lamunan saya dikagetkan dengan tangisan yang bertambah karena beberapa pendeta masuk. Pendeta Tera Klaping dan Pendeta Hede serta istrinya memberi salam kepada keluarga duka. Setelah berjabatan tangan dengan keluarga duka, pandangan mata pak pendeta mengarah ke bagian dalam dan saya menganggu memberi salam dan teguran dengan isyarat kepada Pak Pendeta Klaping. Beberapa saat kami keluar dan duduk di halaman di tenda duka. Kami berkumpul dengan beberapa teman pengajar dan pendeta dan bercerita saat papa almarhum datang dan menyalami kami. Setelah itu kami masih duduk beberapa menit.
Beberapa orang melayat, tampak rombongan profesor dari Undana dipimpin Pembantu Rektor datang melayat. Teman-teman saya S2 juga berdatangan. Kami kemudian bercerita tentang nasib kuliah kami yang sampai sekarang belum juga rampung. Padahal proposal thesis kami sudah dimasukkan. Beberapa saat kemudian, mobil yang menjemput kami datang dan sayapun pulang dengan mahasiswa ke kampus sederhana kami di Fatufeto.
Dalam perjalanan pulang, beberapa mahasiswa ramai di belakang dengan obrolan mereka. Tetapi pikiran saya melayang kepada apa kata pengkhotbah. Kata-kata yang menarik bagi saya adalah "roda timba rusak di atas sumur." Saya kemudian tersentak dan memikirkan lagi tentang hidup. Ya. Sebelum roda timba rusak di atas sumur, saya harus berjuang. Berjuang demi hidup. Berjuang demi masa depan. Berjuang demi adik-adik saya. Berjuang sampai waktunya tiba.
Hari ini, kata-kata pengkhotbah betul-betul saya rasakan maknanya. Trimakasih Tuhan untuk kebenaran-Mu yang menjiwai saya hari ini. [MT]
Sabtu, 15 November 2008
PETUALANGAN BERBAHASA

Kegemaran saya mendalami bahasa sudah sejak SD dulu. Entah kenapa dulu zaman saya sekolah SD ada lomba bidang studi, dan saya selalu dipercaya mengikuti lomba itu dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Saya sendiri memang dilahirakan di desa yang pengenalan bahasa Indonesianya minim. Namun sejak kecil, orangtua saya yang berbahasa ibu Dawan, selalu membiasakan kami untuk berbahasa indonesia, tentu saja dalam versi Timor. Selain lomba bidang studi itu, saya juga sering mendapatkan nilai yang lumayan selama SD-SMA untuk mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Saat kuliah, theologi adalah pilihan saya. Tetselama kuliah, saya baru tahu kalau pelajaran Bahasa Ibrani dan Bahasa Yunani juga diajarkan.
Pindah dari Kupang ke Lembang Bandung juga menjadi tantangan tersewbdiri bagi saya. Selain harus menyesuaikan bahasa Indonesia Versi Kupang saya dengan bahas Indonesia teman yang lain, saya juga harus mulai memikirkan tentang bagaimana memahami bahasa lokal yaitu bahasa Sunda di Cikidang Lembang Bandung. Di kalangan teman-teman saya dari Timor, tersebar isu bahwa saya memiliki kemampuan bahasa Sunda yang cukup baik. Padahal saya sendiri tidak merasa demikian. Saya hanya merasa bahwa saya sanggup menjawab orang yang berbicara bahasa Sunda. Itu saja.
Dari Sunda menuju Jogja juga membuat kegoncangan tersendiri darisegi bahasa. Bahasa Jawa harus saya dalami. Awalnya saya stress dengan teman saya satu kamar di asrama karena dia selalu berbicara bahasa Jawa dengan saya. Tetapi lam-kelamaan hal itu menantang saya untuk belajar bahasa Jawa langsung kepada orang-orang desa dan membiasakan diri hidup bersama dengan mereka dalam budaya dan kebiasaan mereka di desa.
Tahun 2005, setelah delapan tahun di Jawa saya kembali ke Kupang. Logat saya tentu saja kembali harus disesuaikan dengan orang Kupang agar saya tidak dianggap sok. Setel;ah mengabdi beberapa saat di kampus tempat saya mengajar, pimpinan kemudian mempercayakan saya untuk mengasuh matakuliah Bahasa. Awalnya saya diminta untuk mengasuh matakuliah bahasa Ibrani bagi pemula.Hari ini, adalah kelas perdana saya untuk mengajar bahasa Ibrani II. Puji Tuhan, concern saya dengan bahasa ternyata berlanjut. Semoga Tuhan memberi kekuatan kepadaku untuk mendalami dan suatu saat nanti bisa seperti temanku Ira Mangililo yang mendalami Bahasa ini hingga ke Canada dengan S3nya. Atau Misray Tunliu yang mendalami bahasa Arabnya hingga ke Timur Tengah. Atau minimal seperti Pak Jhony Yahya Sedi,Th.M di STII Jakarta. Semoga.
Dalam kemurahan Tuhan, saya juga dipercaya melayani di suku yang berbeda bahasa dengan saya. Pariti, desa tempat saya melayani ditempati oleh oran Sabu dan Orang Rote dengan bahasa yang berbeda. Memahami mereka dengan bahasa dan budayanya memberi nilai tambah tersendiri dalam petualangan berbahasa saya. Syukur.[MT]
INILAH HIDUP ANAK KOST

Sepanjang hidup saya yang total sudah berjumlah 28 tahun hingga tahun ini, saya menghabiskan waktu saya hanya beberapa tahun untuk tinggal di rumah orangtua kandung dan hidup bersama mereka. Seingat saya, hanya ada sembilan tahun saya hidup bersama mereka. Sisanya hidup bersama dengan orang lain bahkan hidup sendiri di kost atau asrama. Baru pada saat duduk di kelas satu SD-lah saya tinggal bersama papa dan mama saya. Sebelumnya tinggal bersama dengan nenek dan kakek. Sesudah tamat SMP, artinya hanya sembilan tahun saya tinggal dengan orang tua saya, saya melanjutkan pendidikan SMA di kota kabupaten. Otomatis saya berpisah dari papa dan mama dan tinggal dengan teman-teman. Bahkan pernah tinggal dengan keluarga. Setamat SMA, Saya menghabiskan kurang lebih delapan tahun untuk tinggal di Asrama, tinggal di rumah orang (jemaat) yang kami layani, atau bahkan di kost dan bahkan pernah tinggal di pastori gereja. Dalam semuanya ini, kost adalah salah satu tempat yang cukup nyaman untuk ditempati. Kenapa saya sebut nyaman, oleh karena jika di rumah orang lain atau orang tua kita harus ber-ewuh pakewuh dalam melakukan segala sesuatu termasuk makan, maka di kost, kita bisa bebas untuk bersantai, makan, belajar atau apa saja (tentu yang positif). Tetapi bahanya jika nekat melakukan hal yang negatif. Saya bersyukur, walaupun harus bersusahpayah dengan uang kost dan ocehan mama kost tapi sampai saat ini saya masih merasa nyaman tinggal di kost.
Memang saya sangat merindukan suatu saat untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Saya sering membayangkan tinggal di rumah yang sederhana yang rumah itu adalah hasil jerih payah sendiri. Walaupun sederhana. Semoga suatu saat kelak hal itu terwujud. [MT]
Langganan:
Postingan (Atom)
