Selasa, 09 Juli 2013
FILOSOFI AYAM BERKOKOK (versi saya)
Ujian untuk tugas akhir seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tim penguji tesis seringkali di luar dugaan. Saat menulis tesis saya, tidak terpikirkan sama sekali satu pertanyaan yang pada ujian tesis dilontarkan oleh dosen penguji saya Prof. Dr. Gerrit Singgih, yang didampingi Dr. Suroso, M.Pd, M.Th. dan Dr. Samuel Handali. Pertanyaan ini disampaikan Prof. Gerrit Singgih. “Coba, tolong peragakan, bagaimana suara ayam berkokok di Timor. Apakah sama bunyinya dengan cara ayam berkokok di Jawa?” Sambil senyum, Prof. Gerrit menanti jawaban saya. Diluar dugaan saya, Dr. Suroso dengan fluently mulai bersuara laksana ayam jantan dan kemudian terkekeh-kekeh sambil menyuruh saya menirukan. Dr. Handali, dekan Pasca Sarjana Universitas Kristen Immanuel Yogyakarta, yang kala itu belum pulih pasca insiden kecil saat memperbaiki talang di rumahnya yang duduk sebagai penguji juga hanya tersenyum saja. Pendadaran yang tadinya menakutkan, tiba-tiba saja menjadi suasana yang penuh tawa dan kehangatan. Kendatipun saya sungguh-sungguh grogi, pertanyaan ini menjadi menarik saya renungkan.
Sepulang dari ujian ini, bahkan sesudah wisuda dan bekerja, pertanyaan Prof. Gerrit Singgih ini terus terngiang. “Bagaimana suara ayam berkokok di Timor. Apakah sama bunyinya dengan cara ayam berkokok di Jawa?” Pertanyaan ini terus ada dalam pikiran saya. Lebih lanjut saya berpikir, apa pentingnya pertanyaan ini dalam sebuah ujian tesis Magister Pendidikan Kristen? Oh, mungkin karena judul tesis saya memang berhubungan dengan bagaimana bahasa Melayu Kupang dipakai untuk meningkatkan minat belajar murid Sekolah Minggu. Sampai suatu malam, saat akan pergi tidur, seperti biasa saya menyetel ke sana kemari radio butut saya, mencari program radio yang mungkin masih enak didengar sebagai pengantar tidur. Nyaris mendekati batas akhir gelombang FM, tiba-tiba saya mendengar suara seseorang dengan dialek Timor yang sangat kental. Entah berkhotbah, entah berceramah, saya tidak tahu, tapi sangat menarik untuk diikuti karena sedang membahas juga tentang ayam berkokok. Prof. Dr. Ayub Titu Eki, bupati Kupang, bicara dengan dialek Timornya yang kental bahwa orang tua zaman dahulu di Timor yang tidak berpaut pada jam dinding untuk menghitung datangnya pagi. Mereka hanya mendengar dan menghitung suara ayam jantan berkokok untuk memastikan bahwa matahari akan segera terbit dan hari beranjak pagi.
Dalam kebiasaan orang Timor, sebagaimana yang saya sendiri juga pernah alami sebagai seorang anak yang lahir dan dibesarkan di pedalaman pulau Timor, orang-orang tua peka sekali dengan suara ayam berkokok setiap malam. Saat pergi tidur, orangtua akan berpesan kepada anak-anaknya untuk segera bangun saat ayam berkokok. Dalam terjemahan bebas, kira-kira nasehat itu berbunyi : “ingat, besok, saat ayam berkokok, segera bangun!” Apalagi jika akan ada sebuah pekerjaan besar yang akan dilakukan esok hari. Untuk lebih jelasnya, perihal ini saya tanyakan pada mama dan bapak saya. Sepanjang malam sampai menjelang pagi, katanya ayam akan berkokok tiga kali. Kokok ayam pertama kali diperkirakan sekitar jam satu dinihari. Kali kedua diperkirakan jam tiga dinihari, dan kokok ketiga diperkirakan akan terjadi jam lima dinihari. Para orangtua biasa akan membangunkan anak-anaknya pada saat kokok ayam kali kedua. Semua anak yang berumur di atas enam tahun harus segera dibangunkan. Dalam tradisi di kampung saya di Mollo Utara yang dingin sekali, atau mungkin ini kebiasaan dalam keluarga kecil Oktovianus Tanesib, ayah saya, sesudah bangun orang akan menyalakan api untuk dua fungsi yakni selain untuk memasak makanan bagi mereka untuk sarapan pagi, juga untuk menghangatkan badan. Sambil duduk mengelilingi api di dalam ‘ume kbubu’ rumah khas Timor, demi menghangatkan badan, orangtua akan menasehati anak-anaknya. Nasehat-nasehat utama biasanya adalah anak-anak harus rajin bekerja, bangun tidur lebih awal supaya bisa mempersiapkan diri agar bekerja dengan rajin dan esok lusa sesudah besar tidak hanya mengharapkan meminta-minta makanan dari orang lain bahkan mencuri. Nasehat-nasehat para orangtua biasanya juga mencakup kerja yang keras, santun pada orang lain, bahkan tidak boleh malas karena malas bekerja akan berpangkal pada mencuri. Nasehat lain adalah agar berbuat baik kepada orang lain. Anak-anak yang malas bangun atau sengaja mengacuhkan perintah orangtua untuk segera bangun biasanya akan menjadi sasaran kemarahan pagi-pagi buta. Kokok ayam ketiga adalah tanda untuk mulai keluar dari rumah untuk bekerja. Entah sekedar mencari air untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, mencarikan pakan untuk sapi atau untuk mulai beraktivitas di kebun. Jelas bagi saya, dalam tradisi orang Timor, kokok ayam adalah tanda yang mengingatkan untuk bersegera, mempersiapkan diri, dan tidak bermalas-malasan. Mereka juga selalu diingatkan untuk santun kepada orang lain dan memegang adat istiadat. Waktu ini juga merupakan waktu komunikasi orangtua dengan anak-anaknya dan waktu bagi orangtua untuk membekali anak-anaknya dengan nasehat sebelum memasuki satu hari. Ini jarang dilakukan dalam zaman modern ini. Orangtua tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya dan bahkan untuk menasehati mereka. Akibatnya adalah, kecenderungan anak-anak sesudah besar tidak menganggap bersalah bila merampas hak orang lain, malas, mengharapkan untuk mendapatkan uang atau makanan secara gampang dan tabiat-tabiat tak terpuji lainnya. Anak-anak itu tidak punya tatakrama, tidak santun pada sesama dan tidak menghargai orang lain. Hemat saya, salah satu faktor yang menyebabkan orang tidak merasa bersalah saat korupsi adalah karena tidak ada pendidikan dari rumah tangga yang dilakukan orangtuanya terhadapnya.
Perihal ini menarik jika dikaitkan dengan tradisi dalam gereja. Seingat saya, beberapa gereja GPIB di Jawa yang pernah saya lihat memasang tanda ayam di ujung atas menara gerejanya sebagai lambang. Saya tidak tahu persis makna lambang itu, tapi saya menginterpretasi lambang itu sesuai dengan latarbelakang bahwa Yesus pernah mengingatkan Petrus akan pengingkarannya “sebelum ayam berkokok.” Dugaan saya, lambang itu mengingatkan bahwa orang Kristen dan warga gereja tidak boleh mengingkari atau menyangkal Kristus setiap kali melihat pada lambang itu.
Bagian-bagian Alkitab dalam kitab Injil-injil menceritakan tentang ayam berkokok. Matius, Markus, Lukas yang disebut Injil sinoptik karena memiliki “pandangan yang sama,” mencatat peristiwa ayam berkokok. Bahkan Injil Yohanes juga mencatatnya. Ada beberapa catatan menarik mengenai kokok ayam. Matius 26: 34, Lukas 22:34,60, dan Yohanes 13:38 dan 18:27 mencatat “sebelum ayam berkokok,” tanpa menyebutkan perihal berapa kali ayam berkokok. Berbeda dengan itu, Markus 14:30 menyebutkan bahwa penyangkalan Petrus akan dilakukan sebelum ayam berkokok “dua kali.” Setelah Petrus menyangkal, maka berkokoklah ayam untuk “kedua kalinya.” Inti bagian ini memang terletak pada bagian penyangkalan Petrus kepada Yesus. Namun refleksi saya yang berakar dari pertanyaan Prof. Gerrit Singgih saat menguji tesis saya, menemukan bahwa jika waktu kokok ayam di kota Yerusalem sama dengan waktu kokok ayam di desa Ajaobaki-Mollo Utara, di pedalaman pulau Timor, maka penyangkalan Petrus yang dilakukan sebelum ayam berkokok untuk kedua kalinya justru dilakukan sebelum jam tiga dini hari. Wow, sebelum jam tiga dinihari, Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali.
Hal-hal yang dapat dikaitkan dengan ayam berkokok adalah sebagai berikut. Secara tradisional di Timor, refleksi tentang kokok ayam seharusnya mengingatkan anak-anak muda untuk terus berjaga-jaga, tidak malas bekerja, dan waspada selalu agar masa depannya tidak menjadi suram. Masa depan yang menjanjikan dan terhormat akan menjumpai mereka yang dengan tekun, rajin dan tidak bermalas-malasan. Sebaliknya “mentari tidak akan pernah terbit” bagi mereka yang hanya mau bermalas-malasan. Mereka hanya akan merampas hak orang lain dan makan dari piring orang lain. Dalam tradisi kitab suci, kokok ayam seharusnya mengingatkan orang Kristen untuk tidak menyangkal Kristus. Petrus, walalupun menyangkal Kristus sampai tiga kali sebelum ayam berkokok dua kali, namun akhirnya ia menyesali perbuatannya. Setiap kali melihat pada menara beberapa gereja yang bergambar ayam jantan, seharusnya orang Kristen diingatkan untuk tidak menyangkal Yesus seperti Petrus. Hingga kapanpun. ( MST)
Senin, 03 September 2012
LOPER KORAN DAN PUTERINYA
Sore itu saya terburu-buru menuruni lebih dari 30 anak tangga untuk akhirnya sampai ke jalan besar di mana kendaraan umum ke jurusan yang akan saya tuju lewat. Langkah kaki saya semakin cepat karena waktu saya untuk ‘on air’ tinggal beberapa menit lagi. Sebagaimana kebiasaan di kota ini, saya tidak terlalu peduli untuk menyapa orang-orang yang sedang berdiri dan atau duduk di sepanjang jalan. Sekedar berbasa-basi tidak terlalu penting di kota ini. Atau malah akan dianggap aneh jika berlaku lebih sopan dan atau bertegur sapa atau sekedar mengucapkan kata ‘permisi’ ketika akan lewat di depan mereka. Dalam-dalam saya kuburkan niat saya untuk berlaku sopan sebagaimana yang saya pernah dapat di negeri orang, lalu sayapun menyetop angkutan kota dan naik, lagi-lagi tanpa senyum dan basa-basi dengan siapapun di atas angkutan umum.
Belum lagi seratus meter angkutan kota yang saya tumpangi berjalan, dan sekali lagi angkot berhenti. Seorang bapak bertubuh besar, tinggi, kekar, berkulit hitam pekat dan berkumis naik ke atas angkot. Di pundaknya tergantung sebuah tas lusuh bertuliskan nama sebuah koran terbitan kota Kupang. Tidak ada sedikitpun niat di dalam hati saya untuk menyapa bapak ini. Toh diapun malah akan super-duper cuek karena potongan tubuhnya, pikirku. Tapi segera saya sadar bahwa anggapan saya salah. Tiba-tiba bapak ini menganggukkan kepala kepada saya dan senyum serta bertanya, “baru berangkat?” Saya pun menjawabnya dan kemudian terjadilah percakapan hangat di antara kami. Ia bercerita kalau sudah lama ia menjadi loper koran. “Anak-anak saya masih kecil,” imbuhnya, “dan saya sekarang sudah memiliki banyak saingan loper koran yang menggunakan sepeda motor. Saya tidak.” Dia pun bercerita bahwa tujuannya adalah menuju sebuah agen koran nasional untuk menjemput koran Jawa Pos yang biasanya tiba sore hari di Kupang. Kami terus bercerita, hingga tiba-tiba besi pegangan di dalam angkot diketuknya sebagai tanda dia akan segera turun. Dia kemudian turun dan saya melanjutkan perjalanan menuju studio radio Suara Kupang.
Sebelum pertemuan di angkot ini, saya pernah beberapa kali melihat bapak loper koran ini menawarkan korannya. Bahkan, hampir di beberapa titik di kota Kupang saya bertemu dengan dia. Dia seperti ‘maha hadir.’ Di ujung kota yang sini saya bertemu dia dan di ujung kota yang sana juga ada dia. Dia selalu memegang beberapa koran di tangannya dengan baju dan celana yang selalu sama dan selalu menggendong tas yang sama sambil berjalan kaki. Semangatnya seperti tidak pernah patah untuk menjalani hidup sebagai loper koran, bahkan sampai umur itu. Kembali, sore itu saya mendapat sebuah pelajaran dari pertemuan dan perenungan singkat saya terhadap loper koran tua itu. Hidup harus berjuang, bahkan sekalipun dengan fasilitas yang minim.
Waktu berlalu, dan suatu malam – seingat saya itu malam minggu – ketika saya pulang dari pekerjaan, saya putuskan untuk menumpang angkutan kota dengan jalur yang tidak biasanya, walaupun tujuannya sama yakni pulang ke kontrakan. Ini saya lakukan untuk sekedar refreshing. Angkutan kota tiba di dekat tempat tinggal saya dan saya memutuskan untuk turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki saja ke kontrakan saya. Ini saya lakukan sekedar untuk mengimbangi lebih kurang duabelas jam duduk pada tiap sabtu di tempat kerja. Sauasana malam minggu begitu ramai. Jalanan dipenuhi dengan sepeda motor yang berseliweran kian kemari. Beberapa orang berjalan kaki di trotoar sambil santai. Sekedar saya memandang sekeliling dan terus berjalan menuju kontrakan melewati trotoar di depan pertokoan yang juga ramai pengunjungnya. Namun, tiba-tiba mata saya seolah tidak beralih menatap. Di seberang sana, saya melihat sang bapak loper koran yang pernah saya temui itu sedang berjalan dan menawarkan korannya kepada beberapa orang. Namun, kali ini dia tidak sendiri. Ia ditemani seorang gadis. Gadis kecil ini saya duga berumur 12 tahun. Di tangannya juga ada beberapa lembar koran dan dipundaknya ada sebuah tas kecil. Gadis kecil ini nampak sangat ceria dan turut menawarkan koran kepada beberapa orang yang lewat. Sesekali, saya lihat ia mencandai ayahnya yang ‘low profile’ itu. Seolah mendapat sebuah pemandangan indah, mata saya terus menatap ke aktivitas ayah dan anak itu, sambil pikiran saya kembali diperhadapkan pada sebuah kenyataan hidup yang perlu direnungkan. Saya merenungkan, gadis kecil ini bersekolah pada pagi hari dan sore harinya ia membantu ayahnya untuk menjual koran. Gadis kecil yang tidak merasa malu jika dilihat teman-temannya yang lalu lalang. Dia juga menikmati pekerjaannya membantu ayahnya sebagai penjual koran.
Kaki saya terus melangkah dan berdiri di depan mereka. Kembali bapaknya tersenyum dan mengangguk ke arah saya. Segera saya duduk di lantai emperan toko dekat mereka sambil berbasa-basi dengan ayahnya. Jika basa-basi merupakan salah satu cara untuk menunjukkan tatakrama, maka saya telah melakukannya. Saya bertanya apakah itu puterinya, dan ia mengiyakan. Sementara itu saya mengalihkan pandangan saya pada gadis kecil itu dan menanyakan tentang sekolahnya. Dan dengan sopan ia menjawab. Jawaban yang demikian jarang di dapat dari anak-anak seumurannya di kota ini. Sangat sopan. Sayapun membeli koran Jawa Pos yang ditawarkannya dan berlalu dari mereka.
Sederhana sekali pertemuan ini. Namun pelajaran darinya terus membekas di benak saya. Pelajaran bahwa kerja keras harus dilakukan semua orang, bahkan kendatipun rasanya sulit untuk dijalani. Minimnya fasilitas seharusnya tidak menjadi hambatan untuk meraih kesuksesan. Memang, di zaman yang serba canggih ini, adalah sebuah kemustahilan untuk memperjuangkan hidup tanpa memiliki fasilitas yang memadai. Tapi orang-orang malas dan pesismis akan menjadikan alasan fasilitas untuk tidak maju dan berkembang. Bisa jadi, mereka malahan akan kehilangan sukacita mereka karena tidak memiliki fasilitas. Bapak loper koran ini tidak malu menjalani pekerjaan sebagai loper koran. Ia bahkan terus melakukannya sampai umurnya yang sudah tua. Ia tipe orang yang setia. Banyak pekerjaan mungkin ditawarkan padanya namun ia menikmati “karier”-nya, dan malahan masih bisa membagikan sukacitanya dengan puterinya. Ia juga tekun melakukannya sampai larut malam. Tekun, setia, tidak malu bekerja walau minim fasilitas dan tetap ramah. Lebih dari itu, saya rasa, ada sebuah “kekuatan” yang bekerja dalam batinnya untuk melakukannya. Dan bagian itu saya rasa adalah : “apapun yang kamu perbuat, perbuatlah seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia,” dan lagi “bersukacitalah, sekali lagi kukatakan bersukacitalah.” TUHAN MEMBERKATI BAPAK LOPER KORAN ITU DAN PUTERINYA.
Lama sesudah mempersiapkan tulisan ini dan belum mempostingkannya ke Blog, suatu sore saya bertemu lagi dengan bapak Loper Koran ini berpapasan di Jalan. Kali ini, ia bukan bersama anak gadisnya. Tapi ia bersama seorang anak laki-laki kecil. Dengan setengah menunduk ia member salam kepada saya. Tatapan mata saya seolah tidak lepas dari anak laki-laki kecil yang digandengnya. Pikiran saya, betapa mulianya hati bapak ini. Dia memang giat bekerja, walaupun sebagai loper Koran, namun kasihnya untuk anak-anaknya tetap diberikan. Mungkin juga dalam hatinya ia sambil berdoa :”Tuhan, semoga masa depan anak saya cemerlang.” Dimanapun dia saat ini, semoga bapak Loper Koran ini meraih sukses untuk masa depan anaknya. (MT)
Sabtu, 22 Oktober 2011
MENGHITUNG DALAM BAHASA IBRANI

Untuk pemula seperti saya, belajar bahasa Ibrani itu sangat menyenangkan. Mungkin berbeda dengan mereka yang sudah dalam tahap advance, calon doktor spesialis Bahasa Ibrani yang menggumuli dan belajar dan atau bahkan mengajar bahasa Ibrani. Cara sederhana saya untuk menghafal angka satu sampai 10 dalam bahasa Ibrani adalah dengan mengasosiasikan angka 1-5 dengan nama-nama hari, dan menghafal 6-10 dengan kata “sisi setia. “
Mari kita mulai. Sebenarnya menurut hasil tanya saya ke beberapa orang, “apa hari pertama dalam satu minggu?” rata-rata mereka menjawab “hari senin.” Kalau anda termasuk orang yang punya jawaban bahwa hari pertama dalam satu minggu adalah ‘senin,’ lupakan itu, dan anda sekarang bisa menghitung dalam bahasa Ibrani angka 1-10. Anggap saja bahwa hari pertama dalam minggu itu adalah minggu. Ini didasarkan pada literatur Kristen tua bernama “Alkitab.” Menurut Alkitab, Markus 16:2 dan Lukas 24:1, Yesus bangkit pada “hari pertama minggu itu” yaitu Minggu. Nama lain minggu adalah ahad. Ahad adalah hari pertama minggu. Dan karena itu Ehad adalah angka satu dalam bahasa Ibrani. Hari kedua adalah Senin, dan Senayim adalah angka dua dalam bahasa Ibrani. Selasa adalah hari ke tiga dan Selosah adalah angka tiga. Rabu adalah hari ke empat, dan arba’ah adalah angka empat dalam bahasa Ibrani. Kamis adalah hari ke lima dan Khamisah adalah angka lima. Ringkasannya adalah sebagai berikut
Ahad Ehad 1
Senin Senayim 2
Selasa Selosah 3
Rabu Arba’ah 4
Kamis Khamisah 5
Maka kita sudah bisa menguasai angka satu sampai lima dalam bahasa Ibrani, hanya dengan menghitung nama-nama hari dimulai dari ahad.
Terus, bagaimana kita bisa menghafal angka enam sampai sepuluh? Saya menghafalnya dengan kata “sisi setia” Ini singkatan nama depan dari huruf-huruf itu. Si = enam ; Si = tujuh; Se = Delapan; Ti=Sembilan; A = Sepuluh.
Si Sisah 6
Si Sib’ah 7
Se Semonah 8
Ti Tis’ah 9
A Asyarah 10
Sekarang, mari kita hafalkan senin sampai jumat dan “sisi setia” dan kita sudah berhasil menghafal angka 1-10 dalam bahasa Ibrani.
Selain itu, dalam bahasa Ibrani, setiap huruf mewakili satu angka. Untuk belajar itu, ada baiknya kita ikuti training singkat bahasa Ibrani. Selamat mencoba angka 1 dan 10 dengan mengingat ahad sampai kamis dan sisi setia.
Minggu, 24 Juli 2011
MEMBUNUH KAMBING HITAM BERNAMA "AKTA MENGAJAR"

Ketika musim penerimaan siswa baru sudah datang, sekolah-sekolah mulai berdandan dengan spanduk-spanduk selamat datang untuk siswa-siswi baru. Tidak terkecuali, guru-gurupun mulai berbenah karena masa liburan rupanya tidak lama lagi akan berakhir. Angka kelulusan tahun 2011 ini cukup memacu semangat para guru untuk berjuang dan terus berjuang lagi. Seandainya angka kelulusan 2011 tidak seperti tahun ini, akan ada banyak komentar. Syukurlah, tahun ini nyaris tidak ada komentar dan kambing hitam karena angka kelulusan NTT memuaskan. Bila tidak, akan banyak komentar yang ditemui. Bisa jadi, komentar-komentar itu menyangkut kegagalan sekolah mempersiapkan siswa-siswanya menuju Ujian Nasional, tingkat kesukaran soal ujian Nasional, sampai masalah alokasi anggaran untuk pendidikan. Ini alasan-alasan yang cukup rasional. Alasan lain yang tidak kalah rasionalnya adalah karena faktor guru. Kualitas guru yang mempersiapkan siswa di sekolah acapkali divonis sebagai faktor penentu keberhasilan. Akan banyak kebahagiaan jika seluruh siswanya naik kelas dan lulus Ujian Nasional. Namun, tidak sedikit yang merasa kecewa, marah dan bahkan berusaha melempar kesalahan jika pencapaian target kelulusan Ujian Nasional tidak seperti yang ditargetkan. Siswa yang dinilai kurang mempersiapkan diri, orangtua yang tidak mendorong anak belajar, bahkan faktor geografis dan gizi juga adalah faktor-faktor yang kerap mendapat dakwaan yang sama. Terus terang, tidak ada seorang guru pun yang mau dianggap sebagai penyebab merosotnya mutu pendidikan di sekolah. Guru honor sekalipun.
Mendengarkan percakapan di antara para guru bab keberhasilan siswa atau saat diskusi-diskusi tentang mutu guru dalam seminar-seminar pendidikan yang belakangan menjamur, menghasilkan beragam tanggapan. Di antara tanggapan-tanggapan itu, satu yang menarik adalah usaha untuk berspekulasi dan menyelamatkan diri dan bahkan cenderung mencari “kambing hitam.” Salah satu di antara “kambing hitam” itu adalah mereka yang mengajar dengan bermodalkan ijazah akta mengajar. Tudingan terhadap sarjana-sarjana non-kependidikan yang banting stir ke arah pendidikan ini rata-rata dibangun atas beberapa alasan.
Pertama, mereka tidak memiliki latar belakang kependidikan. Sarjana non-kependidikan yang memilih menjadi guru mungkin saja menyelesaikan studinya selama empat tahun atau lima tahun. Sepintar-pintarnya seorang calon sarjana non-kependidikan, ia pasti akan lulus minimal tiga tahun setengah ke atas. Walaupun demikian, landasan ilmu yang dimilikinya bukan tentang pendidikan. Para sarjana pendidikan, juga menyelesaikan kuliah mereka dalam kurun waktu yang relatif sama dengan mereka yang non-kependidikan. Tetapi karena sejak mulai kuliah mereka telah belajar tentang pendidikan, maka mereka memahami teori tentang pendidikan, dan bahkan setidak-tidaknya memiliki kesempatan enam bulan untuk melakukan Program Pengalaman Lapangan (PPL), walaupun seringkali tidak betul-betul utuh enam bulan persis. Dalam hal ini, perlu diakui bahwa landasan teori dan ilmu-ilmu pendidikan para sarjana kependidikan adalah bekal yang cukup besar untuk terjun dalam pekerjaan mereka sebagai guru. Kendatipun tidak dapat dipungkiri kerapkali ada juga sarjana pendidikan yang tidak memilih guru sebagai pekerjaan yang perlu ditekuninya.
Kedua, mereka hanya orang-orang yang bimbang. Ini adalah tudingan yang paling banyak dialamatkan kepada para sarjana non kependidkan. Diduga, mereka sudah “tidak laku” dengan gelar dan latarbelakang ilmu yang dimilikinya. Pasca menamatkan sarjana non-kependidikan, mereka mereka telah berusaha mencari pekerjaan kesana- kemari. Sayangnya, mungkin saja mereka tidak diterima dimana-mana. Namun saat melihat bahwa pekerjaan guru adalah pekerjaan yang menjanjikan secara finansial akhir-akhir ini, maka merekapun ramai-ramai ingin menjadi guru. Padahal dulu, cita-cita menjadi guru yang dimiliki oleh teman-teman mereka ditertawakan dan dihina. FKIP dulu katanya kurang diminati. Tetapi tidak untuk akhir-akhir ini. Bahkan bagian sarana prasarana di FKIP di kampus-kampus swasta pun terpaksa harus menambah budget untuk kursi dan ruangan serta fasilitas-fasilitas tambahan untuk calon-calon guru itu. Demikian pula, yayasan-yayasan yang dulunya membangun Sekolah Tinggi non-kependidikan, sekarang secara sadar telah membaca pasaran itu dan mulai merintis Sekolah Tinggi Ilmu Kependidikan. Di mana sarjana-sarjana non-kependidikan itu saat dulu orang lain berusaha untuk kuliah di FKIP? Kalau seandainya mereka memang berniat menjadi guru sejak awalnya, mengapa mereka tidak memilih FKIP sejak semula? Mengapa mereka malah memilih Pertanian, Peternakan, Hukum, Sains, Tehnik, Sosial, Agama atau yang lainnya? Mengapa mereka baru ramai-ramai menyerbu LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan) saat sertifikasi guru begitu menggiurkan, saat kesra guru mulai diperhitungkan, saat dana BOS mulai digulirkan, dan saat tunjangan untuk daerah terpencil dan perbatasan untuk para guru digiatkan? Kalau sekarang sarjana-sarjana non-kependidikan itu mengambil akta, maka tudingan kepada mereka adalah tepat jika disebut bahwa merekalah orang-orang bimbang yang tidak konsisten dengan pilihan studi mereka sejak semula. Bahkan kalau benar dugaan bahwa para sarjana non-kependidikan ini adalah orang yang mau menjadi guru karena tertarik dana sertifikasi, kesra, BOS, dan tunjangan-tunjangan, maka tidak salah kalau mereka dituduh sebagai orang yang hanya mau mencari uang tanpa memikirkan tentang proses pembelajaran yang diajarkan pada para calon guru.
Dua landasan ini setidaknya membuka pemikiran terhadap output dari hasil pendidikan jika dibina oleh orang-orang yang non-kependidikan dan hanya ingin mencari akta mengajar. Karena itu semakin tegas tuduhan kepada sarjana non-kependidikan yang menjadi guru yang dapat dikristalkan dengan beberapa pernyataan berikut. Sarjana non-kependidikan yang mengajar dengan modal akta akan menghasilkan siswa-siswa yang tidak menguasai materi dengan baik. Mereka tidak mengerti kurikulum, tidak memahami silabus, tidak bisa menyusun prota dan promes, apalagi menulis RPP dan memberikan evaluasi yang bermutu. Sesudah evaluasi, mereka tidak mengerti bagaimana melakukan analisa butir tes. Mereka bahkan buta dengan SKL. Bahkan terhadap MBS mereka harus bertanya, apa itu? Kalau saja di sekolah ada orang-orang model ini, bagaimana outputnya. Toh mereka hanya mengharapkan sampai waktunya mereka memperoleh gaji dua kali lipat gaji pokok, tunjangan karena kondisi geografis tertentu atau dana BOS cair. Stigmatisasi model ini telah diterima oleh sarjana-sarjana non-kependidikan yang menjadi guru. Bahkan kuping panas, muka yang memerah dan detak jantung yang berdenyut kencang menahan emosi saat menerima stigma itu terpaksa harus dilakukan.
Mengapa stigma terhadap sarjana non-kependidikan dengan akta mengajar di tangan mereka begitu negatif? Publik bisa saja melakukan stigmatisasi pada para guru dengan latarbelakang non-kependidikan dengan akta mengajar. Bahkan sesama guru di sekolah dengan friksi non-kependidikan dan kependidikan sah-sah saja saling menjatuhkan. Namun, rasionalitas harus diutamakan. Bukankah logika harus dipakai untuk menemukan sebuah solusi dan bukannya menuduh membabi buta?
Sarjana non-Kependidikan dangan akta mengajar di tangannya seringkali menerima citra negatif atas diri mereka. Setidaknya hal pertama adalah ternodanya citra akta mengajar oleh ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Mereka hanya menginginkan akta mengajar demi alasan mencari dan mendapatkan pekerjaan. Mereka ingin memperoleh akta mengajar bukan karena motivasi mendapatkan SIM (Surat Izin Mengajar) tapi karena motivasi ingin mendapat pekerjaan semata. Padahal pada LPTK yang betul-betul mengutamakan mutu, calon penerima ijazah akta mengajar adalah mereka yang betul-betul telah bekerja sebagai pengajar namun secara legalitas belum dimiliki. Kecuali, LPTK yang hanya menginginkan uang dari calon penerima ijazah akta yang tanpa tedeng aling-aling menerima serampangan mahasiswa tanpa seleski apakah ada rekomendasi bahwa calon mahasiswa itu telah bekerja sebagai guru atau tidak. Jika hal ini terjadi, outputnya adalah kualitas pendidikan di sekolah akan semakin memburuk. Stigma akan semakin jelek diberi kepada mereka karena mereka ternyata sama sekali tidak mengerti tentang bagaimana mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran.
Selain itu, organisasi tertentu yang mengeluarkan akta mengajar turut menodai citra guru sarjana non-kependidikan yang berakta. Seharusnya, akta mengajar hanya diberikan oleh LPTK. Lebih baik lagi LPTK yang terakreditasi dan resmi serta berproses jelas dan bukan semata berorientasi hasil (Ijazah akta) di tangan. Tetapi, rupanya ada ijazah akta yang bisa didapat dengan cara instan dan murah, cenderung juga murahan. Bahkan dalam waktu empat belas hari, satu bulan, atau tiga bulan, seseorang sudah memiliki ijazah akta mengajar di tangannya. Bahkan ada yang hanya membayar dan mendapat ijazah akta tanpa tatap muka sama sekali. Kalau ini terjadi, hanya Tuhan, Setan dan penerima akta model itu saja yang akan tahu, siapa dirinya sesungguhnya. Organisasi-organisasi ini telah turut membuat pelecehan dan bahkan perkosaan terhadap martabat profesi guru yang mulia. Bahkan mereka telah turut menodai niat luhur orang-orang yang dengan tulus mengabdikan dirinya untuk pendidikan. Organisasi-organisasi ini bahkan tidak tahu atau mungkin pura-pura tutup telinga bahwa akta mengajar sudah tidak dibuka lagi. Mereka masih saja gencar mempromosikan diri dan bahkan mengiklankan pemberian akta mengajar di iklan-iklan baris surat kabar. Bagaimana publik mau menghargai para penerima akta mengajar kalau masih ada kesan bahwa akta mengajar itu dapat diperoleh dengan cara murahan dan tanpa membekali penerimanya sedikitpun dengan ilmu-ilmu kependidikan.
Hemat saya, dualisme antara guru yang sarjana non-kependidikan dan sarjana kependidikan sebaiknya dihilangkan. Paling tidak dengan alasan yang lebih manusiawi. Bukankah kebutuhan guru hingga saat ini masih cukup besar. Dibukanya banyak sekolah hingga ke desa-desa membutuhkan tambahan tenaga guru. Jika motivasi utama seorang guru sarjana kependidikan sama dengan seorang guru sarjana non-kependidikan yakni melibatkan diri untuk mengajar, mendidik dan membimbing, apa yang dapat dipersoalkan? Adalah setali tiga uang, jika guru yang sarjana pendidikan memiliki motivasi semata-mata demi sertifikasi, tunjangan, atau insentif lain dan tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk mengajar. Mereka tidak dapat dibedakan dengan guru non-kependidikan yang bermotivasi mendapat bayaran semata. Ini memang persoalan pelik.
Guru sarjana non-kependidikan yang secara serius mengambil akta mengajar di LPTK terakreditasi mendapat perlakuan yang mirip dengan mereka yang sarjana kependidikan. Mereka harus memasuki kelas-kelas regular selama satu setengah tahun, mengikuti tatap muka hingga minimal 13 kali, mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) dan menulis laporan. Memang, jika diakui, ini tidak sampai sama persis dengan sarjana non Kependidikan yang menyelesaikan empat tahun untuk S.Pd mereka. Sangat na’if jika mereka dilecehkan sama dengan mereka yang hanya berakta ‘ecek-ecek.’ Di satu sisi, seorang guru dengan latar belakang sarjana non-kependidikan akan menjadi sangat sombong bahkan cenderung tidak tahu diri jika ia berhenti belajar dan menganggap diri bahwa ia sudah mengetahui segalanya “hanya” karena ia telah mengantongi akta mengajar. Panggilan itu kerapkali berproses. Ada panggilan yang disadari saat dijalani. Karena itu berhenti mencari kambing hitam adalah tindakan bijak. Keistimewaan seorang guru toh tidak terletak semata pada ijazahnya, tapi sejauhmana ia menjalani dan menghidupi kompetensinya sebagai guru.
Sabtu, 04 Juni 2011
BUPATI DAN KEPALA DINAS BERHATI HAMBA


Saya dapat cerita tentang dua orang ini dari sumber yang bisa dipercaya. Yang pertama, sang Bupati. Informasinya saya dapat dari buku otobiografi sang bupati. Buku itu diberikan secara langsung ke saya dalam sebuah pertemuan pribadi dengan beliau di rumah pribadinya di bilangan Tuak Daun Merah,Kupang. Dari buku itu saya dapat cerita sang bupati tentang kebiasaannya yang dilakukan sejak muda. Sang Bupati adalah aktivis pelayan Sekolah Minggu yang di lingkungan Gereja Masehi Injili di Timor dikenal dengan sebutan PAR (Pelayanan Anak dan Remaja), sekarang. Dulunya bernama KAKR (Kebaktian anak dan Kebaktian Remaja). Hal yang luar biasa saya dapatkan, Sang bupati, yang sekarang telah memantan itu adalah seorang pelayan Sekolah Minggu. Rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk bersama pemuda-pemudi yang lain menghamba kepada Tuhan dengan melayani anak-anak. Dan hamba itu adalah seorang Bupati yang sekarang sudah mantan. Orang besar seperti beliau kok mau menghamba melayani anak-anak yah? Dan dia adalah Ir. Ansgerius Takalapeta. Mantan Bupati Alor
Orang kedua ini benar-benar adalah orang besar. Badannya besar dan jabatnnya juga besar. Beliau punya postur yang tidak sama dengan orang kebanyakan, dan menduduki jabatan kepala Dinas pula. Cerita yang membuat saya menyimpulkan bahwa beliau ini adalah pemimpin berhati hamba saya dapatkan langsung dari mulutnya sendiri. Beberapa kali saya mengikuti seminar yang mana beliau pembicaranya. Kata-katanya selalu "berbau" rohani dan pengalaman-pengalamannya luar biasa. Ia bercerita, ia dari desa di Alor(sama dengan Pak Ans-sang Bupati) dan karena kemurahan Tuhan bisa kuliah di Kupang, pernah mengajar di Kupang dan menjadi Kepala sekolah negeri unggulan, bahkan akhirnya menjadi kepala dinas PPO. Tapi sejak muda, sampai menjadi kepala dinas, beliau setia menjadi guru sekolah Minggu. Beliau juga tetap menjadi pemimpin paduan suara atau koor di gereja, dan majelis gereja sampai berperiode-periode. Dia adalah Drs. Maxwel Halundaka. Pribadi yang luar biasa.
Koq mau ya? Dua orang ini terus melayani dan setia dengan pendidikan pada anak-anak sampai mereka tua? Apa tidak malu, kepala dinas masih mimpin koor dan jadi guru Sekolah Minggu? Jawaban pak Max sederhana, Kenapa harus Malu, saya di gereja bukan kepala Dinas. Di gereja tidak ada kepala dinas. Ada anak Tuhan.
Beribu tanya seolah berjuang di dalam kepala saya? Kenapa mereka mau? Bagaimana tanggapan bawahan mereka saat melihat mereka terus melayani anak-anak? Apa metode mereka? Kenapa harus dua-duanya orang desa? Kenapa dua-duanya ini orang Alor? Dan ribuan pertanyaan lain.
Satu kesimpulan yang sederhana dan pelajaran saya peroleh hari ini. Mereka orang-orang yang berhati hamba. Orang besar yang demikian yang dicari gereja. Trimakasih Pak Ans dan Pak Max.
Sabtu, 26 Maret 2011
PELETERKAH......?
Mataku tidak berkedip, sementara pikiranku menimbang-nimbang penuh penilaian dan berusaha menebak-nebak apa isi kepala si peleter itu. Kisah kehebatannya dalam pekerjaan di kantor sudah mengalir deras dari mulutnya ibarat tumpahan air kotor ke selokan. Kini dia begitu fasih menguraikan kehebatannya di tengah-tengah keluarga dan teman-temannya. Hanya "ya" dan "hmmmm" yang keluar dari mulutku sebagai bentuk penghargaan kepadanya. Mungkin demikianlah orang-orang tertentu yang kita temui. Mereka sangat menikmati, menjadi orang-orang yang dipuji oleh karena cerita-cerita mereka. Mulai dari kefasihan mereka sampai kepada kebohongan mereka yang terbalut dalam satu kisah yang bertema "kebenaran." Memang, tipe orang-orang demikian tidak luput dari hidup kita. Mereka ada di sekeliling kita.
Yang saya maksud adalah demikian. Ada orang yang begitu bangga dan bercerita kepada sesamanya tentang dirinya, keluarganya, pekerjaannya, sampai kucing dan tissuenya saja diceritakannya sebagai kebanggaan kepada orang lain.
Yang saya maksud adalah demikian. Ada orang yang begitu bangga dan bercerita kepada sesamanya tentang dirinya, keluarganya, pekerjaannya, sampai kucing dan tissuenya saja diceritakannya sebagai kebanggaan kepada orang lain.
Senin, 07 Maret 2011
2X WISUDA, 2 KAMPUS, 2 JURUSAN BEDA = 1 GELAR
Gelar dan wisuda adalah identik. Orang yang sudah diwisuda biasa akan ditanya, gelar apa yang diperolehnya. S.Pd, S.Sos, SH, S.Si, S.Pt, SP, ST, S.Kom, S.Ag, S.Th atau es-es yang lain. Jika ia satu kali wisuda. Ini anggapan bahwa sekarang diploma tidak diwisuda lagi di Universitas. Jika dua kali wisuda dia akan menambah gelar di belakangnya satu lagi, entah itu satu S lagi atau bahkan M.
Sedikit berbagi pengalaman. Tahun 2005 menyelesaikan studi di Yogyakarta dengan mendapat gelar es di belakang nama saya. Lalu mulai mengabdi di Kupang di bidang pendidikan, suatu bidang yang berbeda dengan gelar S yang saya terima. Empat tahun mengabdi di bidang pendidikan sebagai pengajar, lalu tertarik untuk mendalami tentang pendidikan. Syukur-syukur nanti akan mendapat pekerjaan tetap dan terjamin untuk jalur pendidikan. Hitung-hitung itu bonusnya. Lalu, di satu-satunya Universitas Negeri di Nusa Tenggara Timur saya memutuskan untuk kuliah akta lagi kendatipun sedang mendalami juga pendidikan Kristen di jenjang di atas es untuk mendapat gelar yang kedua. Tapi kuliah kali ini di Undana bukan untuk sebuah gelar. Untuk sebuah kertas bernama ijazah yang bertuliskan Akta Mengajar IV. Di kampus lain atau organisasi lain mungkin mendapatkan akta bisa hanya tiga, enam atau sembilan dan duabelas bulan tapi di UNDANA demi kemantapan satu tahun setengah untuk mendapatkan akta mengajar IV.
Tanggal 26 Februari 2011 adalah hari wisuda kedua saya di UNDANA. Hari wisuda untuk sebuah kertas bernama akta. Ya dua kali wisuda di dua kampus yang berbeda dengan dua jurusan yang berbeda tanpa gelar tambahan dengan bonus rasa syukur segudang. Trimakasih Tuhan. Mudah-mudahan wisuda ke tiga dan seterusnya ada tambahan gelar. Tuhan Tolonglah.
Sedikit berbagi pengalaman. Tahun 2005 menyelesaikan studi di Yogyakarta dengan mendapat gelar es di belakang nama saya. Lalu mulai mengabdi di Kupang di bidang pendidikan, suatu bidang yang berbeda dengan gelar S yang saya terima. Empat tahun mengabdi di bidang pendidikan sebagai pengajar, lalu tertarik untuk mendalami tentang pendidikan. Syukur-syukur nanti akan mendapat pekerjaan tetap dan terjamin untuk jalur pendidikan. Hitung-hitung itu bonusnya. Lalu, di satu-satunya Universitas Negeri di Nusa Tenggara Timur saya memutuskan untuk kuliah akta lagi kendatipun sedang mendalami juga pendidikan Kristen di jenjang di atas es untuk mendapat gelar yang kedua. Tapi kuliah kali ini di Undana bukan untuk sebuah gelar. Untuk sebuah kertas bernama ijazah yang bertuliskan Akta Mengajar IV. Di kampus lain atau organisasi lain mungkin mendapatkan akta bisa hanya tiga, enam atau sembilan dan duabelas bulan tapi di UNDANA demi kemantapan satu tahun setengah untuk mendapatkan akta mengajar IV.
Tanggal 26 Februari 2011 adalah hari wisuda kedua saya di UNDANA. Hari wisuda untuk sebuah kertas bernama akta. Ya dua kali wisuda di dua kampus yang berbeda dengan dua jurusan yang berbeda tanpa gelar tambahan dengan bonus rasa syukur segudang. Trimakasih Tuhan. Mudah-mudahan wisuda ke tiga dan seterusnya ada tambahan gelar. Tuhan Tolonglah.
PENYIAR JUGA MANUSIA


Pasanglah telinga anda pada satu station radio, dan anda tidak hanya akan mendengarkan lagu-lagu, iklan-iklan spot, ad-libs dan jingle station, tapi juga suara orang yang bercuap-cuap di sana. Ya, penyiar radio. Kalau saja seorang penyiar membawakan sebuah acara secara baik dan sudah menjadi ikon dari sebuah program, sang penyiar bisa menuai banyak hal. Ia bisa menuai decak kagum dari pendengarnya. Ia bisa memanen banyak pendengar, menerima banyak SMS atau telfon dari pendengarnya, menuai kunjungan dari para fans, bahkan beberapa pendengar tidak tanggung-tanggung mengirimkan makanan atau bahkan ada sedikit uang untuk sang penyiar. Kalau mau, dia juga bisa memiliki selingkuhan lebih dari satu karena fans-fansnya.
Penyiar radio memang sebuah profesi yang menarik. Di mata pendengar, penyiar radio adalah orang yang pintar, karena ada banyak hal yang dibicarakannya Nampaknya ia menguasai banyak topik. Baru saja jam sebelumnya ia bicara tentang ekonomi, sejam kemudian sudah beralih topik ke teknologi, sebentar lagi ke kesehatan dan sesekali bicara politik. Penyiar radio adalah orang yang menyenangkan karena ada humor-humor segar yang seringkali renyah untuk kuping pendengar. Bahkan kadang romantis karena mendramatisir sesuatu dan berbicara di sela-sela iringan lagu. Wanita-wanita mengaguminya. Entah muda entah yang sudah tua dan bersuami. Pria-pria menyenanginya karena pembawaannya. Dia bisa menjadi teman mengobrol yang baik di telfon dan santun sekali dalam berkata-kata. Cenderung ia ramah.
Tapi para pendengar tidak menyadari bahwa penyiar juga adalah manusia biasa. Tuntutan peran sebenarnyalah yang membuat dia menjadi romantis, pintar, humoris, kebapakan atau keibuan, intelek, hangat dan akrab. Memang penyiar kadang dituntut untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Jangan kaget kalau menemui bang Anu, penyiar di radio A yang suaranya romantis, akrab dan hangat itu ternyata tidak sebanding dengan wajahnya yang amburadul, atau bahkan cacat. Atau mbak Ani di radio B yang lemah lembut di radio ternyata tempramental, pemarah, berpakaian ala kadarnya. Atau Mas Anu di radio C yang selalu membawakan acara dengan lagu-lagu oldies dengan suara bass yang bagus ternyata adalah seorang pemuda duapuluhan tahun. Atau mbak Rini di acara talk-show politik itu tidak tamat SMA. Cuma karena dia banyak membaca, jadilah dia host.
Kalau saja ada lagu berjudul “Rocker juga manusia,” maka penyiar juga sesungguhnya manusia. Manusia biasa yang punya banyak masalah dan sering menangis. Tetapi smiling voice-nya harus tetap terdengar di kuping pendengarnya. Entah setelah suara tidak on-air lagi dia harus menangis lagi karena teguran keras dari Station Manajer (SM) atau Program Directornya (PiDi) atau Music Director (eMDi), dia harus tetap tegar dan berpura-pura tidak ada masalah saat DJ Talk berikut karena tuntutan peran. Dia juga bisa saja siaran dengan belum mandi tapi dia menyarankan pendengarnya untuk mandi karena kesehatan kulit itu penting. Ini biasanya terjadi dengan penyiar subuh. Kalau ini pengalaman pribadi. Hehehee.
Penyiar akan minimal kena tegur kalau kebanyakan ngomong kalimat yang basa-basi tapi basi sekali. Terlalu banyak pake “filler” yang kurang penting seperti “yang namanya,” “ya,” “nah,” dan lain-lain. Dia juga akan ditegur kalo kebanyakan ngomong daripada lagunya. Dia juga akan jatuh point kalo hanya mengandalkan sms dari pendengar tanpa tau arah siaran utamanya. Dia juga tidak boleh pilih kasih saat terima telfon. Buanyak sekali tuntutan penyiar. Dan jangan cepat marah kalau kebetulan seorang penyiar salah ucap. Maklum di depannya ada dua komputer, satu mixer, mike dan hybrid telfon juga sms yang harus di baca juga sejumlah ad-libs. Jadi kerjaannya banyak sehingga kalau seolah ngelantur berarti ada yang bermasalah. Entah itu komputernya atau telfonnya atau mixernya atau yang lain. Belum lagi penganggu-pengganggu yang masuk keluar studio saat siaran on air tanpa tahu bahwa penyiar bisa terganggu.
Lain kali kalau anda dengar radio, saran saya ingatlah bahwa penyiar juga manusia. Jangan sampai mengaguminya berlebihan. Ngefans-lah dengan dia. Bangunlah keakraban dengan dia. Tapi jangan sampai anda membayangkan dia tinggi, cakep, dan kenyataan saat ketemua dia kurus dan sederhana. Cantik dan menawan, kenyataan setelah ketemua ia memang cantik tapi buta dan gemuk sekali. Kenyataan, penyiar juga manusia.
TIMOR KO'UK?


Rasanya akan menjadi sebuah bahan tertawaan bahkan olok-olokan kalau seseorang berdiri di suatu forum di Kupang dan dengan logat Timornya memperkenalkan diri bahwa dia adalah orang Timor dari pedalaman SoE. Orang akan tertawa lepas, atau senyum sinis sambil dari dalam hatinya berucap, “Dasar Timor Ko'uk.” Ini sebuah ungkapan negatif untuk menyebut orang Timor.
Memahami kata Ko'uk, saya teringat cerita seorang rohaniawan yang sekarang sudah menjadi anggota dewan provinsi NTT. Beliau adalah orang Timor. Kenapa orang Timor disebut Ko'uk digambarkan dalam cerita berikut. Alkisah katanya, suatu hari ada seorang bapak orang Timor yang tinggal di Baun sebuah tempat yang agak jauh dari Kupang jika ditempuh dengan jalan kaki. Hari itu ia memutuskan untuk memetik kelapa muda miliknya dan memikul duapuluh buah dan berjalan kaki menuju pasar Inpres Naikoten di Kupang untuk dijualnya. Panas matahari pagi yang mulai meninggi tidak menghalangi niatnya untuk berjualan kelapa muda. Sesudah menempuh perjalanan panjangnya, sampailah dia di pasar dengan peluh yang memenuhi sekujur tubuhnya. Baru saja duduk dan menjajakan dagangan kelapa mudanya, tiba-tiba sebuah mobil mewah berdiri tepat di depannya. Pemilik mobil turun dan bertanya kepadanya, “bapak, berapa harga satu butir kelapa.” (tentu dalam logat Kupang.) Lalu bapak ini menjawab “duaribu.” Dan pemilik mobil itu meminta untuk membeli semua kelapa muda itu. Dupuluh buah yang dibawanya dibeli semuanya. Tapi si bapak menolak dan berkata, “Pak, saya baru datang. Nanti kalau bapak beli semua, saya jualan apa hari ini?” Bodoh sekali bapak ini. Dia tidak bisa berpikir bahwa dengan terbelinya duapuluh buah kelapanya, berarti dia tidak harus bersusah-susah lagi menunggu pembeli. Logikanya kurang main. Bahkan kalau dibilang jongkok. Otaknya ada pada dengkulnya, begitu istilah yang tepat untuk bapak ini. Dan istilah yang tepat untuk dia adalah, dia adalah si Timor Ko'uk. Si Timor yang Bodoh.
Sebuah stigma bagi orang Timor selalu adalah bahwa orang Timor itu Ko'uk. Bodoh. Apa betul stigma itu masih melekat sampai sekarang? Kalau iya, lihatlah kenyataan. Banyak orang dari suku Timor yang saya dengar dan bahkan saya kenal menyelesaikan studi Doktoralnya di luar negeri dan bangga bahwa dia adalah orang Timor. Banyak orang dari suku Timor yang duduk di bangku-bangku kuliah di pulau Jawa, bahkan pulau-pulau lain. Universitas-universitas di Kupang juga masih diisi dengan orang-orang yang bermarga Timor.
Sayangnya, tidak semua orang Timor bangga menjadi orang Timor. Mereka lebih bangga kalau berbicara dalam logat Jawa, malu kalau menggunakan bahasa daerah mereka sendiri, dan bahkan malu memperkenalkan diri sebagai orang Timor dari soE. Apalagi dari Kolbano. Hemat saya, orang Timor sama saja dengan orang dari suku-suku lain. Jangan berpikir, orang-orang di Jawa semuanya bisa berbahasa Indonesia. Sama dengan orang di pedalaman Nuapin di Mollo Utara atau di pedalaman Oinlasi. Hanya, orang-orang Jawa di pedalaman seperti di dukuh Belang di kecamatan Patuk Gunung Kidul Yogyakarta atau di dukuh Krajan di Mojosongo Boyolali tempat saya pernah mengabdi bangga menjadi orang Jawa. Jati diri orang akan semakin terbangun kalau ia bangga akan itu. Asal saja ia tidak sombong dan menganggap sukunya lebih unggul dari suku lain, merendahkan suku lain dan membangun opini negatif untuk suku itu.
Hemat saya, supaya tidak disebut Timor Ko'uk, belajarlah. Isilah otak dengan banyak ilmu. Carilah pengalaman. Tapi sadarlah sesadar sadarnya bahwa saya tetap orang Timor. Saya bangga menjadi orang Timor. Suku saya tidak lebih jelek dari suku lain dan bukan suku yang paling hebat dari suku lain. Saya harus tetap menggunakan bahasa Timor dan tidak menganggap bahwa saya orang terhebat di kampung. Meminjam istilah Pak Ans Takalapeta, mantan Bupati Alor, salah satu tokoh idola saya: “orang yang kehilangan jati diri sebenarnya sudah mati sebelum kematian sesungguhnya datang menjemput.”
Biarkanlah stigma Timor Ko'uk ada. Asal ada fakta bahwa si Timor itu tidak Ko'uk lagi.
SEBUT AKU “KRISTEN”

Menyebut diri sebagai “Kristen” bukannya tanpa konsekuensi. Bukan saja pada akhir-akhir ini saat toleransi adalah sebuah keniscayaan di bumi Indonesia, tetapi sejak lama, menyebut diri sebagai Kristen mengandung banyak resiko. Di zaman penjajahan Roma, orang-orang yang disebut “Kristen” banyak menerima tuduhan. Tuduhan-tuduhan itu antaranya adalah tuduhan bahwa orang Kristen adalah kanibal, praktisi free sex, dan tidak taat kepada pemerintah. Ini lantaran orang Kristen masa itu tidak mendapat tempat untuk beribadah di permukaan tanah, sehingga katakombe-lah yang menjadi tempat bagi mereka untuk beribadah. Tuduhan kanibal datang kepada orang Kristen setelah ada spionase yang memberi informasi bahwa orang Kristen yang beribadah di katakombe selalu mengucapkan “inilah tubuhku, terimalah dan makanlah, inilah darahku, terimalah dan minumlah.” Setelah mereka keluar dari katakombe, tempat yang seharusnya ada duka di sana, orang-orang Kristen justru kelihatan bersukacita. Lalu, muncullah dugaan, jangan-jangan ada praktek free sex yang dilakukan di tempat makam bawah tanah itu. Daripada memilih menyebut kaisar kurios mereka lebih senang untuk menyebut Kristos Kurios yang karenanya mereka dituduh tidak taat kepada pemerintah yang dikepalai kaisar.
Di Indonesia sekarang, menyebut diri sebagai Kristen adalah sebuah resiko. Resikonya selain dijauhi dan tidak diberi pekerjaan oleh orang lain, juga dilarang berbakti di negara, kota, desa tempat mereka dilahirkan. Sebuah ironi. Teman saya pernah bercerita, betapa beratnya mengaku Kristen di satu tempat di bagian barat negara ini. Selain dibenci, tidak mendapat pekerjaan yang katanya hanya untuk orang-orang dari agama tertentu, tidak jarang dia dihina. Orang Kristen adalah polytheis. Orang Kristen haram karena suka makan daging babi, dan tuduhan-tuduhan lain kepada orang Kristen. Sedikit catatatan bagi kawan-kawan yang pernah mengalaminya, ini bukan hal baru. Biarkan mereka mengatakan semuanya itu. Orang Kristen dalam sejarahnya telah mengalami semua sindiran, olokan, fitnahan dan makian yang bahkan lebih kasar dari itu. Bahkan kadang-kadang kematian harus dihadapi mereka. Bukankah GURU mereka juga mengalami hal yang sama?
Sebutan “Kristen” pertama kali diterima oleh orang-orang Antiokhia. Untuk pertama kalinya mereka disebut Kristen. Menyebut sebagai Kristen berarti bahwa orang tersebut adalah umat Kristus. Bagi orang non-Yahudi, Kristus hanyalah nama orang. Sederhanya, mungkin menyebut diri sebagai Kristen adalah sedang berusaha mengatakan: “saya adalah pengikut Kristus.” Implikasinya adalah, saya bersedia seperti Tuhan saya. Bersedia dihina, bersedia menderita, bahkan mungkin mati. Heroik benar orang yang menyebut diri mereka Kristen. Bagi mereka, kalaupun kematian harus mereka alami, itu jalan yang harus mereka terima.
Identitas Kristen adalah sebuah kebanggan. Kristen, adalah orang-orang yang berjalan di belakang seorang tokoh luar biasa bernama Kristus. Tokoh terbesar sepanjang masa. Tokoh yang adalah Juruselamat. Kristen adalah sebuah resiko karena merekalah pengikut tokoh yang pernah dihina, difitnah, diolok, dipukul, dicaci, diludahi, didera, dicambuk, ditangkap, diadili, digiring seperti penjahat, ditertawakan, disangkal, disuruh memikul salibNya sendiri, dipaku tangan-Nya, diberi minum anggur asam saat di salib, diolok oleh orang hukuman, ditusuk lambung-Nya dengan tombak, mati sebagai orang hukuman. Kristen juga adalah sebuah kebanggaan karena mereka adalah pengikut tokoh yang sudah ada sejak kekal, seorang pensehat ajaib (Wonderful Conselor), Allah yang Perkasa (Mighty God), Bapa yang Kekal (Everlasting Father), Raja Damai (Prince of Peace). Tokoh yang kelahiran-Nya dirayakan oleh malaikat di Sorga, yang digelisahi oleh raja dunia, disembah oleh ilmuwan-ilmuwan dari Timur, dikagumi dalam diskusi dengan Ahli kitab saat berumur duabelas tahun, dinyatakan sebagai “Anak-Ku yang Kukasihi” oleh suara dari langit, menang terhadap godaan di padang gurun, dimuliakan di atas gunung, bangkit dari kematian, naik ke sorga dengan iringan awan kemuliaan. Seorang tokoh yang tidak tanggung-tanggung menjanjikan sorga bagi pengikut-Nya. Tokoh yang akan datang kembali, menghakimi isi dunia, dan membawa pengikut-Nya ke sorga. Yang terakhir ini pasti.
Maka, berbanggalah dengan nama KRISTEN. Kami adalah pengikut-pengikut Kristus, yang tidak akan membalas karena meyakini kebenaran bahwa pembalasan adalah hak Tuhan. Yang walaupun dihambat namun kami akan tetap merambat. Yang tidak mau membakar rumah ibadah agama lain karena kami tahu bahwa api neraka lebih panas dari api untuk membakar rumah ibadah orang lain. Yang tidak mengatasnamakan nama Tuhan kami untuk melakukan tindakan anarkis. Yang dengan diam-diam berdoa bahkan menitikkan air mata kami untuk saudara-saudara kami yang teraniaya. Dan yang meneladani Tuhan kami sampai akhir hidup kami. Kamilah KRISTEN.
Sabtu, 05 Maret 2011
WINISUDA......WISUDA......

"Wisuda," mungkin menjadi acara yang membanggakan, menyibukkan dan menggembirakan banyak orang. Kebanggaan mungkin merupakan jatah orangtua. Sibuk mempersiapkan pakaian, kelengkapan dan bagi para wanita biasanya dandanan adalah tanggungan yang diwisuda dan kegembiraan adalah bagian dari teman, sahabat kenalan, kolega atau orang-orang dekat. Tapi tidak bagi sebagian orang. Wisuda tidak lebih dari pemborosan, kesibukan dan bahkan narsis-narsisan. Paling tidak ini kesimpulan sebagian orang yang tidak bisa di-"gebyah-uyahkan"-kan kepada semua orang.
Dari segi biaya, Wisuda memang memakan biaya yang cukup besar. Hanya untuk membeli, bahkan kadang-kadang hanya menyewa toga dengan bahan murah saja, uang dalam jumlah ratusan ribu bahkan berbunyi juta harus dikeluarkan. Syukur-syukur kalau isi dus konsumsinya bukan makanan ringan dan permen tapi makan siang. Kalau hanya dua buah roti murahan dan satu gelas air mineral, maka kemanakah uang wisuda itu? Hitung-hitung bisa untuk biaya dan lain-lain dan lain-lain kalau bukan untuk ceremony bernama wisuda. Pengeluaran ternyata bukan hanya untuk acara wisudanya. Untuk biaya transportasi menuju acara wisuda, orang tidak tanggung-tanggung merogoh koceknya untuk menyewa mobil untuk mengangkut dan mengantar kembali wisudawan ke rumah. Bahkan sesudah acara wisuda, malamnya biasanya diadakan pesta kecil-kecilan berbungkuskan nama "syukuran." Berapa lagi uang dikeluarkan untuk acara itu. Padahal, rata-rata sang winisuda belum mendapat pekerjaan.
Dari segi acaranya, inti wisuda ternyata ada pada kucir. Acara yang dijalani dengan ber-sumuk-sumuk ria dalam toga itu ternyata hanyalah pada pemindahan kucir. Sesudah itu mendengarkan orasi yang sebenarnya adalah basa-basi dan mudah-mudahan tidak basi-basi amat. Selanjutnya adalah acara narsis-narsisan dan petantang-petenteng dengan toga yang kalau di dalamnya puanasnya minta ampun.
Namun demikian, kalau dipikirkan dari segi orangtua, acara wisuda adalah sebuah kebanggaan. Betapa tidak, anak mereka yang kadang menelfon bahkan datang dengan tengah malam ke kampung halaman untuk meminta uang dan membuat mereka pusing tujuh keliling itu akhirnya bisa kelihatan gagah dengan toga dan dipindah tali kucirnya. Kendati dia belum punya kerja tetap alias menganggur pasca wisuda, yang penting satu langkah telah dilaluinya.
Wisuda, memang pemborosan di satu sisi tapi dia sekaligus sebuah perayaan. Dan nilai sebuah perayaan terletak pada momentnya. Tidak ada moment yang terulang persis seperti waktu wisuda, kendatipun wisuda bisa diulang sampai dua, tiga, atau mungkin lebih. Moment wisuda adalah moment krusial yang menandai sebuah pencapaian.
Sampai berkepala tiga ini, Puji Tuhan saya berkesempatan menikmati dua kali moment wisuda. Sayangnya, orangtua yang susah payah dengan saya tidak menyaksikan moment ini. Bukan karena mereka telah tiada, namun karena alasan tempat tinggal. Wisuda pertama di Jawa kami tandai dengan waktu yang berkesan, kala kami berlutut di depan altar dengan toga kami dan menyanyikan kidung "Ya Yesus ku berjanji setia pada-Mu" dan wisuda kedua di Kupang tanggal 26 Februari 2011 yang lalu juga sangat berarti. Dari semua acara, saya memfavoritkan bagian nyanyain oleh paduan suara saat menyanyikan lagu berjudul "doa seorang anak." Kelopak mata saya seolah tak bisa menahan cairan bening yang mendesak untuk mengalir. Mata saya memandang ke langit-langit dan seolah menembus plafon Aula Undana yang tinggi itu sambil hati saya berucap "Trimakasih Tuhan, Kau tolong hamba-Mu ini dan menyelesaikan satu tahun setengah lagi pasca S1." Kendatipun masih satu gelar, dua kali wisuda, namun suatu saat saya akan menyejarahkan moment ini bagi mereka yang mau mendengarnya.
Sabtu, 06 November 2010
ARTI PENGHARAPAN

1. Arti Pengharapan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diterangkan bahwa pengharapan berasal dari kata dasar harap yang berarti mohon, minta, keinginan supaya sesuatu terjadi dan sesuatu itu biasanya hal yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginan.
2. Pengharapan yang Alkitabiah
Kitab Ibrani 6:19-20 menyaksikan bahwa: “Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita, ketika Ia menurut pengertian Melkisedek, menjadi imam Besar sampai selama-lamanya.”
3. Hubungan iman dan pengharapan
Pengharapan tidak berdiri sendiri tapi berkaitan dengan iman, karena iman membuat orang memiliki pengharapan kepada Allah. Iman menempatkan manusia memiliki kepercayaan kepada Allah, sehingga ia dapat menaruh pengharapan kepada Allah. Pengharapan adalah sikap orang percaya yang mengenal Allahnya. Tidak ada pengharapan yang tidak dikaitkan dengan Allah yang menguasai alam semesta ini.
Mengharapkan berbeda dengan menginginkan. Menginginkan adalah sikap dan cara hidup yang berharap seperti yang kita inginkan, seperti yang kita pikirkan, seperti yang kita mau. Sedangkan pengharapan adalah sikap dan cara hidup yang mengandalkan pada apa yang hendak Allah lakukan. Pengharapan berkaitan dengan apa yang akan Allah kehendaki, lakukan untuk seseorang dan untuk berbagai hal yang berkaitan dengan segala hidup dan kehidupan seseorang.
Pengharapan bertumbuh dalam iman dan diwujudkan dalam cara:
1. Berdoa
2. Membaca Firman Tuhan
3. Beribadah
4. Hidup dalam Pengharapan
Hidup dalam pengharapan adalah hidup yang mendasarkan diri pada anugerah keselamatan Allah di dalam diri Tuhan Yesus Kristus, karena di dalam diri-Nya ada pengharapan kehidupan.
Hidup dalam pengharapan adalah hidup yang:
a. Mengakui bahwa Allah adalah penguasa hidupdan kehidupan, Allah adalah penguasa dunia ini. Oleh karena itu manusia perlu ikut serta menjaga, memelihara, dan merawat dunia ini.
b. Mengakui bahwa Allah bukanlah pencipta kejahatan dan penderitaan manusia. Allah tidak akan membiarkan kejahatan sebagai sumber penderitaan merajalela di dalam dunia, karena kejahatan bertentangan dengan sifat-Nya
c. Mengimani bahwa Allah menaruh perhatian secara pribadi kepada orang-orang pilihan-Nya. Pengharapan ini memberikan sukacita dalam hidup orang percaya bahwa orang-orang pilihan Allah akan selalu ada dalam pimpinan dan penyertaan Allah. Kalaupun terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, harus diimani bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kerangka kehendak, rencana, dan pimpinan Allah.
5. Pengharapan sebagai Sikap dan cara hidup Manusia
Sikap dan cara hidup yang berpengharapan dapat dilakukan dengan
1.Selalu berpikir dan bertindak atas dasar bahwa “pasti ada jalan keluar.” Sesulit apapun persoalannya, jalan keluar selalu tersedia. Yang perlu diingat, kesulitan adalah bukan akhir dari segala-galanya. Kesulitan adalah alat Bantu bagi kita untuk menemukan jawaban atau jalan keluar yang terbaik dari setiap masalah yang ada. Kesulitan bukanlah jalan buntu dari masalah tapi kesulitan adalah jalan keluar yang tertunda.
2.Tekun dan berdayajuang tinggi. Ini merupakan syarat untuk bias memiliki pengharapan yang berkemenangan.
3.Sanggup menghadapi segala tantangan kehidupan. Tantangan kehidupan adalah sebuah harapan bahwa di balik sebuah tantangan, selalu ada makna, hasil sesuatu yang didapatkan.
4.Berserah kepada kehendak Tuhan
Filipi 4:13 menyaksikan bahwa “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Tuhan mengharapkan penyerahan diri kepada-Nya. Hidup sebagai orang percaya bukanlah hidup yang hanya untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi hidup untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak perlu sehingga semakin dekat kepada-Nya.
6.Contoh Sikap dan Pengharapan secara Alkitabiah
Ada beberapa contoh di dalam Alkitab tentang tindakan hidup berpengharapan:
a.Matius 25:1-1
Menceritakan tentang lima orang anak dara yang setia menanti dalam pengharapan dengan m
B.Matius 5:3-12
Merupakan sikap pengharapan kristiani bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang berjuang untuk mencapai kebenaran Allah
7. Kesimpulan
Hidup berpengharapan dapat mengandung perngertian
a. Sikap dan tindakan yang percaya akan daytangnya langit baru dan bumi Baru yang didasarkan pada kuasa kebangkitan Yesus (1Kor. 15:14). Langit dan bumi baru adalah suasana hidup di mana segala sesuatu diperbaharui dalam kuasa kebangkitan Kristus (2Petrus 3:12)
b.Sikap dan tindakan hidup yang terus menerus berjuang menuju kesempurnaan Allah
c.Hidup yang terus memandang ke depan kepada rencana Allah, mau memperjuangkan keadilan Allah, kesejahteraan manusia dan memberantas penyakit dan kebodohan serta menyatakan shalom Allah
d.Tidak melarikan diri dari kenyataan hidup sehari-hari
e.Hidup yang mengatasi kesulitan hidup dengan memperjuangkan terwujudnya keadilan dan kebenaran Allah
f.Bukan hidup yang pesimis terhadap perkembangan dunia masa kini. Perkembangan dunia justru menjadi alat picu yang menantang dan mendorong orang percaya mewujudkan pengharapan imannya
8. Rangkuman
Berpengharapan berarti memiliki keinginan supaya sesuatu terjadi dan sesuatu itu biasanya adalah hal yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginan. Kitab Ibrani 6:19-20 menyaksikan bahwa pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Hidup sebagai orang percaya adalah hidup yang bukan hanya untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan tetapi untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak perlu. Berpengharapan berarti terus memandang ke depan, memperjuangkan keadilan Allah, memberantas segala macam penyakit dan kebodohan. Hidup yang mengusahakan dan menyatakan Shalom Allah
ARTI IMAN

A. STANDAR KOMPETENSI
Nilai-nilai Kristiani: Hidup bersyukur dalam segala situasi serta hidup beriman dan berpengharapan
B. KOMPETENSI DASAR
1.2. Mewujudkan Hidup Beriman dan Berpengharapan
C. INDIKATOR
1. Mendeskripsikan pengertian Iman
2. Menjelaskan pengertian iman secara Alkitabiah
3. Menjelaskan arti hidup beriman
D. MATERI AJAR
1. Pengertian Iman
Iman dalam bahasa Ibrani adalah “aman” yang dalam Perjanjian Lama berarti ‘berpegang teguh’ pada keyakinan yang dimiliki atau berketetapan hati untuk meyakini sesuatu karena sesuatu itu dapat dipercaya dan diandalkan. Kata iman selalu dikaitkan dengan kepercayaan kepada Allah. Karena itu ‘beriman kepada’ tidak dapat disamakan dengan ‘percaya kepada.’ Dalam bahasa Yunani, disebut dengan ‘pistis,’ dan bahasa Latin menyebut iman dengan kata ‘fides,’ juga ‘faith’ dalam bahasa Inggris.
Iman dimaksudkan untuk menunjukkan adanya hubungan manusia dengan Allah. Hubungan yang didasarkan pada sikap atau tindakan manusia yang percaya dan mempercayakan hidupnya kepada Allah. Manusia beriman adalah manusia yang mengiyakan, mengamini, menaruh kepercayaan dan harapan, mengandalkan, berpegang teguh, percaya dan mempercayakan diri pada Allah sebagai sumber dan dasar hidup.
Iman dan beriman merupakan tindakan manusia untuk mengenal Allah, sebagaimana Ia mengenal manusia. Allah dikenal sebagaimana Ia hendak dikenal dan yang seharusnya Dia dikenal. Iman dan beriman mengikatkan menusia kepada Allah bahwa Allah mengasihi kita, memelihara kita dan memperhatikan segala kebutuhan hidup kita. Imanlah yang membawa kita pada keselamatan di dalam Allah.
2. Pengertian Iman secara Alkitabiah (Ibrani 11:1)
Secara Alkitabiah, Ibrani 11:1 menjadi pegangan untuk mengartikan kata iman. Dalam Ibrani 11:1 diterangkan bahwa: “ iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Ada dua hal yang terkandung dalam pengertian iman ini.
1. Dasar
Merupakan sesuatu yang dapat membuat kita tetap berdiri teguh, sehingga bila dating tantangan atau cobaan, iman bias menjadi dasar yang kuat dalam menghadapinya.
2. Bukti
Merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi dan dialami oleh seseorang. Bukti menempatkan seseorang untuk tetap mempertahankan apa yang teruji benar walaupun tidak kita lihat tetapi dapat dipercaya karena bukti.
Iman seperti inilah yang telah membawa tokoh besar dalam Alkitab kepada keselamatan. Kita dapat belajar dari mereka yang dapat dijadikan teladan iman, antara lain:
1. Abraham yang telah meninggalkan bapak dan saudara-saudaranya menuju negeri yang belum diketahui, ia hanya mematuhi perintah Allah tanpa melawan hingga akhirnya ia menjadi bapak orang percaya, semuanya karena imannya kepada Allah
2. Perempuan Kanaan (Matius 15:21-25)
3. Perwira di Kapernaum (Lukas 7:1-10)
4. Habel yang karena imannya telah mempersembahkan korban terbaik bagi Allah dan korbannya diterima (Ibrani 11:4)
5. Henokh yang terangkat supaya tidak mengalami kematian
Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa mereka adalh orang-orang yang dengan segenap hati dan jiwa dan akal budinya percaya kepada Allah. Mereka bukan saja percaya tetapi juga melakukan sesuatu sebagai wujud percayanya. Beriman berarti meyakini firman Tuhan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pengertian Hidup Beriman
Iman merupakan sikap percaya dan mempercayakan diri pada Allah bahwa Allah mengasihi kita dan memperhatikan segala kebutuhan hidup kita. Iman juga merupakan dasar dari yang kita harapkan dan bukti dari yang tidak kita lihat. Hidup beriman mengandung beberapa hal antara lain:
a. Penyerahan diri secara total kepada Allah
Ini merupakan penyerahan diri yang melampaui batas pemikiran dan kemampuan
manusia. Dalam hal ini perlu sikap rendah hati dan ketaatan
b. Ketaatan dan kesetiaan kepada Allah adalah sikap untukselalu memegang kebenaran
Allah dalam segala persoalan kehidupan, mendasarkan segala sesuatu pada kebenaran
Allah.
c. Iman disertai dengan perbuatan. Hidup beriman tidak sekedar bicara tentang percaya
saja, tetapi dikaitkan dengan perbuatan (Yakobus 2:17)
4. Rangkuman
Iman merupakan sikap percaya dan mempercayakan diri bahwa Allah mengasihi kita, memelihara dan memperhatikan segala kebutuhan kita. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman harus diwujudkan dengan perbuatan.
Minggu, 24 Oktober 2010
DUA BULAN DOANG MENIKMATI JADI PD

Percaya atau tidak, sejak kecil 90% setiap kali makan daging ayam, saya selalu mendapatkan leher ayam. Disengaja ataupun tidak disengaja. Dulu ketika kami masih tinggal di rumah mama Papa (karena sejak SMA kami sudah harus merantau), saat ada kesempatan potong ayam, saya selalu kebagian leher ayamnya. Sengaja atau tidak disengaja. Saya pikir kebiasaan ini hanya sekedar kebiasaan di rumah kami saja. Waktu makan daging ayam entah di pesta atau rumah tetangga atau orang lain, kebanyakan saya dapat leher ayam. Tidak bermaksud untuk menginterpretasikan kejadian-kejadian ini, tapi saya terus bertanya dalam benak saya, apa maksudnya ini?
Tanpa bermaksud mempercayai segala sesuatu pertanda hidup, tapi saya sudah memikirkan bahwa kemungkinan saya tidak akan bisa menjadi pemimpin tertinggi. Top Leader mungkin tidak, tetapi untuk berada di bawah top leader saya siap. Ibarat kepala ayam dan leher ayam tadi. hehheee...
Pengalaman membuktikan itu. Dulu saat di asrama sempat menjadi ketua asrama. Waktu itu saya merasa bahwa beban yang saya hadapi sangat berat. Memang demikianlah beban seorang pemimpin. Selama dan pasca studi sarjana, saya sering diminta untuk memimpin sesuatu. Tetapi perasaan saya mengatakan bahwa saya tidak semampu orang lain dalam hal memimpin. Ada yang selalu saya pikirkan lebih layak dari saya untuk memimpin. Selama menjadi pengajar, saya hanya menjadi pembantu ketua II bidang Administrasi dan keuangan. Bagi saya, itu yang bisa saya lakukan. Selama beberapa kali saya juga pernah diminta untuk menjadi station Manajer untuk sebuah Radio Swasta di kota Kupang, namun bagi saya, ada orang lain yang lebih pantas untuk menjadi pemimpin dan saya cukup berada di bawah dan menyokong atasan. Keyakinan itu sangat kuat dalam diri saya. Bahkan untuk menjadi koordinator penyiar saja saya sulit untuk menerimanya.
Hingga suatu saat saya diminta untuk menjadi Program Directot untuk Radio Suara Kupang. Setelah diberi uraian tugas yang harus saya kerjakan dan diberi dorongan yang cukup, maka sadarlah saya bahwa saya ternyata bisa melakukannya. Tentu saja atas bantuan seorang direktur operasional yang baik. hehheee. Enakan. Ternyata menjadi PD adalah sebuah pekerjaan yang berat. Tetapi mengasyikkan. Pekerjaan yang harus dilakukan menyangkut bertanggung jawab penuh terhadap kelancaran jalannya keseluruhan aktivitas siaran secara umum mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai pada tahap evaluasi dan pengawasan.
Tanggungjawab seorang Program Director versi tempat saya bekerja secara struktural adalah bersama sama dengan dua bagian lain yakni Music Director (eMDi) dan Administratur mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka untuk seorang Station Manager. Di Radio Suara Kupang, tempat saya mengabdi, Program Director yang saya terima membawahi Koordinator Siaran, Produksi dan Koordinator News. Suatu pekerjaan yang mustahil dijalankan seorang manusia berbau kencur bernama Medison Tanesib. Apalagi pekerjaan ini saya jalankan dengan pekerjaan-pekerjaan "nyambi" lain yang tidak membuat saya fokus. Teteapi intinya adalah tugas saya sebagai Program Director pada Radio suara Kupang adalah berusaha mengatur penyiar untuk bersiaran dengan membuat schedule, mengawasi pelaksanaan schedulle, dan mengawasi isi siaran. Yang ini sih sebenarnya kuncinya hanya pasang telinga saja ke radio. Pantau semua apa yang diudarakan. Apakah artikulasi penyiar sudah jelas, dialeknya tidak "kampungan," putar iklan sesuai dengan rencana siar, baca berita dengan jelas dan kualitas lagu yang diputar enak di telinga? Masalahnya penyiar dari dulu adalah kalau lagi berhalangan hadir dan mendadak. Nahhhhh itu masalah. Makanya sebaiknya PD sudah merumuskan (bersama-sama dengan penyiar) apa-apa yang harus dijalankan dan apa-apa yang akan menjadi sanksi kalau tidak dijalankan. PD juga mengurus produksi-produksi yang harus di on airkan. Di antara pengalaman saya, ada insert program dan iklan-iklan spot. Terhadap News, PD zaman saya lumayan ringan karena koordinator News dipegang langsung oleh St. Manajer yang membuat saya tidak terlalu pusing banyak.
Pekerjaan ini saya tekuni selama dua bulan dan sempat dua kali menyusun dan menyampaikan laporan tertulis di rapat bulanan station. Tapi karena ada gangguan pada pemancar dan antene radio kami, pekerjaan itu harus ditinggal. Sekarang, saat tulisan ini saya tulis, Suara Kupang sedang berbenah untuk bangkit kembali setelah perbaikan pemancar dan antenne. SEMOGA.
Rabu, 08 September 2010
PPL

Adalah pengalaman pertama untuk mengikuti Program Pengalaman Lapangan atau Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) untuk menjadi guru. Di sekolah Theologia dulu, kami diberi kesempatan untuk mempraktekan ilmu kami dengan setiap jumat hingga senin pagi wajib berada di tengah-tengah jemaat dan melayani mereka. Semasa kuliah, ini kami sebut sebagai Week End. Istilah “week end” bagi kebanyakan orang mungkin sesuatu yang menyenangkan karena bias berlibur atau pergi ke luar kota, santai dan banyak kegiatan relaksasi lainnya. Tapi week end bagi kami mahasiswa Tgeologia (dulu) adalah waktu yang cukup menegangkan. Disebut menegangkan karena setiap jumat siang, saat mendengar bunyi Adzan dari Masjid tetangga asrama kami, itu adalah semacam komando bahwa kami sudah harus keluar dari asrama menuju ke tempat pelayanan kami di desa-desa sekitar Jogjakarta dan Jawa Tengah, tinggal di rumah-rumah jemaat dan bersosialisasi dengan mereka untuk akhirnya melayani mereka. Yang perlu kami lakukan adalah hadir di tengah-tengah jemaat dan masyarakat Jawa (kebetulan saya di desa Terbah di Gunung Kidul, Yogyakarta), hidup selayaknya orang Jawa dan berusaha menjadi bagian dari mereka untuk akhirnya melayani mereka. Rutinitas pendeta di tengah jemaat sekali.
Menjelang lima tahun sesudah tamat kuliah, yang kebanyakan saya dihadapkan pada mahasiswa, atau murid-murid sekolah, saya harus kembali melakukan observasi dan adabtasi lagi dengan lingkungan sekolah. Awalnya karena ketertarikan saya di dunia pendidikan. Sejak tamat sekolah theologia, kebanyakan saya bergerak di bidang pendidikan. Pernah dipercaya mengasuh mata kuliah hermeneutika di STII Kupang dan bahasa Ibrani. Lima tahun sudah belajar untuk mengajar. Kemudian merambah ke sekolah lain seperti STTP di Kupang, ke STT Berkat di Camplong dan kemudian ke tingkatan SMA yakni ke SMTK Musafir Kupang. Perluasan ini membuat saya semakin tertarik untuk menjadi pengajar saja. Bukan karena ikut-ikutan, namun karena keterpanggilan saya melihat kebutuhan di sekolah dan gereja.
Sejak mengikuti program Akta Mengajar di Universitas Nusa Cendana Kupang, saya merasa bahwa ada banyak yang harus saya benahi dari cara mengajar saya. Misalnya mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi seluruh pembelajaran. Jujur saja selama bertahun-tahun mengajar di STII, STTP, STT Berkat, saya belum terlalu banyak mengetahui tentang cara yang paling tepat mempersiapkan diri, yang tidak sekedar bermodal berani dan nekad saja tetapi harus mempersiapkan administrasi pembelajaran di kelas juga. Syukurlah, ada sedikitpengalaman lapangan sebelum betul-betulkuliah dan di PPL-kan ke ‘the real school.” Di SMTK Musafir Kota Kupang, memang administrasi untuk pembelajaran juga kami lakukan. Bahkan puji Tuhan, sekolah kami memiliki Silabus bahasa Yunani dan Ibrani yang kami usahakan sendiri dengan panduan kurikulum untuk SMTK.
Akhir Agustus 2010, kami mulai dilepas untuk mengikuti Program Pengalaman Lapangan. Rumit juga urusan untuk akhirnya bias PPL. Dimulai dengan pembekalan yang dilakukan UPT PPL undana. Kami mahasiswa Akta Mengajar dikumpulkan dengan teman-teman yang regular dan diberitahu aturan-aturan selama PPL. Harus berpakaian rapih, bertindak seperti seorang guru, dan melakukan tugas administrasi di sekolah dan kegiatan manajemen sekolah. Setelah carut marut urusan di kampus dengan UPT PPL Undana selesai, berangkatlah kami di antar pihak undana dan diserahkan ke SMP Negeri 1 Kupang. Tidak pernah terbayang untuk mengajar anak-anak SMP dalam benak saya. Puji Tuhan, saya sudah pernah mengajar di Sekolah Tinggi (setingkat di atas SMA), di SMA (SMTK), dan bahkan pernah di Taman Kanak-kanak (TK). Sebuah pengalaman berarti. Dan sekarang di SMP.
Hari-hari pertama PPL di SMP kami dibawa ke kelas untuk melihat guru mengajar dan kami mengamati ‘gelagat’ siswa SMP yang di luar dugaan. Banyak teman bahkan mengaku kalau anak-anak SMP sangat liar. Tapi setelah diikuti ternyata ada trik-trik tersendiri untuk mengajar di SMP. Lain dengan trik di SMA atau Perguruan Tinggi atau bahkan TK. Saat gurunya tidak masuk, kami malah disuruh untuk mengajar.
Dan asal diketahui, PPL dinilai dari Observasi sekloah yakni mengamati dan melaporkan tentang keadaan sekolah secara fisik, orgnisasi, dan kegiatan-kegiatan di sekolah, mengajar terbimbing yang dnilai RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan Pelaksanaan Pembelajaran. Bayangkan, semuanya ini harus ditulis tangan. Memang teknologi mempermudah tapi juga membuat orang malas. Sehingga semua laporan ini harus ditulis tangan. Beruntunglah, hari ini libur Idul Fitri 1 Syawal 1431 H sudah dimulai, jadi bias menulis di blog ini lagi. Semoga pembelajaran terbimbingnya jalan lancer, pembelajaran mandirinya berjalan lancer dan dinilai baik oleh guru pamong dan dosen pembimbing, dan akhirnya bias Ujian serta mengumpulkan laporan PPL. Tuhan yang menuntun ke jalan ini. Puji Tuhan, pasti ada kekuatan utnuk menyelesaikan urusan menjadi guru agama di sekolah. Kerinduan yang terpendam sejak SD ketika ditanya, mau jadi apa. Selalu ada jawaban “jad guru.” Dan selamat dating guru Medison Tanesib. Guru yang tidak hanya bermodal nekad tetapi guru yang pernah mempraktekan bagaimana mempersiapkan pembelajaran dengan menyusun RPP, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya.
Dan semoga Pdt. Imanuel Lakamal, MA dosen pembimbing saya dan ibu Damaris Ch. Mandala, S.Th guru Pamong saya dan Yohai Betty teman semata pelajaran saya mendukung saya dalam penyelesaian PPL ini. Intinya kalau mau PPL, persiapkan mental hadapi anak-anak, ambillah inisiatif untuk konsultasi dengan dosen pembimbing dan guru pamong, bekerjasamalah dengan teman-teman seangkatan di satu sekolah dan kerjakan semua yang direncanaan. Ada satu lagi, mental untuk menghadapi anak-anak SMP harus ada. Kalau tidak bias muntah darah. Hehehee. Yang terakhir ini berlebihan.
Senin, 12 Juli 2010
KAPAN KAWIN?

Berapa kali dalam sehari anda ditanya tentang status hubungan? Mungkin hal ini tidak akan terjadi pada mereka yang masih berkepala dua. Tapi bagi orang yang sudah selesai studi Sarjana, pertanyaan tentang status hubungan mungkin sering akan dihadapinya. Pertanyaan tentang siapa pacar, sudah punya pacarkah atau kapan menikah adalah sering terdengar dan jujur, ini mempengaruhi pikiran seseorang. Apalagi saat melihat orang lain yang notabene teman seperjuangan, setingkat, sesekolah atau teman kerja yang bahkan berumur lebih mudah yang sudah menikah, pasti akan lumayan mengusik kalau tidak ingin dikatakan mengganggu. Jika ingin di data, orang yang berkepala tiga diduga sudah mendengar pertanyaan ini lebih dari duaratuslimapuluh kali. Taksasi asal jadi.
Pernikahan memang menjadi thema menarik jika seseorang sudah mencapai umur yang tepat di pandangan publik. Orang yang belum menikah akan dicurigai macam-macam oleh orang lain. Entah karena miskin, karena belum mampu, karena tidak punya pacar dan alasan-alasan lain yang masuk akal untuk diperbincangkan. Tetapi ada alasan yang cukup rasional juga yang biasanya menjadi pertimbangan seseorang untuk tidak cepat-cepat menikah. Alasan rasional itu menurut saya adalah mendahulukan bekerja dengan mapan dan membantu studi adik-adik saya terlebih dahulu, barulah menikah. Ini memang mengorbankan diri sendiri demi orang lain, tetapi juga masuk akal. Bagaimana mungkin kita menikah, sementara belum punya rumah untuk tinggal bersama sang pasangan, belum ada pekerjaan yang layak untuk dapat menghidupinya dan belum mampu untuk menafkahi secara finansial. Memang sih ada nasehat orang, tidak pernah orang yang menikah itu anak-anaknya mati kelaparan. Akan ada saja berkat dari Sang Khalik bagi orang yang sudah menikah.
Menikah memang akan dilakukan. Ya kapan saja ,,yang penting sudah ada pasangan yang cocok dan sudah ada penghasilan, agama sudah seiman dan siap mental serta sudah niat.
Maka menikahpun terlaksanalah. Tawaran study untuk melanjutkan ke s2 ternyata membuat seseorang untuk menunda dulu menikah. Semoga bidadari pengganti bidadari Magelangku akan segera kusunting. Doakan yah.....
Minggu, 27 Juni 2010
HANYA ADA DI KUPANG

Saya memang tidak lahir di kota Kupang. Tidak dibesarkan di Kupang. Dan tidak tahu apapun tentang Kupang sebelum saya lulus Sarjana dan kembali ke Kupang. Karena itu hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan di Kupang tidak pernah saya ketahui. Saya baru mengalaminya saat saya menamatkan studi saya 2005 yang lalu di Jogja, dan kembali ke pulau tempat saya dilahirkan, Timor. Bagi orang Timor yang lahir di pedalaman Timor seperti saya, kekasaran adalah sesuatu yang tidak lumrah. Betapa kagetnya saya ketika sampai di pelabuhan Tenau, disambut dengan bentakan orang-orang yang berampasan ingin menjemput keluarganya.
Hari-hari pertama di Kupang memang berat. Maklum budayanya beda sekali dengan kebiasaan orang Timor, sekaligus beda dengan kebiasaan orang Jogja tempat saya menuntut ilmu. Maklum saja, saya dari kampong bernama Kapan yang orang-orangnya kebanyakan santun, dan study di satu tempat bernama kalasan yang santun juga orangnya.
Suatu pagi saat kami tiba di Kupang, saya mau ke kamar mandi. Kebetulan tuan rumah tempat saya menginap, tinggal bersamaan dengan induk semang mereka karena ngekos ceritanya. Saat lewat di depan Ibu Kost saya selalu mengucapkan "permisi." Pertama kali permisi masih di jawab, balik lagi permisi lagi, masih di jawab kali ketiga dan keempat dengan muka yang tidak bersahabat dan berikutnya dapat bentakan. Lewat permisi...lewat permisi..... Capek yang jawab (dalam logat kupang yang kental). Ini hanya ada di Kupang. Kalau sering-sering mengucapkan permisi setiap kali lewat depan orang, Bahaya.
Hal unik lain adalah menumpang angkutan kota di Kupang. Pemuda-pemudi di Kupang akan lebih suka naik angkot bermusik suangat keras. Ada bahkan, ibu-ibu yang tidak merasa terganggu saat naik angkot dan musiknya sangat keras. Padahal telinga kita rasanya sudah Saat naik angkotnya pun lain. Sesudah naik angkot orang yang duduk dekat pintu tidak akan bergeser, walaupun ada kesan dia menutup-nutupi jalan. Cara lain yang unik adalah saat penumpang di sebelah tempat duduk kita pindah dan kita harus bergeser ke tempatnya, kebiasaan di Kupang, tempat duduknya ditepuk dulu dengan keras sebelum diduduki. Terkesan yang barusan duduk di tempat itu kotor, najis, dan bekas pantatnya duduk ada kumannya. hehhee. aya-aya wae.
Itu baru satu. Ada yang aneh juga di Kupang saat hari Jumat daqn hari Minggu. Free Helm untuk hari minggu dan hari Jumat. Kendatipun ada Polisi, jarang ada orang yang dicegat dan ditegur hanya karena tidak mengenakan helm. Kenapa? Karena orang yang mau ibadah di hari minggu akan sulit untuk mengenakan helm karena rambutnya sudah tertata rapi. Sama juga dengan yang mau ke Masjid saat hari Jumat. Saya heran dengan aturan ini. Siapa yang salah?
Masih banyak lain yang hanya ada di Kupang? Mau buktikan? Silakan datang di Kupang dan selamat menikmati.
Selasa, 15 Juni 2010
AKU BERGELAR DOKTOR

Rasanya cukup lama raib dari dunia blog-blog-an. Syukurlah ada yang mengingatkan untuk kembali ke alamku. Hehehehe. Meminjam istilahnya teman,sekarang saya "go-blog."
Bicara tentang 'go-blog,' rasanya tidak enak, kalau ada yang menyebut kita goblok. Sebodoh-bodohnya orang, dia akan marah besar dengan sebutan itu. Orang akan bangga kalau sudah selesai studi dan mendapat gelar. Masih hangat dalam ingatan, dulu ada beberapa orang yang lulus D2 PGSD, dari UT pula, bangga sekali dengan foto wisudanya. Sesudah di wisuda dengan gelar A.Ma Pd yang jarang digunakan itu, mereka bangga sekali. Apalagi yang diwisuda dengan gelar Sarjana. Di Kupang, syukuran wisuda SARJANA bisa semalam suntuk pestanya. Maklum, selain makan-makannya, ada mabuk-mabukannya, ada dansa-nya, dan tidak jarang ada berkelahi dan perang sukunya. Ironis. Sesudah itu, nganggur. Alaaaaaaaahhhh.... Apalagi kalau bergelar S2. Master apa kek. Rasanya pulau Timor ini terlalu sempit untuk gelarnya. Puanjang buanget. Tapi perkenankan saya untuk memperkenalkan diri dan gelar baru saya. DOKTOR. Ckckckckc. (Bantu dong, berdecak kagum karena gelar saya)
Gelar baru ini saya didapat dari membaca buku. Tidak ada kaitan dengan ilmu pengetahuan bukunya. Kaitannya dengan biografi tokoh NTT, Ir. Ansgerius Takalapeta, bapaknya orang-orang dari Kabupaten Alor. Katanya dulu waktu mulai merintis kariernya, beliau sering tidur di Kantor. Karena sering tidur dikantor itulah dia disebut Tuan Doktor (MonDOK di KanTOR).Nampaknya sayapun harus menerima gelar baru itu. DOKTOR. Maklum, karena kondisi dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain, maka moDOKlah saya di kanTOR (DOKTOR). Ijazahnya menyusul. Heheheee
Selasa, 30 Maret 2010
KULIAH AKTA IV

Saat tanganku ringan untuk menulis kembali blog-ku ini, semester kedua di Akta IV Undana sedang saya tekuni. Memang menjadi waktu yang cukup melelahkan. Karena banyak orang menggosipkan bahwa kuliah AKTA IV itu pekerjaan yang menyenangkan. Hanya dapat ditempuh dalam beberapa bulan dan langsung dapat AKTA. Lumayan menggiurkan untuk mendapat AKTA IV dengan cara demikian. Karena peluang kerja, katanya akan lebih mudah. Tetapi beberapa berita di surat kabar, pernah menyoal masalah AKTA kilat itu, yang terbukti bermasalah. Belum lama, ada juga informasi bahwa 53 orang di salah satu kabupaten di NTT terlilit masalah dengan ijazah aktanya. Cerita-cerita inilah yang membuat banyak orang wasd-was mengambil AKTA mengajar. Keputusan untuk memulai di Undana, satu-satunya Universitas Negeri di NTT adalah lumayan bijak menurut saya waktu itu. Kendatipun memakan waktu. Sengaja saya tulis bagian ini untuk menjawab beberapa pertanyaan kawan-kawan tentang AKTA IV. Gimana sih kuliahnya? Mata kuliah apa saja yang diajarkan?
Begini, AKTA IV sesungguhnya sekarang kata orang hanya sebagai pelarian untuk mendapat ijazah. Seharusnya sih tidak demikian. Bagi orang yang mau mempertajam ilmu kependidikannya, terutama yang dari non kependidikan, treatmen AKTA IV dengan tiga semester seperti di UNDANA Kupang lumayan membantu. Mungkinkah teman-teman yang lain di AKTA IV Undana juga merasakannya?
Kuliahnya ternyata cukup melelahkan. Maklum, waktunya adalah jam 14.00-17.00 kalau 4 SKS mata kuliahnya. Bagi matrakuliah yang 3 SKS biasanya hanya sampai jam 4 saja. Itupun tergantung dosennya. Tapi biasanya kebanyakan presentasi. Dosen masuk, bahannya dibagikan, cari sumber, dan presentasi per kelompok.
Adapun matakuliah-matakuliah yang diajarkan di AKTA IV (paling tidak di Undana-Entah di tempat lain) adalah:
SEMESTER I
1. Pengantar Pendidikan (3 SKS)
2. Perkembangan Peserta Didik (3 SKS)
3. Belajar dan Pembelajaran (4 SKS)
4. Kemampuan Dasar Mengajar (4 SKS)
5. Perencanaan Pengajaran (3 SKS)
6. Penelitian Pendidikan (3 SKS)
SEMESTER II
1. Pengembangan Bahan Ajar (4 SKS)
2. Strategi Belajar Mengajar (4 SKS)
3. Evaluasi Pengajaran (4 SKS)
4. Kajian Kurikulum Bidang Studi (4 SKS)
SEMESTER III
1. Praktek Lapangan (4 SKS)
So,Kuliahnya tiga semester, kawan-kawan yang tanya.... Semoga ada sedikit gambaran, apa sih yang dibuat di Akta IV. Doakan saya yah....
Kamis, 26 November 2009
MENJADI GURU

Di kalangan mahasiswa akta IV Undana 2009, istilah "menjadi guru pada akhirnya," bukanlah ungkapan yang asing. Ungkapan ini saya dengar pertama dari seorang guru besar. Ada dua jenis guru katanya. Mereka yang "guru asli" yaitu mereka yang sejak awal sudah memutuskan untuk kuliah FKIP. Kelompok ini katanya sudah memiliki panggilan untuk menjadi guru.Mereka adalah orng-orang terpilih yang mengetahui seluk beluk menjadi guru karena dididik secara khusus. Kelompok yang kedua adalah "guru pada akhirnya." Guru-guru jenis ini adalah mereka yang tidak dari latar belakang FKIP. Mereka adalah orang-orang yang pada awal kuliah memutuskan untuk mengambil jurusan ilmu pendidikan. FKIP bukan fakultas yang mereka pilih. Setelah menyelesaikan study mereka di fakultas non kependidikan, mereka bekerja. Tapi nasib baik nampaknya tidak kunjung juga menyambangi mereka. Setelah melanglangbuana ke sana kemari mencari pekerjaan, tidak satu pekerjaanpun yang memiliki penghasilan yang bagus. Setelah melihat bahwa sertifikasi guru dan dosen diadakan, maka bergegaslah orang-orang ini masuk ke FKIP dan menganggap akta mengajar sebagai tumpuan hidup untuk mendapat jaminan gaji. Guru-guru yang terpaksa. Ini gambaran dari pendapat singkat beberapaorang terhadap mereka yang mengambil kuliah AKTA IV.
Sungguh sebuah dikotomi yang menyakitkan. Menyakitkan bagi mahasiswa AKTA IV -paling tidak saya. Lebih menyakitkan lagi karena pembedaan ini menyebabkan sebutan 'guru yang terpanggil," dan "guru yang terpaksa." Hemat saya, ungkapan ini agak berlebihan. Pasalnya, tidak semua orang yang non-FKIP yang memutuskan menjadi guru punya motivasi untuk memperoleh gaji tinggi karena sertifikasi guru. Arogansi terhadap mahasiswa AKTA sebaiknya tidak dilakukan.
Pengalaman pribadi saya, sejak kecil -saat sekolah di sebuah SD di desa Ajaobaki kecamatan Mollo Utara di pedalaman Timor Tengah Selatan-NTT- saya punya cita-cita untuk menjadi guru. Ini spontan keluar dari bibir saat ditanya mau jadi apa nantinya. Angan-angan ini masih terus ada saat SMP bahkan sampai SMA. Tahun 2006, saya duduk di SMA Negeri 1 SoE di TTS. Waktu itu hanya ada satu tujuan, menjadi guru bahasa Indonesia. Kebetulan subjek ini menarik bagi saya. Kendati demikian, kesanggupan pembiayaan untuk kuliah tidak saya miliki. Maklum, orangtua saya hanyalah petani miskin di desa di pedalaman pulau Timor. Setamat SMA, teman-teman saya mendaftar di FKIP. Belakangan saya mendengar dan bertemu dengan mereka secara langsung maupun di dunia maya dengan kecanggihan facebook, dan mendengar kabar mereka tentang kesuksesan mereka menjadi guru bahasa dan dosen bahasa. Ada yang bahkan menjadi guru bahasa Ibrani. Gelar-gelar pun dicantelkan di belakang nama mereka. Ada yang S.Pd, ada yang M.Pd, ada yang menjelang Ph.D di luar negeri. Mereka saya golongkan sebagai "guru yang sukses."
Setamat SMA, tawaran untuk bersekolah di Jawa dengan jurusan non kependidikan mematahkan niat saya untuk kuliah di Undana FKIP Bahasa Indonesia. Maklum, sekolah yang saya tuju di Jawa menjanjikan keringanan biaya, bahkan pembebasan biaya. Walaupun demikian, selama study di Lembang dan di Jogja, kegiatan saya tidak jauh-jauh dari mengajar. Bahkan mulai dari jenjang yang paling rendah. Saya bahkan pernah mengajar Taman Kanak-kanak. Sebuah jenjang yang kontras dengan tabiat saya. Seorang "guru terpanggil" mungkin akan terpanggil hanya untuk jenjangnya saja. Setelah tamat study, saya bahkan diminta untuk mengajar di sebuah Sekolah Tinggi. Dari Taman Kanak-kanak ke Skolah Tinggi. Memang tertunda menjadi guru. Jadi jika teman-teman saya menjadi "guru yang sukses," maka saya menyebut diri saya sebagai "guru yang tertunda." Bedanya saya dengan mereka adalah mereka mengetahui seluk beluk pendidikan, seluk beluk menjadi guru dan seluk beluk perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran bahkan evaluasi pembelajaran. Saya, mempraktekannya namun belum mengetahinya secara pasti. Beruntunglah, saya melanjutkan S2 saya di bidang pendidikan Kristen dan memiliki gambaran. Sayangnya S2nya belum wisuda-wisuda karena kendala biaya. (hehehehe).Dan sekarang saya mewujudkan impian itu untuk memahami sedikit tentang pendidikan dengan mengasah diri saya di FKIP Undana.
Jadi kalau orang non-FKIP dicap sebagai "guru yang tidak terpanggil" tapi "guru yang terpaksa," saya protes. Protes karena pengalaman juga mengajari kita untuk menjadi guru. Maka, saya menyimpulkan bahwa kurang bijak kalau meng-"gebyah uyah" semua mahasiswa AKTA IV sebagai mereka yang sudah pontang-panting mencari pekerjaan dan tidak menemukan kemudian mengincar lapangan alumni FKIP. Mungkin ada juga benarnya, tetapi sebaiknya lebih bijak mengatakannya.
Ada seorang dosen tua yang tidak menawan dan tidak cakap mengajar menurut beberapa teman saya. Orangnya tidak rupawan dan ungkapannya tidak terlalu jelas untuk ditangkap. Beliau asli FKIP. Tapi pernah selalu membela orang-orang non FKIP. Tidaksemua guru yang alumni FKIP juga awalnya terpanggil. Keterpanggilan itu pasca prose di LPTK. Ah.... pagi yang penuh dikotomi. Lebih baik saya menikmati lagu "anak Pantai"-nya Imanez sambil minum dulu, mumpung liburan Idhul Adha 1430K. Selamat menjadi guru.
Langganan:
Postingan (Atom)



