Sabtu, 06 November 2010

ARTI PENGHARAPAN


1. Arti Pengharapan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diterangkan bahwa pengharapan berasal dari kata dasar harap yang berarti mohon, minta, keinginan supaya sesuatu terjadi dan sesuatu itu biasanya hal yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginan.

2. Pengharapan yang Alkitabiah
Kitab Ibrani 6:19-20 menyaksikan bahwa: “Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita, ketika Ia menurut pengertian Melkisedek, menjadi imam Besar sampai selama-lamanya.”

3. Hubungan iman dan pengharapan
Pengharapan tidak berdiri sendiri tapi berkaitan dengan iman, karena iman membuat orang memiliki pengharapan kepada Allah. Iman menempatkan manusia memiliki kepercayaan kepada Allah, sehingga ia dapat menaruh pengharapan kepada Allah. Pengharapan adalah sikap orang percaya yang mengenal Allahnya. Tidak ada pengharapan yang tidak dikaitkan dengan Allah yang menguasai alam semesta ini.
Mengharapkan berbeda dengan menginginkan. Menginginkan adalah sikap dan cara hidup yang berharap seperti yang kita inginkan, seperti yang kita pikirkan, seperti yang kita mau. Sedangkan pengharapan adalah sikap dan cara hidup yang mengandalkan pada apa yang hendak Allah lakukan. Pengharapan berkaitan dengan apa yang akan Allah kehendaki, lakukan untuk seseorang dan untuk berbagai hal yang berkaitan dengan segala hidup dan kehidupan seseorang.
Pengharapan bertumbuh dalam iman dan diwujudkan dalam cara:
1. Berdoa
2. Membaca Firman Tuhan
3. Beribadah
4. Hidup dalam Pengharapan
Hidup dalam pengharapan adalah hidup yang mendasarkan diri pada anugerah keselamatan Allah di dalam diri Tuhan Yesus Kristus, karena di dalam diri-Nya ada pengharapan kehidupan.
Hidup dalam pengharapan adalah hidup yang:
a. Mengakui bahwa Allah adalah penguasa hidupdan kehidupan, Allah adalah penguasa dunia ini. Oleh karena itu manusia perlu ikut serta menjaga, memelihara, dan merawat dunia ini.
b. Mengakui bahwa Allah bukanlah pencipta kejahatan dan penderitaan manusia. Allah tidak akan membiarkan kejahatan sebagai sumber penderitaan merajalela di dalam dunia, karena kejahatan bertentangan dengan sifat-Nya
c. Mengimani bahwa Allah menaruh perhatian secara pribadi kepada orang-orang pilihan-Nya. Pengharapan ini memberikan sukacita dalam hidup orang percaya bahwa orang-orang pilihan Allah akan selalu ada dalam pimpinan dan penyertaan Allah. Kalaupun terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, harus diimani bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kerangka kehendak, rencana, dan pimpinan Allah.

5. Pengharapan sebagai Sikap dan cara hidup Manusia
Sikap dan cara hidup yang berpengharapan dapat dilakukan dengan
1.Selalu berpikir dan bertindak atas dasar bahwa “pasti ada jalan keluar.” Sesulit apapun persoalannya, jalan keluar selalu tersedia. Yang perlu diingat, kesulitan adalah bukan akhir dari segala-galanya. Kesulitan adalah alat Bantu bagi kita untuk menemukan jawaban atau jalan keluar yang terbaik dari setiap masalah yang ada. Kesulitan bukanlah jalan buntu dari masalah tapi kesulitan adalah jalan keluar yang tertunda.
2.Tekun dan berdayajuang tinggi. Ini merupakan syarat untuk bias memiliki pengharapan yang berkemenangan.
3.Sanggup menghadapi segala tantangan kehidupan. Tantangan kehidupan adalah sebuah harapan bahwa di balik sebuah tantangan, selalu ada makna, hasil sesuatu yang didapatkan.
4.Berserah kepada kehendak Tuhan
Filipi 4:13 menyaksikan bahwa “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Tuhan mengharapkan penyerahan diri kepada-Nya. Hidup sebagai orang percaya bukanlah hidup yang hanya untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi hidup untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak perlu sehingga semakin dekat kepada-Nya.

6.Contoh Sikap dan Pengharapan secara Alkitabiah
Ada beberapa contoh di dalam Alkitab tentang tindakan hidup berpengharapan:
a.Matius 25:1-1
Menceritakan tentang lima orang anak dara yang setia menanti dalam pengharapan dengan m
B.Matius 5:3-12
Merupakan sikap pengharapan kristiani bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang berjuang untuk mencapai kebenaran Allah
7. Kesimpulan
Hidup berpengharapan dapat mengandung perngertian
a. Sikap dan tindakan yang percaya akan daytangnya langit baru dan bumi Baru yang didasarkan pada kuasa kebangkitan Yesus (1Kor. 15:14). Langit dan bumi baru adalah suasana hidup di mana segala sesuatu diperbaharui dalam kuasa kebangkitan Kristus (2Petrus 3:12)
b.Sikap dan tindakan hidup yang terus menerus berjuang menuju kesempurnaan Allah
c.Hidup yang terus memandang ke depan kepada rencana Allah, mau memperjuangkan keadilan Allah, kesejahteraan manusia dan memberantas penyakit dan kebodohan serta menyatakan shalom Allah
d.Tidak melarikan diri dari kenyataan hidup sehari-hari
e.Hidup yang mengatasi kesulitan hidup dengan memperjuangkan terwujudnya keadilan dan kebenaran Allah
f.Bukan hidup yang pesimis terhadap perkembangan dunia masa kini. Perkembangan dunia justru menjadi alat picu yang menantang dan mendorong orang percaya mewujudkan pengharapan imannya

8. Rangkuman
Berpengharapan berarti memiliki keinginan supaya sesuatu terjadi dan sesuatu itu biasanya adalah hal yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginan. Kitab Ibrani 6:19-20 menyaksikan bahwa pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Hidup sebagai orang percaya adalah hidup yang bukan hanya untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan tetapi untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak perlu. Berpengharapan berarti terus memandang ke depan, memperjuangkan keadilan Allah, memberantas segala macam penyakit dan kebodohan. Hidup yang mengusahakan dan menyatakan Shalom Allah

ARTI IMAN





A. STANDAR KOMPETENSI
Nilai-nilai Kristiani: Hidup bersyukur dalam segala situasi serta hidup beriman dan berpengharapan

B. KOMPETENSI DASAR
1.2. Mewujudkan Hidup Beriman dan Berpengharapan

C. INDIKATOR
1. Mendeskripsikan pengertian Iman
2. Menjelaskan pengertian iman secara Alkitabiah
3. Menjelaskan arti hidup beriman

D. MATERI AJAR
1. Pengertian Iman
Iman dalam bahasa Ibrani adalah “aman” yang dalam Perjanjian Lama berarti ‘berpegang teguh’ pada keyakinan yang dimiliki atau berketetapan hati untuk meyakini sesuatu karena sesuatu itu dapat dipercaya dan diandalkan. Kata iman selalu dikaitkan dengan kepercayaan kepada Allah. Karena itu ‘beriman kepada’ tidak dapat disamakan dengan ‘percaya kepada.’ Dalam bahasa Yunani, disebut dengan ‘pistis,’ dan bahasa Latin menyebut iman dengan kata ‘fides,’ juga ‘faith’ dalam bahasa Inggris.
Iman dimaksudkan untuk menunjukkan adanya hubungan manusia dengan Allah. Hubungan yang didasarkan pada sikap atau tindakan manusia yang percaya dan mempercayakan hidupnya kepada Allah. Manusia beriman adalah manusia yang mengiyakan, mengamini, menaruh kepercayaan dan harapan, mengandalkan, berpegang teguh, percaya dan mempercayakan diri pada Allah sebagai sumber dan dasar hidup.
Iman dan beriman merupakan tindakan manusia untuk mengenal Allah, sebagaimana Ia mengenal manusia. Allah dikenal sebagaimana Ia hendak dikenal dan yang seharusnya Dia dikenal. Iman dan beriman mengikatkan menusia kepada Allah bahwa Allah mengasihi kita, memelihara kita dan memperhatikan segala kebutuhan hidup kita. Imanlah yang membawa kita pada keselamatan di dalam Allah.

2. Pengertian Iman secara Alkitabiah (Ibrani 11:1)
Secara Alkitabiah, Ibrani 11:1 menjadi pegangan untuk mengartikan kata iman. Dalam Ibrani 11:1 diterangkan bahwa: “ iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”




Ada dua hal yang terkandung dalam pengertian iman ini.
1. Dasar
Merupakan sesuatu yang dapat membuat kita tetap berdiri teguh, sehingga bila dating tantangan atau cobaan, iman bias menjadi dasar yang kuat dalam menghadapinya.
2. Bukti
Merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi dan dialami oleh seseorang. Bukti menempatkan seseorang untuk tetap mempertahankan apa yang teruji benar walaupun tidak kita lihat tetapi dapat dipercaya karena bukti.
Iman seperti inilah yang telah membawa tokoh besar dalam Alkitab kepada keselamatan. Kita dapat belajar dari mereka yang dapat dijadikan teladan iman, antara lain:
1. Abraham yang telah meninggalkan bapak dan saudara-saudaranya menuju negeri yang belum diketahui, ia hanya mematuhi perintah Allah tanpa melawan hingga akhirnya ia menjadi bapak orang percaya, semuanya karena imannya kepada Allah
2. Perempuan Kanaan (Matius 15:21-25)
3. Perwira di Kapernaum (Lukas 7:1-10)
4. Habel yang karena imannya telah mempersembahkan korban terbaik bagi Allah dan korbannya diterima (Ibrani 11:4)
5. Henokh yang terangkat supaya tidak mengalami kematian
Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa mereka adalh orang-orang yang dengan segenap hati dan jiwa dan akal budinya percaya kepada Allah. Mereka bukan saja percaya tetapi juga melakukan sesuatu sebagai wujud percayanya. Beriman berarti meyakini firman Tuhan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pengertian Hidup Beriman
Iman merupakan sikap percaya dan mempercayakan diri pada Allah bahwa Allah mengasihi kita dan memperhatikan segala kebutuhan hidup kita. Iman juga merupakan dasar dari yang kita harapkan dan bukti dari yang tidak kita lihat. Hidup beriman mengandung beberapa hal antara lain:
a. Penyerahan diri secara total kepada Allah
Ini merupakan penyerahan diri yang melampaui batas pemikiran dan kemampuan
manusia. Dalam hal ini perlu sikap rendah hati dan ketaatan
b. Ketaatan dan kesetiaan kepada Allah adalah sikap untukselalu memegang kebenaran
Allah dalam segala persoalan kehidupan, mendasarkan segala sesuatu pada kebenaran
Allah.
c. Iman disertai dengan perbuatan. Hidup beriman tidak sekedar bicara tentang percaya
saja, tetapi dikaitkan dengan perbuatan (Yakobus 2:17)

4. Rangkuman
Iman merupakan sikap percaya dan mempercayakan diri bahwa Allah mengasihi kita, memelihara dan memperhatikan segala kebutuhan kita. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman harus diwujudkan dengan perbuatan.

Minggu, 24 Oktober 2010

DUA BULAN DOANG MENIKMATI JADI PD


Percaya atau tidak, sejak kecil 90% setiap kali makan daging ayam, saya selalu mendapatkan leher ayam. Disengaja ataupun tidak disengaja. Dulu ketika kami masih tinggal di rumah mama Papa (karena sejak SMA kami sudah harus merantau), saat ada kesempatan potong ayam, saya selalu kebagian leher ayamnya. Sengaja atau tidak disengaja. Saya pikir kebiasaan ini hanya sekedar kebiasaan di rumah kami saja. Waktu makan daging ayam entah di pesta atau rumah tetangga atau orang lain, kebanyakan saya dapat leher ayam. Tidak bermaksud untuk menginterpretasikan kejadian-kejadian ini, tapi saya terus bertanya dalam benak saya, apa maksudnya ini?

Tanpa bermaksud mempercayai segala sesuatu pertanda hidup, tapi saya sudah memikirkan bahwa kemungkinan saya tidak akan bisa menjadi pemimpin tertinggi. Top Leader mungkin tidak, tetapi untuk berada di bawah top leader saya siap. Ibarat kepala ayam dan leher ayam tadi. hehheee...

Pengalaman membuktikan itu. Dulu saat di asrama sempat menjadi ketua asrama. Waktu itu saya merasa bahwa beban yang saya hadapi sangat berat. Memang demikianlah beban seorang pemimpin. Selama dan pasca studi sarjana, saya sering diminta untuk memimpin sesuatu. Tetapi perasaan saya mengatakan bahwa saya tidak semampu orang lain dalam hal memimpin. Ada yang selalu saya pikirkan lebih layak dari saya untuk memimpin. Selama menjadi pengajar, saya hanya menjadi pembantu ketua II bidang Administrasi dan keuangan. Bagi saya, itu yang bisa saya lakukan. Selama beberapa kali saya juga pernah diminta untuk menjadi station Manajer untuk sebuah Radio Swasta di kota Kupang, namun bagi saya, ada orang lain yang lebih pantas untuk menjadi pemimpin dan saya cukup berada di bawah dan menyokong atasan. Keyakinan itu sangat kuat dalam diri saya. Bahkan untuk menjadi koordinator penyiar saja saya sulit untuk menerimanya.

Hingga suatu saat saya diminta untuk menjadi Program Directot untuk Radio Suara Kupang. Setelah diberi uraian tugas yang harus saya kerjakan dan diberi dorongan yang cukup, maka sadarlah saya bahwa saya ternyata bisa melakukannya. Tentu saja atas bantuan seorang direktur operasional yang baik. hehheee. Enakan. Ternyata menjadi PD adalah sebuah pekerjaan yang berat. Tetapi mengasyikkan. Pekerjaan yang harus dilakukan menyangkut bertanggung jawab penuh terhadap kelancaran jalannya keseluruhan aktivitas siaran secara umum mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai pada tahap evaluasi dan pengawasan.

Tanggungjawab seorang Program Director versi tempat saya bekerja secara struktural adalah bersama sama dengan dua bagian lain yakni Music Director (eMDi) dan Administratur mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka untuk seorang Station Manager. Di Radio Suara Kupang, tempat saya mengabdi, Program Director yang saya terima membawahi Koordinator Siaran, Produksi dan Koordinator News. Suatu pekerjaan yang mustahil dijalankan seorang manusia berbau kencur bernama Medison Tanesib. Apalagi pekerjaan ini saya jalankan dengan pekerjaan-pekerjaan "nyambi" lain yang tidak membuat saya fokus. Teteapi intinya adalah tugas saya sebagai Program Director pada Radio suara Kupang adalah berusaha mengatur penyiar untuk bersiaran dengan membuat schedule, mengawasi pelaksanaan schedulle, dan mengawasi isi siaran. Yang ini sih sebenarnya kuncinya hanya pasang telinga saja ke radio. Pantau semua apa yang diudarakan. Apakah artikulasi penyiar sudah jelas, dialeknya tidak "kampungan," putar iklan sesuai dengan rencana siar, baca berita dengan jelas dan kualitas lagu yang diputar enak di telinga? Masalahnya penyiar dari dulu adalah kalau lagi berhalangan hadir dan mendadak. Nahhhhh itu masalah. Makanya sebaiknya PD sudah merumuskan (bersama-sama dengan penyiar) apa-apa yang harus dijalankan dan apa-apa yang akan menjadi sanksi kalau tidak dijalankan. PD juga mengurus produksi-produksi yang harus di on airkan. Di antara pengalaman saya, ada insert program dan iklan-iklan spot. Terhadap News, PD zaman saya lumayan ringan karena koordinator News dipegang langsung oleh St. Manajer yang membuat saya tidak terlalu pusing banyak.

Pekerjaan ini saya tekuni selama dua bulan dan sempat dua kali menyusun dan menyampaikan laporan tertulis di rapat bulanan station. Tapi karena ada gangguan pada pemancar dan antene radio kami, pekerjaan itu harus ditinggal. Sekarang, saat tulisan ini saya tulis, Suara Kupang sedang berbenah untuk bangkit kembali setelah perbaikan pemancar dan antenne. SEMOGA.

Rabu, 08 September 2010

PPL


Adalah pengalaman pertama untuk mengikuti Program Pengalaman Lapangan atau Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) untuk menjadi guru. Di sekolah Theologia dulu, kami diberi kesempatan untuk mempraktekan ilmu kami dengan setiap jumat hingga senin pagi wajib berada di tengah-tengah jemaat dan melayani mereka. Semasa kuliah, ini kami sebut sebagai Week End. Istilah “week end” bagi kebanyakan orang mungkin sesuatu yang menyenangkan karena bias berlibur atau pergi ke luar kota, santai dan banyak kegiatan relaksasi lainnya. Tapi week end bagi kami mahasiswa Tgeologia (dulu) adalah waktu yang cukup menegangkan. Disebut menegangkan karena setiap jumat siang, saat mendengar bunyi Adzan dari Masjid tetangga asrama kami, itu adalah semacam komando bahwa kami sudah harus keluar dari asrama menuju ke tempat pelayanan kami di desa-desa sekitar Jogjakarta dan Jawa Tengah, tinggal di rumah-rumah jemaat dan bersosialisasi dengan mereka untuk akhirnya melayani mereka. Yang perlu kami lakukan adalah hadir di tengah-tengah jemaat dan masyarakat Jawa (kebetulan saya di desa Terbah di Gunung Kidul, Yogyakarta), hidup selayaknya orang Jawa dan berusaha menjadi bagian dari mereka untuk akhirnya melayani mereka. Rutinitas pendeta di tengah jemaat sekali.

Menjelang lima tahun sesudah tamat kuliah, yang kebanyakan saya dihadapkan pada mahasiswa, atau murid-murid sekolah, saya harus kembali melakukan observasi dan adabtasi lagi dengan lingkungan sekolah. Awalnya karena ketertarikan saya di dunia pendidikan. Sejak tamat sekolah theologia, kebanyakan saya bergerak di bidang pendidikan. Pernah dipercaya mengasuh mata kuliah hermeneutika di STII Kupang dan bahasa Ibrani. Lima tahun sudah belajar untuk mengajar. Kemudian merambah ke sekolah lain seperti STTP di Kupang, ke STT Berkat di Camplong dan kemudian ke tingkatan SMA yakni ke SMTK Musafir Kupang. Perluasan ini membuat saya semakin tertarik untuk menjadi pengajar saja. Bukan karena ikut-ikutan, namun karena keterpanggilan saya melihat kebutuhan di sekolah dan gereja.
Sejak mengikuti program Akta Mengajar di Universitas Nusa Cendana Kupang, saya merasa bahwa ada banyak yang harus saya benahi dari cara mengajar saya. Misalnya mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi seluruh pembelajaran. Jujur saja selama bertahun-tahun mengajar di STII, STTP, STT Berkat, saya belum terlalu banyak mengetahui tentang cara yang paling tepat mempersiapkan diri, yang tidak sekedar bermodal berani dan nekad saja tetapi harus mempersiapkan administrasi pembelajaran di kelas juga. Syukurlah, ada sedikitpengalaman lapangan sebelum betul-betulkuliah dan di PPL-kan ke ‘the real school.” Di SMTK Musafir Kota Kupang, memang administrasi untuk pembelajaran juga kami lakukan. Bahkan puji Tuhan, sekolah kami memiliki Silabus bahasa Yunani dan Ibrani yang kami usahakan sendiri dengan panduan kurikulum untuk SMTK.

Akhir Agustus 2010, kami mulai dilepas untuk mengikuti Program Pengalaman Lapangan. Rumit juga urusan untuk akhirnya bias PPL. Dimulai dengan pembekalan yang dilakukan UPT PPL undana. Kami mahasiswa Akta Mengajar dikumpulkan dengan teman-teman yang regular dan diberitahu aturan-aturan selama PPL. Harus berpakaian rapih, bertindak seperti seorang guru, dan melakukan tugas administrasi di sekolah dan kegiatan manajemen sekolah. Setelah carut marut urusan di kampus dengan UPT PPL Undana selesai, berangkatlah kami di antar pihak undana dan diserahkan ke SMP Negeri 1 Kupang. Tidak pernah terbayang untuk mengajar anak-anak SMP dalam benak saya. Puji Tuhan, saya sudah pernah mengajar di Sekolah Tinggi (setingkat di atas SMA), di SMA (SMTK), dan bahkan pernah di Taman Kanak-kanak (TK). Sebuah pengalaman berarti. Dan sekarang di SMP.
Hari-hari pertama PPL di SMP kami dibawa ke kelas untuk melihat guru mengajar dan kami mengamati ‘gelagat’ siswa SMP yang di luar dugaan. Banyak teman bahkan mengaku kalau anak-anak SMP sangat liar. Tapi setelah diikuti ternyata ada trik-trik tersendiri untuk mengajar di SMP. Lain dengan trik di SMA atau Perguruan Tinggi atau bahkan TK. Saat gurunya tidak masuk, kami malah disuruh untuk mengajar.
Dan asal diketahui, PPL dinilai dari Observasi sekloah yakni mengamati dan melaporkan tentang keadaan sekolah secara fisik, orgnisasi, dan kegiatan-kegiatan di sekolah, mengajar terbimbing yang dnilai RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan Pelaksanaan Pembelajaran. Bayangkan, semuanya ini harus ditulis tangan. Memang teknologi mempermudah tapi juga membuat orang malas. Sehingga semua laporan ini harus ditulis tangan. Beruntunglah, hari ini libur Idul Fitri 1 Syawal 1431 H sudah dimulai, jadi bias menulis di blog ini lagi. Semoga pembelajaran terbimbingnya jalan lancer, pembelajaran mandirinya berjalan lancer dan dinilai baik oleh guru pamong dan dosen pembimbing, dan akhirnya bias Ujian serta mengumpulkan laporan PPL. Tuhan yang menuntun ke jalan ini. Puji Tuhan, pasti ada kekuatan utnuk menyelesaikan urusan menjadi guru agama di sekolah. Kerinduan yang terpendam sejak SD ketika ditanya, mau jadi apa. Selalu ada jawaban “jad guru.” Dan selamat dating guru Medison Tanesib. Guru yang tidak hanya bermodal nekad tetapi guru yang pernah mempraktekan bagaimana mempersiapkan pembelajaran dengan menyusun RPP, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya.

Dan semoga Pdt. Imanuel Lakamal, MA dosen pembimbing saya dan ibu Damaris Ch. Mandala, S.Th guru Pamong saya dan Yohai Betty teman semata pelajaran saya mendukung saya dalam penyelesaian PPL ini. Intinya kalau mau PPL, persiapkan mental hadapi anak-anak, ambillah inisiatif untuk konsultasi dengan dosen pembimbing dan guru pamong, bekerjasamalah dengan teman-teman seangkatan di satu sekolah dan kerjakan semua yang direncanaan. Ada satu lagi, mental untuk menghadapi anak-anak SMP harus ada. Kalau tidak bias muntah darah. Hehehee. Yang terakhir ini berlebihan.

Senin, 12 Juli 2010

KAPAN KAWIN?


Berapa kali dalam sehari anda ditanya tentang status hubungan? Mungkin hal ini tidak akan terjadi pada mereka yang masih berkepala dua. Tapi bagi orang yang sudah selesai studi Sarjana, pertanyaan tentang status hubungan mungkin sering akan dihadapinya. Pertanyaan tentang siapa pacar, sudah punya pacarkah atau kapan menikah adalah sering terdengar dan jujur, ini mempengaruhi pikiran seseorang. Apalagi saat melihat orang lain yang notabene teman seperjuangan, setingkat, sesekolah atau teman kerja yang bahkan berumur lebih mudah yang sudah menikah, pasti akan lumayan mengusik kalau tidak ingin dikatakan mengganggu. Jika ingin di data, orang yang berkepala tiga diduga sudah mendengar pertanyaan ini lebih dari duaratuslimapuluh kali. Taksasi asal jadi.

Pernikahan memang menjadi thema menarik jika seseorang sudah mencapai umur yang tepat di pandangan publik. Orang yang belum menikah akan dicurigai macam-macam oleh orang lain. Entah karena miskin, karena belum mampu, karena tidak punya pacar dan alasan-alasan lain yang masuk akal untuk diperbincangkan. Tetapi ada alasan yang cukup rasional juga yang biasanya menjadi pertimbangan seseorang untuk tidak cepat-cepat menikah. Alasan rasional itu menurut saya adalah mendahulukan bekerja dengan mapan dan membantu studi adik-adik saya terlebih dahulu, barulah menikah. Ini memang mengorbankan diri sendiri demi orang lain, tetapi juga masuk akal. Bagaimana mungkin kita menikah, sementara belum punya rumah untuk tinggal bersama sang pasangan, belum ada pekerjaan yang layak untuk dapat menghidupinya dan belum mampu untuk menafkahi secara finansial. Memang sih ada nasehat orang, tidak pernah orang yang menikah itu anak-anaknya mati kelaparan. Akan ada saja berkat dari Sang Khalik bagi orang yang sudah menikah.

Menikah memang akan dilakukan. Ya kapan saja ,,yang penting sudah ada pasangan yang cocok dan sudah ada penghasilan, agama sudah seiman dan siap mental serta sudah niat.
Maka menikahpun terlaksanalah. Tawaran study untuk melanjutkan ke s2 ternyata membuat seseorang untuk menunda dulu menikah. Semoga bidadari pengganti bidadari Magelangku akan segera kusunting. Doakan yah.....

Minggu, 27 Juni 2010

HANYA ADA DI KUPANG


Saya memang tidak lahir di kota Kupang. Tidak dibesarkan di Kupang. Dan tidak tahu apapun tentang Kupang sebelum saya lulus Sarjana dan kembali ke Kupang. Karena itu hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan di Kupang tidak pernah saya ketahui. Saya baru mengalaminya saat saya menamatkan studi saya 2005 yang lalu di Jogja, dan kembali ke pulau tempat saya dilahirkan, Timor. Bagi orang Timor yang lahir di pedalaman Timor seperti saya, kekasaran adalah sesuatu yang tidak lumrah. Betapa kagetnya saya ketika sampai di pelabuhan Tenau, disambut dengan bentakan orang-orang yang berampasan ingin menjemput keluarganya.

Hari-hari pertama di Kupang memang berat. Maklum budayanya beda sekali dengan kebiasaan orang Timor, sekaligus beda dengan kebiasaan orang Jogja tempat saya menuntut ilmu. Maklum saja, saya dari kampong bernama Kapan yang orang-orangnya kebanyakan santun, dan study di satu tempat bernama kalasan yang santun juga orangnya.

Suatu pagi saat kami tiba di Kupang, saya mau ke kamar mandi. Kebetulan tuan rumah tempat saya menginap, tinggal bersamaan dengan induk semang mereka karena ngekos ceritanya. Saat lewat di depan Ibu Kost saya selalu mengucapkan "permisi." Pertama kali permisi masih di jawab, balik lagi permisi lagi, masih di jawab kali ketiga dan keempat dengan muka yang tidak bersahabat dan berikutnya dapat bentakan. Lewat permisi...lewat permisi..... Capek yang jawab (dalam logat kupang yang kental). Ini hanya ada di Kupang. Kalau sering-sering mengucapkan permisi setiap kali lewat depan orang, Bahaya.

Hal unik lain adalah menumpang angkutan kota di Kupang. Pemuda-pemudi di Kupang akan lebih suka naik angkot bermusik suangat keras. Ada bahkan, ibu-ibu yang tidak merasa terganggu saat naik angkot dan musiknya sangat keras. Padahal telinga kita rasanya sudah Saat naik angkotnya pun lain. Sesudah naik angkot orang yang duduk dekat pintu tidak akan bergeser, walaupun ada kesan dia menutup-nutupi jalan. Cara lain yang unik adalah saat penumpang di sebelah tempat duduk kita pindah dan kita harus bergeser ke tempatnya, kebiasaan di Kupang, tempat duduknya ditepuk dulu dengan keras sebelum diduduki. Terkesan yang barusan duduk di tempat itu kotor, najis, dan bekas pantatnya duduk ada kumannya. hehhee. aya-aya wae.

Itu baru satu. Ada yang aneh juga di Kupang saat hari Jumat daqn hari Minggu. Free Helm untuk hari minggu dan hari Jumat. Kendatipun ada Polisi, jarang ada orang yang dicegat dan ditegur hanya karena tidak mengenakan helm. Kenapa? Karena orang yang mau ibadah di hari minggu akan sulit untuk mengenakan helm karena rambutnya sudah tertata rapi. Sama juga dengan yang mau ke Masjid saat hari Jumat. Saya heran dengan aturan ini. Siapa yang salah?

Masih banyak lain yang hanya ada di Kupang? Mau buktikan? Silakan datang di Kupang dan selamat menikmati.

Selasa, 15 Juni 2010

AKU BERGELAR DOKTOR


Rasanya cukup lama raib dari dunia blog-blog-an. Syukurlah ada yang mengingatkan untuk kembali ke alamku. Hehehehe. Meminjam istilahnya teman,sekarang saya "go-blog."

Bicara tentang 'go-blog,' rasanya tidak enak, kalau ada yang menyebut kita goblok. Sebodoh-bodohnya orang, dia akan marah besar dengan sebutan itu. Orang akan bangga kalau sudah selesai studi dan mendapat gelar. Masih hangat dalam ingatan, dulu ada beberapa orang yang lulus D2 PGSD, dari UT pula, bangga sekali dengan foto wisudanya. Sesudah di wisuda dengan gelar A.Ma Pd yang jarang digunakan itu, mereka bangga sekali. Apalagi yang diwisuda dengan gelar Sarjana. Di Kupang, syukuran wisuda SARJANA bisa semalam suntuk pestanya. Maklum, selain makan-makannya, ada mabuk-mabukannya, ada dansa-nya, dan tidak jarang ada berkelahi dan perang sukunya. Ironis. Sesudah itu, nganggur. Alaaaaaaaahhhh.... Apalagi kalau bergelar S2. Master apa kek. Rasanya pulau Timor ini terlalu sempit untuk gelarnya. Puanjang buanget. Tapi perkenankan saya untuk memperkenalkan diri dan gelar baru saya. DOKTOR. Ckckckckc. (Bantu dong, berdecak kagum karena gelar saya)

Gelar baru ini saya didapat dari membaca buku. Tidak ada kaitan dengan ilmu pengetahuan bukunya. Kaitannya dengan biografi tokoh NTT, Ir. Ansgerius Takalapeta, bapaknya orang-orang dari Kabupaten Alor. Katanya dulu waktu mulai merintis kariernya, beliau sering tidur di Kantor. Karena sering tidur dikantor itulah dia disebut Tuan Doktor (MonDOK di KanTOR).Nampaknya sayapun harus menerima gelar baru itu. DOKTOR. Maklum, karena kondisi dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain, maka moDOKlah saya di kanTOR (DOKTOR). Ijazahnya menyusul. Heheheee

Selasa, 30 Maret 2010

KULIAH AKTA IV


Saat tanganku ringan untuk menulis kembali blog-ku ini, semester kedua di Akta IV Undana sedang saya tekuni. Memang menjadi waktu yang cukup melelahkan. Karena banyak orang menggosipkan bahwa kuliah AKTA IV itu pekerjaan yang menyenangkan. Hanya dapat ditempuh dalam beberapa bulan dan langsung dapat AKTA. Lumayan menggiurkan untuk mendapat AKTA IV dengan cara demikian. Karena peluang kerja, katanya akan lebih mudah. Tetapi beberapa berita di surat kabar, pernah menyoal masalah AKTA kilat itu, yang terbukti bermasalah. Belum lama, ada juga informasi bahwa 53 orang di salah satu kabupaten di NTT terlilit masalah dengan ijazah aktanya. Cerita-cerita inilah yang membuat banyak orang wasd-was mengambil AKTA mengajar. Keputusan untuk memulai di Undana, satu-satunya Universitas Negeri di NTT adalah lumayan bijak menurut saya waktu itu. Kendatipun memakan waktu. Sengaja saya tulis bagian ini untuk menjawab beberapa pertanyaan kawan-kawan tentang AKTA IV. Gimana sih kuliahnya? Mata kuliah apa saja yang diajarkan?

Begini, AKTA IV sesungguhnya sekarang kata orang hanya sebagai pelarian untuk mendapat ijazah. Seharusnya sih tidak demikian. Bagi orang yang mau mempertajam ilmu kependidikannya, terutama yang dari non kependidikan, treatmen AKTA IV dengan tiga semester seperti di UNDANA Kupang lumayan membantu. Mungkinkah teman-teman yang lain di AKTA IV Undana juga merasakannya?

Kuliahnya ternyata cukup melelahkan. Maklum, waktunya adalah jam 14.00-17.00 kalau 4 SKS mata kuliahnya. Bagi matrakuliah yang 3 SKS biasanya hanya sampai jam 4 saja. Itupun tergantung dosennya. Tapi biasanya kebanyakan presentasi. Dosen masuk, bahannya dibagikan, cari sumber, dan presentasi per kelompok.

Adapun matakuliah-matakuliah yang diajarkan di AKTA IV (paling tidak di Undana-Entah di tempat lain) adalah:
SEMESTER I
1. Pengantar Pendidikan (3 SKS)
2. Perkembangan Peserta Didik (3 SKS)
3. Belajar dan Pembelajaran (4 SKS)
4. Kemampuan Dasar Mengajar (4 SKS)
5. Perencanaan Pengajaran (3 SKS)
6. Penelitian Pendidikan (3 SKS)
SEMESTER II
1. Pengembangan Bahan Ajar (4 SKS)
2. Strategi Belajar Mengajar (4 SKS)
3. Evaluasi Pengajaran (4 SKS)
4. Kajian Kurikulum Bidang Studi (4 SKS)
SEMESTER III
1. Praktek Lapangan (4 SKS)

So,Kuliahnya tiga semester, kawan-kawan yang tanya.... Semoga ada sedikit gambaran, apa sih yang dibuat di Akta IV. Doakan saya yah....

Kamis, 26 November 2009

MENJADI GURU


Di kalangan mahasiswa akta IV Undana 2009, istilah "menjadi guru pada akhirnya," bukanlah ungkapan yang asing. Ungkapan ini saya dengar pertama dari seorang guru besar. Ada dua jenis guru katanya. Mereka yang "guru asli" yaitu mereka yang sejak awal sudah memutuskan untuk kuliah FKIP. Kelompok ini katanya sudah memiliki panggilan untuk menjadi guru.Mereka adalah orng-orang terpilih yang mengetahui seluk beluk menjadi guru karena dididik secara khusus. Kelompok yang kedua adalah "guru pada akhirnya." Guru-guru jenis ini adalah mereka yang tidak dari latar belakang FKIP. Mereka adalah orang-orang yang pada awal kuliah memutuskan untuk mengambil jurusan ilmu pendidikan. FKIP bukan fakultas yang mereka pilih. Setelah menyelesaikan study mereka di fakultas non kependidikan, mereka bekerja. Tapi nasib baik nampaknya tidak kunjung juga menyambangi mereka. Setelah melanglangbuana ke sana kemari mencari pekerjaan, tidak satu pekerjaanpun yang memiliki penghasilan yang bagus. Setelah melihat bahwa sertifikasi guru dan dosen diadakan, maka bergegaslah orang-orang ini masuk ke FKIP dan menganggap akta mengajar sebagai tumpuan hidup untuk mendapat jaminan gaji. Guru-guru yang terpaksa. Ini gambaran dari pendapat singkat beberapaorang terhadap mereka yang mengambil kuliah AKTA IV.

Sungguh sebuah dikotomi yang menyakitkan. Menyakitkan bagi mahasiswa AKTA IV -paling tidak saya. Lebih menyakitkan lagi karena pembedaan ini menyebabkan sebutan 'guru yang terpanggil," dan "guru yang terpaksa." Hemat saya, ungkapan ini agak berlebihan. Pasalnya, tidak semua orang yang non-FKIP yang memutuskan menjadi guru punya motivasi untuk memperoleh gaji tinggi karena sertifikasi guru. Arogansi terhadap mahasiswa AKTA sebaiknya tidak dilakukan.

Pengalaman pribadi saya, sejak kecil -saat sekolah di sebuah SD di desa Ajaobaki kecamatan Mollo Utara di pedalaman Timor Tengah Selatan-NTT- saya punya cita-cita untuk menjadi guru. Ini spontan keluar dari bibir saat ditanya mau jadi apa nantinya. Angan-angan ini masih terus ada saat SMP bahkan sampai SMA. Tahun 2006, saya duduk di SMA Negeri 1 SoE di TTS. Waktu itu hanya ada satu tujuan, menjadi guru bahasa Indonesia. Kebetulan subjek ini menarik bagi saya. Kendati demikian, kesanggupan pembiayaan untuk kuliah tidak saya miliki. Maklum, orangtua saya hanyalah petani miskin di desa di pedalaman pulau Timor. Setamat SMA, teman-teman saya mendaftar di FKIP. Belakangan saya mendengar dan bertemu dengan mereka secara langsung maupun di dunia maya dengan kecanggihan facebook, dan mendengar kabar mereka tentang kesuksesan mereka menjadi guru bahasa dan dosen bahasa. Ada yang bahkan menjadi guru bahasa Ibrani. Gelar-gelar pun dicantelkan di belakang nama mereka. Ada yang S.Pd, ada yang M.Pd, ada yang menjelang Ph.D di luar negeri. Mereka saya golongkan sebagai "guru yang sukses."

Setamat SMA, tawaran untuk bersekolah di Jawa dengan jurusan non kependidikan mematahkan niat saya untuk kuliah di Undana FKIP Bahasa Indonesia. Maklum, sekolah yang saya tuju di Jawa menjanjikan keringanan biaya, bahkan pembebasan biaya. Walaupun demikian, selama study di Lembang dan di Jogja, kegiatan saya tidak jauh-jauh dari mengajar. Bahkan mulai dari jenjang yang paling rendah. Saya bahkan pernah mengajar Taman Kanak-kanak. Sebuah jenjang yang kontras dengan tabiat saya. Seorang "guru terpanggil" mungkin akan terpanggil hanya untuk jenjangnya saja. Setelah tamat study, saya bahkan diminta untuk mengajar di sebuah Sekolah Tinggi. Dari Taman Kanak-kanak ke Skolah Tinggi. Memang tertunda menjadi guru. Jadi jika teman-teman saya menjadi "guru yang sukses," maka saya menyebut diri saya sebagai "guru yang tertunda." Bedanya saya dengan mereka adalah mereka mengetahui seluk beluk pendidikan, seluk beluk menjadi guru dan seluk beluk perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran bahkan evaluasi pembelajaran. Saya, mempraktekannya namun belum mengetahinya secara pasti. Beruntunglah, saya melanjutkan S2 saya di bidang pendidikan Kristen dan memiliki gambaran. Sayangnya S2nya belum wisuda-wisuda karena kendala biaya. (hehehehe).Dan sekarang saya mewujudkan impian itu untuk memahami sedikit tentang pendidikan dengan mengasah diri saya di FKIP Undana.

Jadi kalau orang non-FKIP dicap sebagai "guru yang tidak terpanggil" tapi "guru yang terpaksa," saya protes. Protes karena pengalaman juga mengajari kita untuk menjadi guru. Maka, saya menyimpulkan bahwa kurang bijak kalau meng-"gebyah uyah" semua mahasiswa AKTA IV sebagai mereka yang sudah pontang-panting mencari pekerjaan dan tidak menemukan kemudian mengincar lapangan alumni FKIP. Mungkin ada juga benarnya, tetapi sebaiknya lebih bijak mengatakannya.

Ada seorang dosen tua yang tidak menawan dan tidak cakap mengajar menurut beberapa teman saya. Orangnya tidak rupawan dan ungkapannya tidak terlalu jelas untuk ditangkap. Beliau asli FKIP. Tapi pernah selalu membela orang-orang non FKIP. Tidaksemua guru yang alumni FKIP juga awalnya terpanggil. Keterpanggilan itu pasca prose di LPTK. Ah.... pagi yang penuh dikotomi. Lebih baik saya menikmati lagu "anak Pantai"-nya Imanez sambil minum dulu, mumpung liburan Idhul Adha 1430K. Selamat menjadi guru.

Sabtu, 21 November 2009

MOBILITAS TINGGI


Setelah break sekian lama karena kesibukan, saya kembali "menjenguk" bloger saya yang sudah lama tidak disambangi. Memang setiap kata-kata adalah doa. Awal tahun ini saya berucap untuk memperjuangkan hidup. Dalam niat hati dan doa serta perjuangan yang cukup melelahkan saya memulainya. Sejak awal Agustus, satu-satunya universitas Negeri di NTT menerima saya untuk mengikuti program akta Mengajar IV. Inipun melalui perjuangan panjang karena UNDANA hanya akan menerima jurusan yang relevan dengan Fakultas dan jurusan yang dimilikinya. Seolah di-over ke sna ke mari, samapailah saya ke PR 1. Keputusan PRI saya diterima. Semua berkas disiapkan dan jadilah saya mahasiswa. Rasanya lucu juga jadi mahasiswa digabung dengan mahasiswa reguler untuk PKBMB dan Matrikulasi. Keanehan ini karena S2 saya sudah tinggal empat mata kuliah untuk menulis thesis. Pendeknya, semua proses masuk UNDANA saya lalui dan mulai kuliah diUndana lama sebagai mahasiswa Akta IV.

Mobilitas yang tinggi membuat saya kewalahan membagi waktu. Aktivitas harian saya jadinya adalah :
04.55 : Bangun pagi (selalu harus jam itu)
05.00-07.00 : Siaran program rohani pagi di Suara Kupang
07.00-07.30 : Pulang ke kost,mandi dan siap-siap ngajar pagi
07.30-12.30 : Ngajar (Senin d Camplong, selasa n Jumat NBS, rabu Oesapa, Kamis
Fatufeto, Sabtu SKFM-nyiar.
12.30-12.30 : Pulang kost, baring 15 menit. (Kadang tidak sempat pulang)
12.30-14.00 : Berangkat kuliah (maklum dengan angkot)
14.00-17.00 : Kuliah Akta IV
17.00-19.00 : Pulang kost, kerja tugas, mandi, baring dikit
19.00-00.00 : Ke studio dan siaran malam.
00.30 : ZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzz
Jadi waktu tidur saya semakin sedikit. Beruntunglah adik saya si "ragil" datang ke kupang diutus untuk kursus mempersiapkan kuliah di FKIP bahasa inggris, jadi bisa bantu Mempersiapkan makanan dan mengurus kost. Bantuan darinya membuat agak ringan kerjaan. Syukurlah. Inilah perjuangan kehidupan....Semoga perjuangan ini tetap diberi kekuatan oleh Tuhan.

Jumat, 24 Juli 2009

SUSAHNYA MENCARI


Petualangan selalu dekat dengan pencarian. Paling tidak hal ini yang tergambar dalam hidup yang saya alami. Petualangan hidup ini selalu berisi pencarian. Dulu saat remaja, pencarian jati diri. Kemudian pencarian sekolah yang tepat dan mendukung, kemudian pencarian kerja dan sekarang sebuah pencarian jodoh (hehehe) dan satu yang baru saja digumuli adalah pencarian akta mengajar. Ini adalah sebuah ide yang muncul setelah beberapa tahun terakhir muncul perasaan bahwa nampaknya dunia pengajaran adalah dunia yang cocok dengan saya. Ini tidak saja sebuah perasaan pribadi tetapi juga komenytar teman-teman dan senior tentang sepak terjang saya di dunia pengajaran. Penasaran dengan itu, saya memiliki kerinduan untuk akhirnya mendalami pendidikan. Untuk masalah mengajar, mugkin semua orang pernah melakukannya. Tidak tergantung sesederhana apa proses pengajarannya. Tetapi untuk menjadi profesiaonal, perlu persiapan. Untuk mengajar, saya sendiri sedikitnya pernah mengajar di beberapa kalangan. Aanak TK? Pernah waktu di Gunung Kidul Lesanak SD dan SMP pernah di Gunung Kidul dan Klaten. Orang dewasa, juga pernah di gereja. Mahasiswa? Pernah dan sedang. Bahkan pernah punya pengalaman mengajari rang gila. Di Cikidang Lembang, saat melayani di Panti Rehabilitasi. Semua pengalaman ini mungkin saja cukup memberikan dasar untuk mengajar. Tetapi nampaknya ini hanyalah pengalaman yang belum disertai ilmu khusus mengajar. Karena itu S2 pendidikan Agama Kristen coba saya tekuni, kendati agak tersendat hingga kini.

Menyusun sillabus, memersiapkan bahan ajar, melakukan pengajaran di kelas tatap muka, memberi tugas dan evaluasi pengajaran, menghitung nilai dan memasukkan nilai ke urusan administrasi mahasiswa sudah saya lakukan. Tapi nampaknya belum pas saja karena belum dapat ilmu khusus. Maka itu, muncul keinginan untukmengambil akta mengajar.

Mulailah saya merasakan bagaiman susahnya "dilempar" ke sana ke mari. Teman saya pernah bercerita kalau salah satu Universitas Negeri ternama d Kupang membuka akta Empat. Daripada ke Jawa lagi, lebih baik kerja sambil ambil akta. Datanglah saya ke kampus itu. Setelah dengan prose tarik ulur dan seringkali dijiwai oleh tindakan agak semena-mena, saya akhirnya diperkenankan mendaftar di untuk memulai akta Mengajar.Mencari akta itu ternyata susah. Apalagi aktanya sekarang adalah tahun terakhir. Mudah-mudahan saya diterima dan mendapat ilmu.

Lebih penting lagi adalah, mencari jodoh pengganti yang tepat dan seimbang dengan kita itu susah. Heheheee

Selasa, 05 Mei 2009

MEMBACA DINAMIKA HIDUP VIA SMS

Sepanjang bulan Maret dn April, saya sangat bersyukur karena ada banyak hal yang Allah kerjakan dalam hidup saya. Paling tidak, ini terbaca dari SMS yang dikirimkan kepada saya. Berikut beberapa SMS,

Syalm k2, gmana dgn t4 mgang d kupang? Msh bermnt? Keadaanx tggl dknfmskan kepdt untuk disetujui. Klw berminat b tnggu jwbnnya, t4 d Oelon grj GMIT usi apakaet
085739832xxx

Slmt mlm kak Soni, bt mau ttip ucpn slmt Ultahbesok untk Pak Medison Tanesib, jgn lupa o, bsk pg dibca dan didoakan. Sekian dan trimakasih,TYM
081237978XXX

Happy b'day...pjg umur, enteng jodoh, cepat nikah.. adi meak jangan nangis ya..
085239337xxx

Kebahagiaan datang dari hati, mnglir dalam jiwa n memancar dalam senyuman. Temukan kebahagiaan pd setiap hal yg kamu jupai dalam hidupmu, ciptakan senyumansebagai tanda syukur tuk semua sebagai rasa bahagiamubuatlah dunia tersenyum dengan senyuman hari ini. Mat ultah Mas semoga panang umur, diberkati Tuhandalamsetiap rencanayang sementara dan akan datang
081339286xxx

Comment : Wah ini SMS terpanjang neh... BTW thanks yah Mas Yanto!!!

Bgn..bgn..bgn..adaseorang bayi lahir... Hehehe. Happy b'day y h2. Smg pnjg umur, dbrkti Tuhan ms dpn, plynn, cita2 n cinta. Hdiah dr B Mas, Kemenyan dan Mur. Hehehe
085339008xxx

Hari KeMarin is KeNangan,Hari ini isPeristiwa, and Hari Esok isTandaTanya, met Ultah Panjang Umur, disayang kel, shbt, orng yang disayangi tutama TUHAN and sukses dalam segala hal.
08525304XXX

Comment : Lho, bahasa Inggrisnya kok dikir - dikit doang. Artinya lilel2 sih i can...

Tuhan mengecupmu dengan sinar mentari pagi. Dia mengulurkan tangannya menggapaimu dan mengajakmu berjalan bersamanya hari ini. Gapailah tangannya melalui doamu. Mat Ultah, panjang Umur diberkati Tuhan, sukses dalam tugas dan pelayanandan cepat dapat Jodoh ya..
08523938xxx

Comment : Jodoh lagi didoain... Syukurrrrrrrr

Slmt ultah, pjg umur Tuhan Yeus berkati dalam segala hal
0812379xxx

Pg met ltah smga bertmbh hkmt N d berkati pelayanan, pekerjaan n enteng jdhnya. Gbu
0856610419xxx

Mat Siang, Tadi jam 9 yadi pu Mama melahirkan. Nona.
08133909xxx

Comment : Dapat anggota keluarga baru oiii,,,,

Mat siang,pak dimana? Tadi b pi di pak pung kos tapi sonde ada jadi pulang dengan kosong.
08525345xxx

Comment : Ini mah orang mau konsiltasi skripsi..

Kami turut berdukacita atas dipanggilpulangnya opa ke pangkuan Bapa di Sorga untuk istirahat
081347270xxx
Pdt. Paulus L

Comment : Ada yang lahir, ada yang meninggal, ada yang ulangtahun. Dinamika Hidup

Shalom bro,Om Jhony Fanggidae pung istri ada masuk RMH SKT.
085239337xxx

Yah.... Dinamika Hidup. Trimakasih Tuhan karena engkau mampukan aku menjalani semua ini....

Jumat, 20 Maret 2009

TANGGA KE 29


Aku terkesima dengankata-kata lagu, "hidup bukan karena hari, hidup hanya karena arti." Mataku berkaca-kaca saat nyanyian ini menjadi nyanyian lagu pertama dalam acara worshipline (SEBUAH ACARA DO'A di Radio SKFM )malam ini.Dalam hatiku muncul berbagai macam perasaan. Salah satunya adalah tentang beratnya jalan-jalan hidup yang aku lalui. Jalannya memang tidak mudah. Berkelok-kelok. Kadang ada tanjakan yang tinggi yang aku tidak dapat ketahui, kapan puncak dapat aku capai. Kadang begitu menukik curam dan penuh dengan bahaya. Tetapi satu hal yang pastu, di tengah-tengah berbagai gelombang dan prahara hidup itu, aku sudah tudak sendiri lagi. Sejak usiaku 17 Tahun aku menyadari sepenuhnya bahwa aku tidaklah sendiri lagi. Ada "Tangan yang kuat" yang menuntun aku.

Sambil aku menuliskan bagian ini, lagu-lagu mazmur 23 terus mengalun dari speaker di depan meja siarku. Tuhan adalah gembalaku, Takkan kekurangan aku, Ia membaringkan aku, di padang yang berumput hijau. Ia membimbingku ke air yang tenang, ia menyegarkan jiwaku, Ia menuntunku ke jalan yang benar oleh karna nama-Nya sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman.

Tuhan, terimakasih untuk tangga ke 29 yang aku injak sekarang. Di bawah tangga-tangga ini terlihat tangga-tangga yang pernah aku tapaki. Ada banyak hal, tapi kalau engkau masih memberi aku kesempatan untuk hidup, biarkan aku menapaki tangga-tangga itu dengan tangan-Mu. Aku ingin tangan-Mu menggandeng aku terus, sampai maut menjemputku. Aku masih ingin melayani engkau Tuhan. Bimbing aku supaya terang-Mu semakin nyata dalam tapak-tapak kecilku ini.

Jumat, 27 Februari 2009

KIAT MENGHADAPI MASALAH ALA NAAMAN


Masalah dalam hidup manusia adalah bumbu-bumbu kehidupan. Istilah ini pernah saya dengar dan terrekam persis dalam benak. Tetapi seiring persoalan yang bertubi-tubi, rekaman yang tersimpanpun mulai memudar bahkan hilang. Saat masalah kehidupan menghimpit, fokus seringkali tidak jelas. Ini saya alami sendiri sejak awal 2009 ini, sampai suatu hari seorang rekan pelayan meminta saya untuk membawakan firman Tuhan di gerejanya di Kupang. Dalam benak saya, saya ingin sekali membawakan tentang Naaman. Ini karena akhir-akhir ini saya sedang menggeluti sebuah bacaan kecil. Buku ini juga saya temukan secara tidak sengaja di timbunan sampah-sampah bekas angkutan barang-barang yang dibenahi saat banjir lumpur menimpa rumah keluarga Banfatin (om saya) di Toineke. Secara tidak sengaja saya menemukan sebuah buku usang yang sudah kumal dan kekuning-kuningan dengan ejaan lama. Saya membaca-membaca- dan membacanya dan sangat diberkati dengan kehidupan isi buku kumal ber-ejaan lama ini.

Ketertarikan saya untuk mengkhotbahkan tokoh Naaman karena ia menghadapi masalah yang besar. Naaman seorang panglima yang tentu punya banyak bawahan; Ia juga seorang yeng terpandang dihadapan Tuannya dan dikasihi, bahkan ia disebut-sebut sebagai pahlawan. Sayangnya dia sakit kusta. Penyakit Kusta menurut Imamat 13:45 menyebabkan orang yang menderita itu harus diasingkan,bahkan mengenakan pakaian yang sobek-sobek dan tinggal di pembuangan. Sayang sekali, Naaman terancam di "ekstradisi" dari lingkungan kerajaan tempat ia sangat dihormati. Ini masalah yang dihadapi Naaman.

Tetapi bacaan ini membawa saya kepada tokoh kedua yang tidak terlalu istimewa. Dia seorang gadis (yang kesaksiannya mungkin tidak akan dipercaya), seorang anak (ingusan), dan seorang budak Naaman pula. Hebatnya, gadis kecil ini punya iman bahwa nabi di Samaria itu "tentulah" atau dalam terjemahan lama "niscaya" mampu menyembuhkan. Inilah iman. Iman yang tidak dimiliki orang gede-an tapi oleh seorang anak kecil yang sederhana muncul iman itu. Iman yang kita miliki dapat menolong kita untuk memberi solusi bagi orang yang bermasalah.

Faktor kedua menurut catatan dari perenungan saya adalah kesiapan batin. Ketika berangkat mengikuti saran untuk memperoleh kesembuhan, Naman mempersiapkan 10 talenta perak, 6000 syikal emas dan sepuluh potong pakaian (harta)ia juga membawa surat (administrasi baik) dan diplomasidengan raja. Tapi Dia tidak siap bathin katika sesampainya di Israel, raja bahkan memintanya menghadap Elisa dan Elisa pun tidak mau menemui dia selain menyuruh bujangnya menemui Naaman. Perbuatan ini membuat Naaman gusar (ay.11) dan panas hati (ay.12). Saya menyimpukan bahwa kesiapan bathin tidak ada dari Namaan dalam memahami solusi Alah. Dalam sebuah masalah, kita harus menyiapkan bathin yang kuat. Saya refleksikan dengan diri saya sendiri.Bebebrapa aktu lalu secara fisik, dan administrasi saya berpikir bahwa mustahil saya akan diganti dari jabatab saya, tapi saya tidak secara psikis dan bathin siap untuk diganti sampai saat pergantuan itu datang. Saya benar-benar diganti. Saya bersyukur, malam itu saya mendapat sebuah kekuatan bathin.

Dan hal ketiga adalah harus menjalani proses. Naaman bisa saja mandi di Parpar dn Abana yang lebih bersih, tapi prosesnya adalah, Ia harus datang dan sampai di Israel dan mandi di sungai Yordan. Supaya Ua tahu bahwaUsrael ber-Allah. Proses harus dijalanunya. Dan saat Naaman menjalani proses itu maka, pulihlah tubuhnya kembali seperti seorang naka dan iamenjadi tahir (ay.14).

Dengan demikian selesailah masalah Naaman, dan selesailah saya menulis point ini karena waktu sudah menunjukkan jam 00.41 sekarang. Saya harus segera tidur karena pagi hari jam 04.55sudah harus bangun dan bercuap-cuap kembali di Sambut Pagi Radio Suara Kupang.

Apapun yang terjadi, saya mendapat sebuah makna penting untuk hidup. Kalau menghadapi sebuah masalah, ingat tiga hal : (1)Iman adalah modal; (2)Kesiapan Bathin;(3)Menjalani Proses. [MT]

Kamis, 05 Februari 2009

TOLONG...SAYA KECOPETAN ... (di Kupang)


Baru saja pelajaran tentang cara menafsir Alkitab selesai, saya bergegas pulang. Dengan berjalan kaki + 1 Km ke jalan raya untuk akhirnya menumpang angkot, saya masih sempat membalas SMS dari seorang siswi binaan STII. Dia bertanya, "kalau seandainya Yudas tidak menjual Yesus, apakah yang akan terjadi dengan kamu?" Telfon genggam saya saya isi di kantong tas dan dengan sekali panggil, angkot yang akan saya tumpangi segera berdiri. Mata saya masih sempat mengawasi dua atau tiga orang di atas angkutan kota yang saya tumpangi. Beberapa orang mahasiswa duduk di kursi yang berhadapan dengan saya. Sementara di samping saya, duduk seorang kakek. Saya menduga dia pengungsi. Jalur yang saya lewati adalah jalur pengungsi Tim-Tim. Dalam perjalanan, beberapa mahasiswa turun dari angkot tapi saya rasa, tidak pernah berkurang penumpang di dalam. Beberapa kali saya merasa, kakek yang duduk di samping saya seolah "mendorong" saya. Naluri "jawa" saya muncul. Jangan-jangan kakek itu akan mencopet. Tapi segera saya tepis anggapan itu. "Masa,sih.. di kupang ada copet. Kayak bis jogja - Solo atau Kartosuro - Semarang aja.." Setelah turun angkot, saya memanggil ojeg, yang kebetulan ada di mana saja di Kupang, untuk tiba di kost saya. Dengan kelelahan dan rasa kantuk yang dalam saya membuka pintu, masuk dan siap untuk istirahat siang. Sekedar untuk memastikan apakah ada pesan yang masuk, saya mencari telpon seluler saya, tapi astaga.... Sesudah bongkar sana sini, tidak saya temukan lagi....

Handphone itu raib di Bemo tadi. Saya baru sadar, copet ternyata tidak hanya ada di Semarang, terutama di Pedurungan dalam bis menuju Kartosuro. Waktu itu alih-alih menjual koran, dia merogoh kantong saya, beruntung tidak ada uang atau barang berharga lainnya di sana. Salah sasaran. Seharusnya ia tidak mencopet pada anak kost seperti saya. Ehehehe... Ketipu dia. Tapi sekarang hal itu terjadi di Kupang, kota propinsi kecil yang sepi pengamen. Ternyata mental jelek tidak harus di kota Besar. Sekarang, sayalah korbannya, tanpa HP. Susah menghubungi siapapun. Saya dapat merasakan sekarang bagaiamana orang yang dikarantina tanpa HP dan bagaimana orang yang meminta dukungan doa dari saya karena kehilangan. Tuhan kuatkan saya... Amin.

Jumat, 09 Januari 2009

KUNING DAN 2009

Trend warna 2009 menurut beberapa orang yang berkecimpung di dunia urus-mengurus warna 2009 adalah kuning. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang gampang percaya dengan ramalan atau hal-hal yang berhubungan dengan ramalan itu. Tetapi warna nampaknanya memberi makna tersendiri bagi suatu peristiwa. Awal 2009 ini saat berkunjung ke rumah Om, saya ditegur karena semua pakaian saya berwarna hitam. Itu memang yang saya bawa, sekedar untuk menghindari kelihatan kotor dari pakaian. Maklum, maunya simple dan tidak membawa banyak pakaian saat liburan. Di awal tahun ini, beberapa teman mengajak untuk seragam kuning. Sebagai orang yang ingin menunjukan kekompakan dengan teman-teman, sayapun mengenakan baju kuning saya sebagai tanda solidaritas. Ternyata mereka main jepret-jepretan. Jadilah pasukan kuning.

Tapi Mimosa menggambarkan kuning peneduh yang “hangat dan erat” dan disebut mewakili harapan dan optimisme. Satu pesan besar seiring keuangan tahun tersebut tak stabil!

“Kuning menunjukkan kehangatan dan kualitas penaungan matahari, semuanya perangkat kita sebagai manusia yang secara alamiah menarik untuk menjamin keselamatan,” tutur Leatrice Eiseman, Direktur Eksekutif Pantone Color Institute, kepada Marketwatch.com “Mimosa juga banyak menyuarakan pencerahan, sebagaimana warna-warna terang yang memercikkan imajinasi dan inovasi.”
Mudah-mudahan keakraban yang hangat di antara teman-teman kerja akan terbina di tahun 2009 ini Aminnnn amin.

Senin, 05 Januari 2009

SELAMAT DATANG TAHUN "PERJUANGAN MASA DEPAN"


Beberapa jam sebelum lonceng gereja berdentang di seluruh pelosok pulau Timor sebagai tanda bahwa tahun lama telah berlalu, saya masih ada di perjalanan pulang ke kampung halaman saya. Sukacita besar saat bertemu dengan mama dan Papa setelah lama tidak jumpa. Ini tradisi akhir tahun saya. Pulang kampung, walaupun saat study saya tidak pernah melakukan tradisi ini.

132 Kilo untuk ditempuh bukanlah perjalanan yang menyenangkan bagi saya. Apalagi harus berganti-ganti kendaraan sebelum akhirnya sampai di rumah. Setelah sampai, pekerjaan pertama adalah sekedar bercerita tentangkeadaan "kelabu" 2008 dan sekedar info tentang perihal adik-adik dalam kuliah dan kerja mereka. Baju saja hendak sedikit beristirahat, penanggungjaab gereja memberitahu jika kebaktian malam akhir tahun (baca :kunci tahun) akan diadakan jam delapan malam dan saya diminta memimpin ibadah ini. Sebenarnya saya juga ingin menolak. Tapi saya teringat motto study dulu : "beritakanlah firman tuhan itu, baik atau tidak baik waktunya." Cuaca desa kelahiran yang sangat dingin menambah rumit persiapan khotbah tutup tahun. Tapi dua jam menjelang ibadah dimulai semua persiapan diselesaikan dengan baik. Puji Tuhan.

Malam hari itu saya berkhotbah dari kitab Pengkhotbah 3. Untuk segala sesuatu ada waktunya. Memulai khotbah saya, sebuah ilustrasi saya pakai sekedar mengingatkan jemaat bahwa setiap manusia diberi satu pensil dan sebuah lembaran untuk ditulis. Tetapi manusia tidak pernah diberi penghapus untuk menghapusnya. Apa yang dialami dalam rentang waktu satu tahun tidak bisa dihapus kembali. Tulisan itu sudah terjadi. Kerena itu yang harus dilakukan manusia adalah merasa bahwa inilah waktu yang tepat untuk merefleksi diri. Merasa bahwa hidupnya memang tidak harus selalu menangis. Ada waktu untuk bergembira. Saya juga mengingatkan bahwa sepanjang 2008 sudah ada berapa banyak orang yang tiada tetapi kalau kita masih hidup, itu karena anugerah. Tapi kita harus selalu mengingat bahwa sebagaimana ada waktu untuk hidup maka ada waktu untuk mati. Saya melihat bahwa waktu yang akan segera berlalu (2008) tidak bisa diulang kembali. Yang perlu bukan meratapi, tapi meresapi dan berupaya untuk berbuat yang terbaik di 2009.

Pergantian tahun kami rayakan dengan sangat sederhana. Berdoa bersama dan mengunjungi kakek yang sudah sangat uzur dan berdoa bersamanya sebagai wujud syukur kehidupan. Malam itu dalam kesederhanaan, saya bersyukur bahwa akhirnya berbagai kemelut di 2008 dapat saya lewati. Lebih dari itu fokus saya di 2009 mulai saya tetapkan. Harus ada beberapa persoalan mengnai masa depan yang harus saya lakukan. Langkahnya dimulai dari malam itu.Sambil diiringi ucapan selamat dari beberapa kawan yang bergetar terus saya bersyukur dan merasa bahwa 2009 adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. Dengan demikian 2009 saya sebut selamat datang tahun Perjuangan Masa Depan.

Minggu, 28 Desember 2008

DESEMBER KELABU


Desember 2008 ini adalah desember yang mengesankan bagi saya. Sebenarnya saya sendiri tidak begitu memahami jalan pikiran kenapa penulis lagu desember kelabu menuliskan lagu itu. Tetapi mungkin kata itu yang tepat menggambarkan suasana hati saya di bulan desember 2008 ini. Bagaimana tidak, awal Desember menyisakan persoalan di bulan November tentang persoalan uang praktikum beberapa orang adik yang kuliah di Jawa.Belum berlalu, masalah radio yang disegel masih menjadi persoalan yang memakan pemikiran saya juga. Penyelesaian mata kuliah Ibrani dua yang minim alat lebih menambah beban ini, ditambah lagi dengan berita bahwa saya juga tidak akan lagi menduduki posisi saya di kampus seperti dulu. Yang terakhir ini sebenarnya tidak terlalu berpengaruh bagi saya, tetapi desember ini diwarnai dengan peristiwa-peristiwa ini.

Tetapi Tuhan baik. Dia tidak pernah membiarkan anak-anaknya sampai tergeletak. Hari ini 28 Desember 2008, hari minggu terakhir 2008 satu persatu dari persoalan ini terjawab. Kami baru saja mensyukuri datangnya 200kilo pemancar baru kami dalam ibadah singkat di studio, dan malam ini akan mulai dikerjakan. Uang adik-adik untuk praktikum diselesaiakan. Dan satu lagi yang menyita pemikiran tentang adik yang bekerja di Surabaya yang tidak memberi khabar juga sudah terjawab lewat telpon dari salah satu keluarga di Bali bahwa Ia sekarang ada di Bali. Satu demi satu persoalan dapat terselesaikan berkat Tuhan. Syukurlah, Desember kelabu itu seharusnya mulai diganti dengan desember Ceria. Trimakasih Tuhan 2008 ini penuh dengan suka duka tapi Engkau membawa saya melewatinya.

Sabtu, 06 Desember 2008

“MANTAN DOULOS”


(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama. Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.

Awalnya aku ingin kuliah di STT Doulos. Keinginan ini juga oleh karena dorongan dari Omku. Sebut saja Marthen Banfatin, Om yang menyayangi aku. Satu-satunya saudara laki-laki mamaku. Tuhan tidak memberi mereka anak, tetapi Tuhan memberi kami seorang Om yang luar biasa yang dapat memahami kami. Puji Tuhan. Suatu hari beliau meminta, kalau kamu ingin kuliah ke Jawa, saya dukung, katanya. Akupun memutuskan untuk ikut perekrutan STT Doulos ke Jakarta. Pikirku, STT Doulos akan sama dengan STT yang lain yang mencetak para pendeta di GMIT, gereja asalku. Setelah keputusanku bulat, aku diantar dengan air mata di pelabuhan Tenau kupang dan berangkatlah aku ke Jakarta. Membayangkan Jakarta dan kampus yang megah, akupun berangkat.
Beberapa hari berlayar, tibalah di Jakarta. Jujur, aku belum pernah membayangkan kota besar. Jangankan Jakarta. Aku bahkan belum pernah menginjakan kaki di kota propinsi kami yang bernama Kupang. Setiba di Tanjung priok, kami dijemput dengan mobil khusu dan diantar ke Cipayung, Jkarta Timur. Langsung hilang bayanganku tentang kuliah di tempat yang nyaman setelah aku melihat dengan mataku sendiri kampus STII Jakarta. Sampai di sana kami dibagi dalam dua rombongan. Sebagian tinggal di Jkaarta dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Bandung. Keindahan pemandangan d Jalanan menuju Bandung sejenak membuat aku lupa akan tujuan utamaku kuliah. Sekitar Jam 11 malam, tibalah kami di satu desa yang sunyi dan gelap. Pada akhirnya aku tahu desa itu bernama Langensari dan kampung tempat kami dibawa bernama Cikidang di kecamatan Lembang, Bandung. Astaga, kami tidur malam itu di ruangan yang bau kotoran ayamnya masih menyengat hidung. Aku tidak tahu persis kalau itu kampus yang dimaksud. Maklum, kami tiba pada malam hari. Besoknya, betapa kagetnya diriku, kami ternyata berada di desa yang terpencil. Sepanjang mata memandang hanya ada gunung dan hutan. Astaga, aku baru sadar, keinginanku untuk melihat kampus yang mewah sirna. Aku tidak bisa pulang karena kemana aku harus pergi, akupun bingung.
Proses perkuliahan berjalan dan aku sadar bahwa ada banyak masukan dan ilmu yang kudapat dari para pengajar. Tetapi banyak keganjilan dalam hal manajemen membuatku bertanya-tanya tentang kejelasan masa depanku menjadi pendeta GMIT. Mungkinkah aku akan menjadi pendeta di GMIT? aH.. aku berusaha menjauhkan pikiran itu. Tapi kembali aku dihantui karena setiap alumni diminta hanya untuk melayani sebagai penginjil dan bahkan melayani di panti rehabilitasi. Aku semakin sadar bahwa keinginanku menjadi pendeta GMIT akan tidak tercapai.
Di tengah kebingunganku itu, STT Doulos kemudian diminta untuk tutup. Beritanya aku baca sendiri keluar di Koran Pikiran Rakyat. Aku kemudian semakin kuatir dengan masa depanku. Dari Bandung, kami dipindahkan ke Jakarta dan dari Jakarta, kami akan dipindah lagi. Aku memutuskan untuk pindah ke STII Jogja walaupun saat aku pamit, aku tidak direstui, bahkan nyaris dipermalukan. Tapi aku bersyukur pada Tuhan aku dapat pembekalan dan mengenal Yesus di sana. Aku kemudian hengkang ke STII Jogja yang membentukku sampai menjadi yang sekarang, walaupun belum tidak menjadi pendeta, aku enjoy melayani sukarela di GMIT. Demi pekerjaan dan kecintaanku pada Tuhan

PAPA . .


(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama saya pada 29 September 2008).Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.

Ayahku seorang Petani. Papa Oktovianus Tanesib. Petani, di daerah lain mugkin bisa diandalkan. Tapi di Timor? Petani jauh dari bayangan. Papaku lahir dari sebuah keluarga Besar. Papaku anak pertama, disusul papa Yunus Tanesib, Tante Ully, Tante Koba, Tante Yanse, Bapak Yulius, Tanta Sin dan yang terakhir hampir seumuran aku namanya Nitanel. Sebagai anak pertama dalam keluarga, papaku harus berpikir tentang adik-adiknya. Tapi puji Tuhan, semua adiknya sampai sekarang “Takut Tuhan.”
Walaupun kondisi ekonomi keluarga kami sangat minim, satu hal yang menarik dari papaku, sejak muda, dia sudah melayani Tuhan. Awalnya dia hanya menjadi syamas, kemudian menjadi penatua,dan kemudian menjadi Penanggungjawab gereja. Tugas ini cukup berat. Maklum pendetanya hanya satu orang, sedangkan gerejanya ada sembilan dengan jumlah jemaat masing-masing gereja, ratusan bahkan ribuan. Papaku 18 tahun melayani Tuhan sebagai pelayan syamas, penatua bahkan Penanggungjawab.
Mungkin gara-gara itu, kami mulai di ajar sejak kecil untuk tertib secara rohani. Aku ingat, kamidibiasakan untuk bangun jam 5 pagi, duduk bersama-sama kemudian berdoa sebelum kami melakukan pekerjaan. Desa kami, Ajaobaki adalah satu desa di Kapan, kecamatan Mllo Utara yang sangat dingin. Bangun di jam itu sama dengan menyiksa diri. Tapi disiplin ini mengarahkan kami dan akhirnya kami juga belajar takut akan Tuhan. Walaupun sampe sekarang masih juga terus belajar. Tapi bagi aku, apaku adalah fondasi iman dan panggilanku sebagai pelayan Tuhan.
Aku ingat, papaku sungguh-sungguh berjuang untuk kami. Semasa kecil aku ingat, papaku berdagang buah-bahan dan hasil bumi. Hasil bumi yang dijualnya adalah ketumbar, bawang putih, dan buah unggulan Kapan, Apel. Dulu seingatku, buah Apel adalah produk di kapan. Sayang, sekrang sudah musnah… tanpa bekas bahkan. Dengan hasil berdagang, kami dibelikan pakaian ala kadarnya untuk bersekolah di SD. Menghidupi kami dengan sarapan bubur setiap pagi sebelum ke sekolah, dan biaya lain. Yang sangat membuat aku terharu, saat aku SMA, papakuyang tidak pernah mengena mengenakan celana panjang, berusaha membelikan sebuah celana panjang untuk aku. Aku malu-malu mengenakannya (maklum belum pernah bercelana panjang). Tapi astagaaaa… celana itu kebesaran dan kedodoran karena dibeli tanpa ukuran. Tapi syukurlah. Aku semakin sadar. Walaupun papaku seorang petani, ia menginginkan kami untuk menjadi lebih baik darinya. Aku ingat dulu papaku pernah berkata, kendatipun aku tidak pernah belajar Alkitab, anakku harus mengerti tentang Alkitab dengan belajar. Terimakasih Papa.
Sekarang aku belum bisa berbuat sesuatu untuk papaku. Tapi aku akan terus membuat dia tersenyum dan bangga punya anak seperti aku.