Kamis, 05 Februari 2009

TOLONG...SAYA KECOPETAN ... (di Kupang)


Baru saja pelajaran tentang cara menafsir Alkitab selesai, saya bergegas pulang. Dengan berjalan kaki + 1 Km ke jalan raya untuk akhirnya menumpang angkot, saya masih sempat membalas SMS dari seorang siswi binaan STII. Dia bertanya, "kalau seandainya Yudas tidak menjual Yesus, apakah yang akan terjadi dengan kamu?" Telfon genggam saya saya isi di kantong tas dan dengan sekali panggil, angkot yang akan saya tumpangi segera berdiri. Mata saya masih sempat mengawasi dua atau tiga orang di atas angkutan kota yang saya tumpangi. Beberapa orang mahasiswa duduk di kursi yang berhadapan dengan saya. Sementara di samping saya, duduk seorang kakek. Saya menduga dia pengungsi. Jalur yang saya lewati adalah jalur pengungsi Tim-Tim. Dalam perjalanan, beberapa mahasiswa turun dari angkot tapi saya rasa, tidak pernah berkurang penumpang di dalam. Beberapa kali saya merasa, kakek yang duduk di samping saya seolah "mendorong" saya. Naluri "jawa" saya muncul. Jangan-jangan kakek itu akan mencopet. Tapi segera saya tepis anggapan itu. "Masa,sih.. di kupang ada copet. Kayak bis jogja - Solo atau Kartosuro - Semarang aja.." Setelah turun angkot, saya memanggil ojeg, yang kebetulan ada di mana saja di Kupang, untuk tiba di kost saya. Dengan kelelahan dan rasa kantuk yang dalam saya membuka pintu, masuk dan siap untuk istirahat siang. Sekedar untuk memastikan apakah ada pesan yang masuk, saya mencari telpon seluler saya, tapi astaga.... Sesudah bongkar sana sini, tidak saya temukan lagi....

Handphone itu raib di Bemo tadi. Saya baru sadar, copet ternyata tidak hanya ada di Semarang, terutama di Pedurungan dalam bis menuju Kartosuro. Waktu itu alih-alih menjual koran, dia merogoh kantong saya, beruntung tidak ada uang atau barang berharga lainnya di sana. Salah sasaran. Seharusnya ia tidak mencopet pada anak kost seperti saya. Ehehehe... Ketipu dia. Tapi sekarang hal itu terjadi di Kupang, kota propinsi kecil yang sepi pengamen. Ternyata mental jelek tidak harus di kota Besar. Sekarang, sayalah korbannya, tanpa HP. Susah menghubungi siapapun. Saya dapat merasakan sekarang bagaiamana orang yang dikarantina tanpa HP dan bagaimana orang yang meminta dukungan doa dari saya karena kehilangan. Tuhan kuatkan saya... Amin.

Tidak ada komentar: