Sabtu, 06 Desember 2008

PAPA . .


(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama saya pada 29 September 2008).Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.

Ayahku seorang Petani. Papa Oktovianus Tanesib. Petani, di daerah lain mugkin bisa diandalkan. Tapi di Timor? Petani jauh dari bayangan. Papaku lahir dari sebuah keluarga Besar. Papaku anak pertama, disusul papa Yunus Tanesib, Tante Ully, Tante Koba, Tante Yanse, Bapak Yulius, Tanta Sin dan yang terakhir hampir seumuran aku namanya Nitanel. Sebagai anak pertama dalam keluarga, papaku harus berpikir tentang adik-adiknya. Tapi puji Tuhan, semua adiknya sampai sekarang “Takut Tuhan.”
Walaupun kondisi ekonomi keluarga kami sangat minim, satu hal yang menarik dari papaku, sejak muda, dia sudah melayani Tuhan. Awalnya dia hanya menjadi syamas, kemudian menjadi penatua,dan kemudian menjadi Penanggungjawab gereja. Tugas ini cukup berat. Maklum pendetanya hanya satu orang, sedangkan gerejanya ada sembilan dengan jumlah jemaat masing-masing gereja, ratusan bahkan ribuan. Papaku 18 tahun melayani Tuhan sebagai pelayan syamas, penatua bahkan Penanggungjawab.
Mungkin gara-gara itu, kami mulai di ajar sejak kecil untuk tertib secara rohani. Aku ingat, kamidibiasakan untuk bangun jam 5 pagi, duduk bersama-sama kemudian berdoa sebelum kami melakukan pekerjaan. Desa kami, Ajaobaki adalah satu desa di Kapan, kecamatan Mllo Utara yang sangat dingin. Bangun di jam itu sama dengan menyiksa diri. Tapi disiplin ini mengarahkan kami dan akhirnya kami juga belajar takut akan Tuhan. Walaupun sampe sekarang masih juga terus belajar. Tapi bagi aku, apaku adalah fondasi iman dan panggilanku sebagai pelayan Tuhan.
Aku ingat, papaku sungguh-sungguh berjuang untuk kami. Semasa kecil aku ingat, papaku berdagang buah-bahan dan hasil bumi. Hasil bumi yang dijualnya adalah ketumbar, bawang putih, dan buah unggulan Kapan, Apel. Dulu seingatku, buah Apel adalah produk di kapan. Sayang, sekrang sudah musnah… tanpa bekas bahkan. Dengan hasil berdagang, kami dibelikan pakaian ala kadarnya untuk bersekolah di SD. Menghidupi kami dengan sarapan bubur setiap pagi sebelum ke sekolah, dan biaya lain. Yang sangat membuat aku terharu, saat aku SMA, papakuyang tidak pernah mengena mengenakan celana panjang, berusaha membelikan sebuah celana panjang untuk aku. Aku malu-malu mengenakannya (maklum belum pernah bercelana panjang). Tapi astagaaaa… celana itu kebesaran dan kedodoran karena dibeli tanpa ukuran. Tapi syukurlah. Aku semakin sadar. Walaupun papaku seorang petani, ia menginginkan kami untuk menjadi lebih baik darinya. Aku ingat dulu papaku pernah berkata, kendatipun aku tidak pernah belajar Alkitab, anakku harus mengerti tentang Alkitab dengan belajar. Terimakasih Papa.
Sekarang aku belum bisa berbuat sesuatu untuk papaku. Tapi aku akan terus membuat dia tersenyum dan bangga punya anak seperti aku.

Tidak ada komentar: