Senin, 07 Maret 2011

SEBUT AKU “KRISTEN”


Menyebut diri sebagai “Kristen” bukannya tanpa konsekuensi. Bukan saja pada akhir-akhir ini saat toleransi adalah sebuah keniscayaan di bumi Indonesia, tetapi sejak lama, menyebut diri sebagai Kristen mengandung banyak resiko. Di zaman penjajahan Roma, orang-orang yang disebut “Kristen” banyak menerima tuduhan. Tuduhan-tuduhan itu antaranya adalah tuduhan bahwa orang Kristen adalah kanibal, praktisi free sex, dan tidak taat kepada pemerintah. Ini lantaran orang Kristen masa itu tidak mendapat tempat untuk beribadah di permukaan tanah, sehingga katakombe-lah yang menjadi tempat bagi mereka untuk beribadah. Tuduhan kanibal datang kepada orang Kristen setelah ada spionase yang memberi informasi bahwa orang Kristen yang beribadah di katakombe selalu mengucapkan “inilah tubuhku, terimalah dan makanlah, inilah darahku, terimalah dan minumlah.” Setelah mereka keluar dari katakombe, tempat yang seharusnya ada duka di sana, orang-orang Kristen justru kelihatan bersukacita. Lalu, muncullah dugaan, jangan-jangan ada praktek free sex yang dilakukan di tempat makam bawah tanah itu. Daripada memilih menyebut kaisar kurios mereka lebih senang untuk menyebut Kristos Kurios yang karenanya mereka dituduh tidak taat kepada pemerintah yang dikepalai kaisar.

Di Indonesia sekarang, menyebut diri sebagai Kristen adalah sebuah resiko. Resikonya selain dijauhi dan tidak diberi pekerjaan oleh orang lain, juga dilarang berbakti di negara, kota, desa tempat mereka dilahirkan. Sebuah ironi. Teman saya pernah bercerita, betapa beratnya mengaku Kristen di satu tempat di bagian barat negara ini. Selain dibenci, tidak mendapat pekerjaan yang katanya hanya untuk orang-orang dari agama tertentu, tidak jarang dia dihina. Orang Kristen adalah polytheis. Orang Kristen haram karena suka makan daging babi, dan tuduhan-tuduhan lain kepada orang Kristen. Sedikit catatatan bagi kawan-kawan yang pernah mengalaminya, ini bukan hal baru. Biarkan mereka mengatakan semuanya itu. Orang Kristen dalam sejarahnya telah mengalami semua sindiran, olokan, fitnahan dan makian yang bahkan lebih kasar dari itu. Bahkan kadang-kadang kematian harus dihadapi mereka. Bukankah GURU mereka juga mengalami hal yang sama?

Sebutan “Kristen” pertama kali diterima oleh orang-orang Antiokhia. Untuk pertama kalinya mereka disebut Kristen. Menyebut sebagai Kristen berarti bahwa orang tersebut adalah umat Kristus. Bagi orang non-Yahudi, Kristus hanyalah nama orang. Sederhanya, mungkin menyebut diri sebagai Kristen adalah sedang berusaha mengatakan: “saya adalah pengikut Kristus.” Implikasinya adalah, saya bersedia seperti Tuhan saya. Bersedia dihina, bersedia menderita, bahkan mungkin mati. Heroik benar orang yang menyebut diri mereka Kristen. Bagi mereka, kalaupun kematian harus mereka alami, itu jalan yang harus mereka terima.

Identitas Kristen adalah sebuah kebanggan. Kristen, adalah orang-orang yang berjalan di belakang seorang tokoh luar biasa bernama Kristus. Tokoh terbesar sepanjang masa. Tokoh yang adalah Juruselamat. Kristen adalah sebuah resiko karena merekalah pengikut tokoh yang pernah dihina, difitnah, diolok, dipukul, dicaci, diludahi, didera, dicambuk, ditangkap, diadili, digiring seperti penjahat, ditertawakan, disangkal, disuruh memikul salibNya sendiri, dipaku tangan-Nya, diberi minum anggur asam saat di salib, diolok oleh orang hukuman, ditusuk lambung-Nya dengan tombak, mati sebagai orang hukuman. Kristen juga adalah sebuah kebanggaan karena mereka adalah pengikut tokoh yang sudah ada sejak kekal, seorang pensehat ajaib (Wonderful Conselor), Allah yang Perkasa (Mighty God), Bapa yang Kekal (Everlasting Father), Raja Damai (Prince of Peace). Tokoh yang kelahiran-Nya dirayakan oleh malaikat di Sorga, yang digelisahi oleh raja dunia, disembah oleh ilmuwan-ilmuwan dari Timur, dikagumi dalam diskusi dengan Ahli kitab saat berumur duabelas tahun, dinyatakan sebagai “Anak-Ku yang Kukasihi” oleh suara dari langit, menang terhadap godaan di padang gurun, dimuliakan di atas gunung, bangkit dari kematian, naik ke sorga dengan iringan awan kemuliaan. Seorang tokoh yang tidak tanggung-tanggung menjanjikan sorga bagi pengikut-Nya. Tokoh yang akan datang kembali, menghakimi isi dunia, dan membawa pengikut-Nya ke sorga. Yang terakhir ini pasti.

Maka, berbanggalah dengan nama KRISTEN. Kami adalah pengikut-pengikut Kristus, yang tidak akan membalas karena meyakini kebenaran bahwa pembalasan adalah hak Tuhan. Yang walaupun dihambat namun kami akan tetap merambat. Yang tidak mau membakar rumah ibadah agama lain karena kami tahu bahwa api neraka lebih panas dari api untuk membakar rumah ibadah orang lain. Yang tidak mengatasnamakan nama Tuhan kami untuk melakukan tindakan anarkis. Yang dengan diam-diam berdoa bahkan menitikkan air mata kami untuk saudara-saudara kami yang teraniaya. Dan yang meneladani Tuhan kami sampai akhir hidup kami. Kamilah KRISTEN.

Tidak ada komentar: