Minggu, 27 Juni 2010

HANYA ADA DI KUPANG


Saya memang tidak lahir di kota Kupang. Tidak dibesarkan di Kupang. Dan tidak tahu apapun tentang Kupang sebelum saya lulus Sarjana dan kembali ke Kupang. Karena itu hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan di Kupang tidak pernah saya ketahui. Saya baru mengalaminya saat saya menamatkan studi saya 2005 yang lalu di Jogja, dan kembali ke pulau tempat saya dilahirkan, Timor. Bagi orang Timor yang lahir di pedalaman Timor seperti saya, kekasaran adalah sesuatu yang tidak lumrah. Betapa kagetnya saya ketika sampai di pelabuhan Tenau, disambut dengan bentakan orang-orang yang berampasan ingin menjemput keluarganya.

Hari-hari pertama di Kupang memang berat. Maklum budayanya beda sekali dengan kebiasaan orang Timor, sekaligus beda dengan kebiasaan orang Jogja tempat saya menuntut ilmu. Maklum saja, saya dari kampong bernama Kapan yang orang-orangnya kebanyakan santun, dan study di satu tempat bernama kalasan yang santun juga orangnya.

Suatu pagi saat kami tiba di Kupang, saya mau ke kamar mandi. Kebetulan tuan rumah tempat saya menginap, tinggal bersamaan dengan induk semang mereka karena ngekos ceritanya. Saat lewat di depan Ibu Kost saya selalu mengucapkan "permisi." Pertama kali permisi masih di jawab, balik lagi permisi lagi, masih di jawab kali ketiga dan keempat dengan muka yang tidak bersahabat dan berikutnya dapat bentakan. Lewat permisi...lewat permisi..... Capek yang jawab (dalam logat kupang yang kental). Ini hanya ada di Kupang. Kalau sering-sering mengucapkan permisi setiap kali lewat depan orang, Bahaya.

Hal unik lain adalah menumpang angkutan kota di Kupang. Pemuda-pemudi di Kupang akan lebih suka naik angkot bermusik suangat keras. Ada bahkan, ibu-ibu yang tidak merasa terganggu saat naik angkot dan musiknya sangat keras. Padahal telinga kita rasanya sudah Saat naik angkotnya pun lain. Sesudah naik angkot orang yang duduk dekat pintu tidak akan bergeser, walaupun ada kesan dia menutup-nutupi jalan. Cara lain yang unik adalah saat penumpang di sebelah tempat duduk kita pindah dan kita harus bergeser ke tempatnya, kebiasaan di Kupang, tempat duduknya ditepuk dulu dengan keras sebelum diduduki. Terkesan yang barusan duduk di tempat itu kotor, najis, dan bekas pantatnya duduk ada kumannya. hehhee. aya-aya wae.

Itu baru satu. Ada yang aneh juga di Kupang saat hari Jumat daqn hari Minggu. Free Helm untuk hari minggu dan hari Jumat. Kendatipun ada Polisi, jarang ada orang yang dicegat dan ditegur hanya karena tidak mengenakan helm. Kenapa? Karena orang yang mau ibadah di hari minggu akan sulit untuk mengenakan helm karena rambutnya sudah tertata rapi. Sama juga dengan yang mau ke Masjid saat hari Jumat. Saya heran dengan aturan ini. Siapa yang salah?

Masih banyak lain yang hanya ada di Kupang? Mau buktikan? Silakan datang di Kupang dan selamat menikmati.

Selasa, 15 Juni 2010

AKU BERGELAR DOKTOR


Rasanya cukup lama raib dari dunia blog-blog-an. Syukurlah ada yang mengingatkan untuk kembali ke alamku. Hehehehe. Meminjam istilahnya teman,sekarang saya "go-blog."

Bicara tentang 'go-blog,' rasanya tidak enak, kalau ada yang menyebut kita goblok. Sebodoh-bodohnya orang, dia akan marah besar dengan sebutan itu. Orang akan bangga kalau sudah selesai studi dan mendapat gelar. Masih hangat dalam ingatan, dulu ada beberapa orang yang lulus D2 PGSD, dari UT pula, bangga sekali dengan foto wisudanya. Sesudah di wisuda dengan gelar A.Ma Pd yang jarang digunakan itu, mereka bangga sekali. Apalagi yang diwisuda dengan gelar Sarjana. Di Kupang, syukuran wisuda SARJANA bisa semalam suntuk pestanya. Maklum, selain makan-makannya, ada mabuk-mabukannya, ada dansa-nya, dan tidak jarang ada berkelahi dan perang sukunya. Ironis. Sesudah itu, nganggur. Alaaaaaaaahhhh.... Apalagi kalau bergelar S2. Master apa kek. Rasanya pulau Timor ini terlalu sempit untuk gelarnya. Puanjang buanget. Tapi perkenankan saya untuk memperkenalkan diri dan gelar baru saya. DOKTOR. Ckckckckc. (Bantu dong, berdecak kagum karena gelar saya)

Gelar baru ini saya didapat dari membaca buku. Tidak ada kaitan dengan ilmu pengetahuan bukunya. Kaitannya dengan biografi tokoh NTT, Ir. Ansgerius Takalapeta, bapaknya orang-orang dari Kabupaten Alor. Katanya dulu waktu mulai merintis kariernya, beliau sering tidur di Kantor. Karena sering tidur dikantor itulah dia disebut Tuan Doktor (MonDOK di KanTOR).Nampaknya sayapun harus menerima gelar baru itu. DOKTOR. Maklum, karena kondisi dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain, maka moDOKlah saya di kanTOR (DOKTOR). Ijazahnya menyusul. Heheheee

Selasa, 30 Maret 2010

KULIAH AKTA IV


Saat tanganku ringan untuk menulis kembali blog-ku ini, semester kedua di Akta IV Undana sedang saya tekuni. Memang menjadi waktu yang cukup melelahkan. Karena banyak orang menggosipkan bahwa kuliah AKTA IV itu pekerjaan yang menyenangkan. Hanya dapat ditempuh dalam beberapa bulan dan langsung dapat AKTA. Lumayan menggiurkan untuk mendapat AKTA IV dengan cara demikian. Karena peluang kerja, katanya akan lebih mudah. Tetapi beberapa berita di surat kabar, pernah menyoal masalah AKTA kilat itu, yang terbukti bermasalah. Belum lama, ada juga informasi bahwa 53 orang di salah satu kabupaten di NTT terlilit masalah dengan ijazah aktanya. Cerita-cerita inilah yang membuat banyak orang wasd-was mengambil AKTA mengajar. Keputusan untuk memulai di Undana, satu-satunya Universitas Negeri di NTT adalah lumayan bijak menurut saya waktu itu. Kendatipun memakan waktu. Sengaja saya tulis bagian ini untuk menjawab beberapa pertanyaan kawan-kawan tentang AKTA IV. Gimana sih kuliahnya? Mata kuliah apa saja yang diajarkan?

Begini, AKTA IV sesungguhnya sekarang kata orang hanya sebagai pelarian untuk mendapat ijazah. Seharusnya sih tidak demikian. Bagi orang yang mau mempertajam ilmu kependidikannya, terutama yang dari non kependidikan, treatmen AKTA IV dengan tiga semester seperti di UNDANA Kupang lumayan membantu. Mungkinkah teman-teman yang lain di AKTA IV Undana juga merasakannya?

Kuliahnya ternyata cukup melelahkan. Maklum, waktunya adalah jam 14.00-17.00 kalau 4 SKS mata kuliahnya. Bagi matrakuliah yang 3 SKS biasanya hanya sampai jam 4 saja. Itupun tergantung dosennya. Tapi biasanya kebanyakan presentasi. Dosen masuk, bahannya dibagikan, cari sumber, dan presentasi per kelompok.

Adapun matakuliah-matakuliah yang diajarkan di AKTA IV (paling tidak di Undana-Entah di tempat lain) adalah:
SEMESTER I
1. Pengantar Pendidikan (3 SKS)
2. Perkembangan Peserta Didik (3 SKS)
3. Belajar dan Pembelajaran (4 SKS)
4. Kemampuan Dasar Mengajar (4 SKS)
5. Perencanaan Pengajaran (3 SKS)
6. Penelitian Pendidikan (3 SKS)
SEMESTER II
1. Pengembangan Bahan Ajar (4 SKS)
2. Strategi Belajar Mengajar (4 SKS)
3. Evaluasi Pengajaran (4 SKS)
4. Kajian Kurikulum Bidang Studi (4 SKS)
SEMESTER III
1. Praktek Lapangan (4 SKS)

So,Kuliahnya tiga semester, kawan-kawan yang tanya.... Semoga ada sedikit gambaran, apa sih yang dibuat di Akta IV. Doakan saya yah....

Kamis, 26 November 2009

MENJADI GURU


Di kalangan mahasiswa akta IV Undana 2009, istilah "menjadi guru pada akhirnya," bukanlah ungkapan yang asing. Ungkapan ini saya dengar pertama dari seorang guru besar. Ada dua jenis guru katanya. Mereka yang "guru asli" yaitu mereka yang sejak awal sudah memutuskan untuk kuliah FKIP. Kelompok ini katanya sudah memiliki panggilan untuk menjadi guru.Mereka adalah orng-orang terpilih yang mengetahui seluk beluk menjadi guru karena dididik secara khusus. Kelompok yang kedua adalah "guru pada akhirnya." Guru-guru jenis ini adalah mereka yang tidak dari latar belakang FKIP. Mereka adalah orang-orang yang pada awal kuliah memutuskan untuk mengambil jurusan ilmu pendidikan. FKIP bukan fakultas yang mereka pilih. Setelah menyelesaikan study mereka di fakultas non kependidikan, mereka bekerja. Tapi nasib baik nampaknya tidak kunjung juga menyambangi mereka. Setelah melanglangbuana ke sana kemari mencari pekerjaan, tidak satu pekerjaanpun yang memiliki penghasilan yang bagus. Setelah melihat bahwa sertifikasi guru dan dosen diadakan, maka bergegaslah orang-orang ini masuk ke FKIP dan menganggap akta mengajar sebagai tumpuan hidup untuk mendapat jaminan gaji. Guru-guru yang terpaksa. Ini gambaran dari pendapat singkat beberapaorang terhadap mereka yang mengambil kuliah AKTA IV.

Sungguh sebuah dikotomi yang menyakitkan. Menyakitkan bagi mahasiswa AKTA IV -paling tidak saya. Lebih menyakitkan lagi karena pembedaan ini menyebabkan sebutan 'guru yang terpanggil," dan "guru yang terpaksa." Hemat saya, ungkapan ini agak berlebihan. Pasalnya, tidak semua orang yang non-FKIP yang memutuskan menjadi guru punya motivasi untuk memperoleh gaji tinggi karena sertifikasi guru. Arogansi terhadap mahasiswa AKTA sebaiknya tidak dilakukan.

Pengalaman pribadi saya, sejak kecil -saat sekolah di sebuah SD di desa Ajaobaki kecamatan Mollo Utara di pedalaman Timor Tengah Selatan-NTT- saya punya cita-cita untuk menjadi guru. Ini spontan keluar dari bibir saat ditanya mau jadi apa nantinya. Angan-angan ini masih terus ada saat SMP bahkan sampai SMA. Tahun 2006, saya duduk di SMA Negeri 1 SoE di TTS. Waktu itu hanya ada satu tujuan, menjadi guru bahasa Indonesia. Kebetulan subjek ini menarik bagi saya. Kendati demikian, kesanggupan pembiayaan untuk kuliah tidak saya miliki. Maklum, orangtua saya hanyalah petani miskin di desa di pedalaman pulau Timor. Setamat SMA, teman-teman saya mendaftar di FKIP. Belakangan saya mendengar dan bertemu dengan mereka secara langsung maupun di dunia maya dengan kecanggihan facebook, dan mendengar kabar mereka tentang kesuksesan mereka menjadi guru bahasa dan dosen bahasa. Ada yang bahkan menjadi guru bahasa Ibrani. Gelar-gelar pun dicantelkan di belakang nama mereka. Ada yang S.Pd, ada yang M.Pd, ada yang menjelang Ph.D di luar negeri. Mereka saya golongkan sebagai "guru yang sukses."

Setamat SMA, tawaran untuk bersekolah di Jawa dengan jurusan non kependidikan mematahkan niat saya untuk kuliah di Undana FKIP Bahasa Indonesia. Maklum, sekolah yang saya tuju di Jawa menjanjikan keringanan biaya, bahkan pembebasan biaya. Walaupun demikian, selama study di Lembang dan di Jogja, kegiatan saya tidak jauh-jauh dari mengajar. Bahkan mulai dari jenjang yang paling rendah. Saya bahkan pernah mengajar Taman Kanak-kanak. Sebuah jenjang yang kontras dengan tabiat saya. Seorang "guru terpanggil" mungkin akan terpanggil hanya untuk jenjangnya saja. Setelah tamat study, saya bahkan diminta untuk mengajar di sebuah Sekolah Tinggi. Dari Taman Kanak-kanak ke Skolah Tinggi. Memang tertunda menjadi guru. Jadi jika teman-teman saya menjadi "guru yang sukses," maka saya menyebut diri saya sebagai "guru yang tertunda." Bedanya saya dengan mereka adalah mereka mengetahui seluk beluk pendidikan, seluk beluk menjadi guru dan seluk beluk perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran bahkan evaluasi pembelajaran. Saya, mempraktekannya namun belum mengetahinya secara pasti. Beruntunglah, saya melanjutkan S2 saya di bidang pendidikan Kristen dan memiliki gambaran. Sayangnya S2nya belum wisuda-wisuda karena kendala biaya. (hehehehe).Dan sekarang saya mewujudkan impian itu untuk memahami sedikit tentang pendidikan dengan mengasah diri saya di FKIP Undana.

Jadi kalau orang non-FKIP dicap sebagai "guru yang tidak terpanggil" tapi "guru yang terpaksa," saya protes. Protes karena pengalaman juga mengajari kita untuk menjadi guru. Maka, saya menyimpulkan bahwa kurang bijak kalau meng-"gebyah uyah" semua mahasiswa AKTA IV sebagai mereka yang sudah pontang-panting mencari pekerjaan dan tidak menemukan kemudian mengincar lapangan alumni FKIP. Mungkin ada juga benarnya, tetapi sebaiknya lebih bijak mengatakannya.

Ada seorang dosen tua yang tidak menawan dan tidak cakap mengajar menurut beberapa teman saya. Orangnya tidak rupawan dan ungkapannya tidak terlalu jelas untuk ditangkap. Beliau asli FKIP. Tapi pernah selalu membela orang-orang non FKIP. Tidaksemua guru yang alumni FKIP juga awalnya terpanggil. Keterpanggilan itu pasca prose di LPTK. Ah.... pagi yang penuh dikotomi. Lebih baik saya menikmati lagu "anak Pantai"-nya Imanez sambil minum dulu, mumpung liburan Idhul Adha 1430K. Selamat menjadi guru.

Sabtu, 21 November 2009

MOBILITAS TINGGI


Setelah break sekian lama karena kesibukan, saya kembali "menjenguk" bloger saya yang sudah lama tidak disambangi. Memang setiap kata-kata adalah doa. Awal tahun ini saya berucap untuk memperjuangkan hidup. Dalam niat hati dan doa serta perjuangan yang cukup melelahkan saya memulainya. Sejak awal Agustus, satu-satunya universitas Negeri di NTT menerima saya untuk mengikuti program akta Mengajar IV. Inipun melalui perjuangan panjang karena UNDANA hanya akan menerima jurusan yang relevan dengan Fakultas dan jurusan yang dimilikinya. Seolah di-over ke sna ke mari, samapailah saya ke PR 1. Keputusan PRI saya diterima. Semua berkas disiapkan dan jadilah saya mahasiswa. Rasanya lucu juga jadi mahasiswa digabung dengan mahasiswa reguler untuk PKBMB dan Matrikulasi. Keanehan ini karena S2 saya sudah tinggal empat mata kuliah untuk menulis thesis. Pendeknya, semua proses masuk UNDANA saya lalui dan mulai kuliah diUndana lama sebagai mahasiswa Akta IV.

Mobilitas yang tinggi membuat saya kewalahan membagi waktu. Aktivitas harian saya jadinya adalah :
04.55 : Bangun pagi (selalu harus jam itu)
05.00-07.00 : Siaran program rohani pagi di Suara Kupang
07.00-07.30 : Pulang ke kost,mandi dan siap-siap ngajar pagi
07.30-12.30 : Ngajar (Senin d Camplong, selasa n Jumat NBS, rabu Oesapa, Kamis
Fatufeto, Sabtu SKFM-nyiar.
12.30-12.30 : Pulang kost, baring 15 menit. (Kadang tidak sempat pulang)
12.30-14.00 : Berangkat kuliah (maklum dengan angkot)
14.00-17.00 : Kuliah Akta IV
17.00-19.00 : Pulang kost, kerja tugas, mandi, baring dikit
19.00-00.00 : Ke studio dan siaran malam.
00.30 : ZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzz
Jadi waktu tidur saya semakin sedikit. Beruntunglah adik saya si "ragil" datang ke kupang diutus untuk kursus mempersiapkan kuliah di FKIP bahasa inggris, jadi bisa bantu Mempersiapkan makanan dan mengurus kost. Bantuan darinya membuat agak ringan kerjaan. Syukurlah. Inilah perjuangan kehidupan....Semoga perjuangan ini tetap diberi kekuatan oleh Tuhan.

Jumat, 24 Juli 2009

SUSAHNYA MENCARI


Petualangan selalu dekat dengan pencarian. Paling tidak hal ini yang tergambar dalam hidup yang saya alami. Petualangan hidup ini selalu berisi pencarian. Dulu saat remaja, pencarian jati diri. Kemudian pencarian sekolah yang tepat dan mendukung, kemudian pencarian kerja dan sekarang sebuah pencarian jodoh (hehehe) dan satu yang baru saja digumuli adalah pencarian akta mengajar. Ini adalah sebuah ide yang muncul setelah beberapa tahun terakhir muncul perasaan bahwa nampaknya dunia pengajaran adalah dunia yang cocok dengan saya. Ini tidak saja sebuah perasaan pribadi tetapi juga komenytar teman-teman dan senior tentang sepak terjang saya di dunia pengajaran. Penasaran dengan itu, saya memiliki kerinduan untuk akhirnya mendalami pendidikan. Untuk masalah mengajar, mugkin semua orang pernah melakukannya. Tidak tergantung sesederhana apa proses pengajarannya. Tetapi untuk menjadi profesiaonal, perlu persiapan. Untuk mengajar, saya sendiri sedikitnya pernah mengajar di beberapa kalangan. Aanak TK? Pernah waktu di Gunung Kidul Lesanak SD dan SMP pernah di Gunung Kidul dan Klaten. Orang dewasa, juga pernah di gereja. Mahasiswa? Pernah dan sedang. Bahkan pernah punya pengalaman mengajari rang gila. Di Cikidang Lembang, saat melayani di Panti Rehabilitasi. Semua pengalaman ini mungkin saja cukup memberikan dasar untuk mengajar. Tetapi nampaknya ini hanyalah pengalaman yang belum disertai ilmu khusus mengajar. Karena itu S2 pendidikan Agama Kristen coba saya tekuni, kendati agak tersendat hingga kini.

Menyusun sillabus, memersiapkan bahan ajar, melakukan pengajaran di kelas tatap muka, memberi tugas dan evaluasi pengajaran, menghitung nilai dan memasukkan nilai ke urusan administrasi mahasiswa sudah saya lakukan. Tapi nampaknya belum pas saja karena belum dapat ilmu khusus. Maka itu, muncul keinginan untukmengambil akta mengajar.

Mulailah saya merasakan bagaiman susahnya "dilempar" ke sana ke mari. Teman saya pernah bercerita kalau salah satu Universitas Negeri ternama d Kupang membuka akta Empat. Daripada ke Jawa lagi, lebih baik kerja sambil ambil akta. Datanglah saya ke kampus itu. Setelah dengan prose tarik ulur dan seringkali dijiwai oleh tindakan agak semena-mena, saya akhirnya diperkenankan mendaftar di untuk memulai akta Mengajar.Mencari akta itu ternyata susah. Apalagi aktanya sekarang adalah tahun terakhir. Mudah-mudahan saya diterima dan mendapat ilmu.

Lebih penting lagi adalah, mencari jodoh pengganti yang tepat dan seimbang dengan kita itu susah. Heheheee

Selasa, 05 Mei 2009

MEMBACA DINAMIKA HIDUP VIA SMS

Sepanjang bulan Maret dn April, saya sangat bersyukur karena ada banyak hal yang Allah kerjakan dalam hidup saya. Paling tidak, ini terbaca dari SMS yang dikirimkan kepada saya. Berikut beberapa SMS,

Syalm k2, gmana dgn t4 mgang d kupang? Msh bermnt? Keadaanx tggl dknfmskan kepdt untuk disetujui. Klw berminat b tnggu jwbnnya, t4 d Oelon grj GMIT usi apakaet
085739832xxx

Slmt mlm kak Soni, bt mau ttip ucpn slmt Ultahbesok untk Pak Medison Tanesib, jgn lupa o, bsk pg dibca dan didoakan. Sekian dan trimakasih,TYM
081237978XXX

Happy b'day...pjg umur, enteng jodoh, cepat nikah.. adi meak jangan nangis ya..
085239337xxx

Kebahagiaan datang dari hati, mnglir dalam jiwa n memancar dalam senyuman. Temukan kebahagiaan pd setiap hal yg kamu jupai dalam hidupmu, ciptakan senyumansebagai tanda syukur tuk semua sebagai rasa bahagiamubuatlah dunia tersenyum dengan senyuman hari ini. Mat ultah Mas semoga panang umur, diberkati Tuhandalamsetiap rencanayang sementara dan akan datang
081339286xxx

Comment : Wah ini SMS terpanjang neh... BTW thanks yah Mas Yanto!!!

Bgn..bgn..bgn..adaseorang bayi lahir... Hehehe. Happy b'day y h2. Smg pnjg umur, dbrkti Tuhan ms dpn, plynn, cita2 n cinta. Hdiah dr B Mas, Kemenyan dan Mur. Hehehe
085339008xxx

Hari KeMarin is KeNangan,Hari ini isPeristiwa, and Hari Esok isTandaTanya, met Ultah Panjang Umur, disayang kel, shbt, orng yang disayangi tutama TUHAN and sukses dalam segala hal.
08525304XXX

Comment : Lho, bahasa Inggrisnya kok dikir - dikit doang. Artinya lilel2 sih i can...

Tuhan mengecupmu dengan sinar mentari pagi. Dia mengulurkan tangannya menggapaimu dan mengajakmu berjalan bersamanya hari ini. Gapailah tangannya melalui doamu. Mat Ultah, panjang Umur diberkati Tuhan, sukses dalam tugas dan pelayanandan cepat dapat Jodoh ya..
08523938xxx

Comment : Jodoh lagi didoain... Syukurrrrrrrr

Slmt ultah, pjg umur Tuhan Yeus berkati dalam segala hal
0812379xxx

Pg met ltah smga bertmbh hkmt N d berkati pelayanan, pekerjaan n enteng jdhnya. Gbu
0856610419xxx

Mat Siang, Tadi jam 9 yadi pu Mama melahirkan. Nona.
08133909xxx

Comment : Dapat anggota keluarga baru oiii,,,,

Mat siang,pak dimana? Tadi b pi di pak pung kos tapi sonde ada jadi pulang dengan kosong.
08525345xxx

Comment : Ini mah orang mau konsiltasi skripsi..

Kami turut berdukacita atas dipanggilpulangnya opa ke pangkuan Bapa di Sorga untuk istirahat
081347270xxx
Pdt. Paulus L

Comment : Ada yang lahir, ada yang meninggal, ada yang ulangtahun. Dinamika Hidup

Shalom bro,Om Jhony Fanggidae pung istri ada masuk RMH SKT.
085239337xxx

Yah.... Dinamika Hidup. Trimakasih Tuhan karena engkau mampukan aku menjalani semua ini....

Jumat, 20 Maret 2009

TANGGA KE 29


Aku terkesima dengankata-kata lagu, "hidup bukan karena hari, hidup hanya karena arti." Mataku berkaca-kaca saat nyanyian ini menjadi nyanyian lagu pertama dalam acara worshipline (SEBUAH ACARA DO'A di Radio SKFM )malam ini.Dalam hatiku muncul berbagai macam perasaan. Salah satunya adalah tentang beratnya jalan-jalan hidup yang aku lalui. Jalannya memang tidak mudah. Berkelok-kelok. Kadang ada tanjakan yang tinggi yang aku tidak dapat ketahui, kapan puncak dapat aku capai. Kadang begitu menukik curam dan penuh dengan bahaya. Tetapi satu hal yang pastu, di tengah-tengah berbagai gelombang dan prahara hidup itu, aku sudah tudak sendiri lagi. Sejak usiaku 17 Tahun aku menyadari sepenuhnya bahwa aku tidaklah sendiri lagi. Ada "Tangan yang kuat" yang menuntun aku.

Sambil aku menuliskan bagian ini, lagu-lagu mazmur 23 terus mengalun dari speaker di depan meja siarku. Tuhan adalah gembalaku, Takkan kekurangan aku, Ia membaringkan aku, di padang yang berumput hijau. Ia membimbingku ke air yang tenang, ia menyegarkan jiwaku, Ia menuntunku ke jalan yang benar oleh karna nama-Nya sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman.

Tuhan, terimakasih untuk tangga ke 29 yang aku injak sekarang. Di bawah tangga-tangga ini terlihat tangga-tangga yang pernah aku tapaki. Ada banyak hal, tapi kalau engkau masih memberi aku kesempatan untuk hidup, biarkan aku menapaki tangga-tangga itu dengan tangan-Mu. Aku ingin tangan-Mu menggandeng aku terus, sampai maut menjemputku. Aku masih ingin melayani engkau Tuhan. Bimbing aku supaya terang-Mu semakin nyata dalam tapak-tapak kecilku ini.

Jumat, 27 Februari 2009

KIAT MENGHADAPI MASALAH ALA NAAMAN


Masalah dalam hidup manusia adalah bumbu-bumbu kehidupan. Istilah ini pernah saya dengar dan terrekam persis dalam benak. Tetapi seiring persoalan yang bertubi-tubi, rekaman yang tersimpanpun mulai memudar bahkan hilang. Saat masalah kehidupan menghimpit, fokus seringkali tidak jelas. Ini saya alami sendiri sejak awal 2009 ini, sampai suatu hari seorang rekan pelayan meminta saya untuk membawakan firman Tuhan di gerejanya di Kupang. Dalam benak saya, saya ingin sekali membawakan tentang Naaman. Ini karena akhir-akhir ini saya sedang menggeluti sebuah bacaan kecil. Buku ini juga saya temukan secara tidak sengaja di timbunan sampah-sampah bekas angkutan barang-barang yang dibenahi saat banjir lumpur menimpa rumah keluarga Banfatin (om saya) di Toineke. Secara tidak sengaja saya menemukan sebuah buku usang yang sudah kumal dan kekuning-kuningan dengan ejaan lama. Saya membaca-membaca- dan membacanya dan sangat diberkati dengan kehidupan isi buku kumal ber-ejaan lama ini.

Ketertarikan saya untuk mengkhotbahkan tokoh Naaman karena ia menghadapi masalah yang besar. Naaman seorang panglima yang tentu punya banyak bawahan; Ia juga seorang yeng terpandang dihadapan Tuannya dan dikasihi, bahkan ia disebut-sebut sebagai pahlawan. Sayangnya dia sakit kusta. Penyakit Kusta menurut Imamat 13:45 menyebabkan orang yang menderita itu harus diasingkan,bahkan mengenakan pakaian yang sobek-sobek dan tinggal di pembuangan. Sayang sekali, Naaman terancam di "ekstradisi" dari lingkungan kerajaan tempat ia sangat dihormati. Ini masalah yang dihadapi Naaman.

Tetapi bacaan ini membawa saya kepada tokoh kedua yang tidak terlalu istimewa. Dia seorang gadis (yang kesaksiannya mungkin tidak akan dipercaya), seorang anak (ingusan), dan seorang budak Naaman pula. Hebatnya, gadis kecil ini punya iman bahwa nabi di Samaria itu "tentulah" atau dalam terjemahan lama "niscaya" mampu menyembuhkan. Inilah iman. Iman yang tidak dimiliki orang gede-an tapi oleh seorang anak kecil yang sederhana muncul iman itu. Iman yang kita miliki dapat menolong kita untuk memberi solusi bagi orang yang bermasalah.

Faktor kedua menurut catatan dari perenungan saya adalah kesiapan batin. Ketika berangkat mengikuti saran untuk memperoleh kesembuhan, Naman mempersiapkan 10 talenta perak, 6000 syikal emas dan sepuluh potong pakaian (harta)ia juga membawa surat (administrasi baik) dan diplomasidengan raja. Tapi Dia tidak siap bathin katika sesampainya di Israel, raja bahkan memintanya menghadap Elisa dan Elisa pun tidak mau menemui dia selain menyuruh bujangnya menemui Naaman. Perbuatan ini membuat Naaman gusar (ay.11) dan panas hati (ay.12). Saya menyimpukan bahwa kesiapan bathin tidak ada dari Namaan dalam memahami solusi Alah. Dalam sebuah masalah, kita harus menyiapkan bathin yang kuat. Saya refleksikan dengan diri saya sendiri.Bebebrapa aktu lalu secara fisik, dan administrasi saya berpikir bahwa mustahil saya akan diganti dari jabatab saya, tapi saya tidak secara psikis dan bathin siap untuk diganti sampai saat pergantuan itu datang. Saya benar-benar diganti. Saya bersyukur, malam itu saya mendapat sebuah kekuatan bathin.

Dan hal ketiga adalah harus menjalani proses. Naaman bisa saja mandi di Parpar dn Abana yang lebih bersih, tapi prosesnya adalah, Ia harus datang dan sampai di Israel dan mandi di sungai Yordan. Supaya Ua tahu bahwaUsrael ber-Allah. Proses harus dijalanunya. Dan saat Naaman menjalani proses itu maka, pulihlah tubuhnya kembali seperti seorang naka dan iamenjadi tahir (ay.14).

Dengan demikian selesailah masalah Naaman, dan selesailah saya menulis point ini karena waktu sudah menunjukkan jam 00.41 sekarang. Saya harus segera tidur karena pagi hari jam 04.55sudah harus bangun dan bercuap-cuap kembali di Sambut Pagi Radio Suara Kupang.

Apapun yang terjadi, saya mendapat sebuah makna penting untuk hidup. Kalau menghadapi sebuah masalah, ingat tiga hal : (1)Iman adalah modal; (2)Kesiapan Bathin;(3)Menjalani Proses. [MT]

Kamis, 05 Februari 2009

TOLONG...SAYA KECOPETAN ... (di Kupang)


Baru saja pelajaran tentang cara menafsir Alkitab selesai, saya bergegas pulang. Dengan berjalan kaki + 1 Km ke jalan raya untuk akhirnya menumpang angkot, saya masih sempat membalas SMS dari seorang siswi binaan STII. Dia bertanya, "kalau seandainya Yudas tidak menjual Yesus, apakah yang akan terjadi dengan kamu?" Telfon genggam saya saya isi di kantong tas dan dengan sekali panggil, angkot yang akan saya tumpangi segera berdiri. Mata saya masih sempat mengawasi dua atau tiga orang di atas angkutan kota yang saya tumpangi. Beberapa orang mahasiswa duduk di kursi yang berhadapan dengan saya. Sementara di samping saya, duduk seorang kakek. Saya menduga dia pengungsi. Jalur yang saya lewati adalah jalur pengungsi Tim-Tim. Dalam perjalanan, beberapa mahasiswa turun dari angkot tapi saya rasa, tidak pernah berkurang penumpang di dalam. Beberapa kali saya merasa, kakek yang duduk di samping saya seolah "mendorong" saya. Naluri "jawa" saya muncul. Jangan-jangan kakek itu akan mencopet. Tapi segera saya tepis anggapan itu. "Masa,sih.. di kupang ada copet. Kayak bis jogja - Solo atau Kartosuro - Semarang aja.." Setelah turun angkot, saya memanggil ojeg, yang kebetulan ada di mana saja di Kupang, untuk tiba di kost saya. Dengan kelelahan dan rasa kantuk yang dalam saya membuka pintu, masuk dan siap untuk istirahat siang. Sekedar untuk memastikan apakah ada pesan yang masuk, saya mencari telpon seluler saya, tapi astaga.... Sesudah bongkar sana sini, tidak saya temukan lagi....

Handphone itu raib di Bemo tadi. Saya baru sadar, copet ternyata tidak hanya ada di Semarang, terutama di Pedurungan dalam bis menuju Kartosuro. Waktu itu alih-alih menjual koran, dia merogoh kantong saya, beruntung tidak ada uang atau barang berharga lainnya di sana. Salah sasaran. Seharusnya ia tidak mencopet pada anak kost seperti saya. Ehehehe... Ketipu dia. Tapi sekarang hal itu terjadi di Kupang, kota propinsi kecil yang sepi pengamen. Ternyata mental jelek tidak harus di kota Besar. Sekarang, sayalah korbannya, tanpa HP. Susah menghubungi siapapun. Saya dapat merasakan sekarang bagaiamana orang yang dikarantina tanpa HP dan bagaimana orang yang meminta dukungan doa dari saya karena kehilangan. Tuhan kuatkan saya... Amin.

Jumat, 09 Januari 2009

KUNING DAN 2009

Trend warna 2009 menurut beberapa orang yang berkecimpung di dunia urus-mengurus warna 2009 adalah kuning. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang gampang percaya dengan ramalan atau hal-hal yang berhubungan dengan ramalan itu. Tetapi warna nampaknanya memberi makna tersendiri bagi suatu peristiwa. Awal 2009 ini saat berkunjung ke rumah Om, saya ditegur karena semua pakaian saya berwarna hitam. Itu memang yang saya bawa, sekedar untuk menghindari kelihatan kotor dari pakaian. Maklum, maunya simple dan tidak membawa banyak pakaian saat liburan. Di awal tahun ini, beberapa teman mengajak untuk seragam kuning. Sebagai orang yang ingin menunjukan kekompakan dengan teman-teman, sayapun mengenakan baju kuning saya sebagai tanda solidaritas. Ternyata mereka main jepret-jepretan. Jadilah pasukan kuning.

Tapi Mimosa menggambarkan kuning peneduh yang “hangat dan erat” dan disebut mewakili harapan dan optimisme. Satu pesan besar seiring keuangan tahun tersebut tak stabil!

“Kuning menunjukkan kehangatan dan kualitas penaungan matahari, semuanya perangkat kita sebagai manusia yang secara alamiah menarik untuk menjamin keselamatan,” tutur Leatrice Eiseman, Direktur Eksekutif Pantone Color Institute, kepada Marketwatch.com “Mimosa juga banyak menyuarakan pencerahan, sebagaimana warna-warna terang yang memercikkan imajinasi dan inovasi.”
Mudah-mudahan keakraban yang hangat di antara teman-teman kerja akan terbina di tahun 2009 ini Aminnnn amin.

Senin, 05 Januari 2009

SELAMAT DATANG TAHUN "PERJUANGAN MASA DEPAN"


Beberapa jam sebelum lonceng gereja berdentang di seluruh pelosok pulau Timor sebagai tanda bahwa tahun lama telah berlalu, saya masih ada di perjalanan pulang ke kampung halaman saya. Sukacita besar saat bertemu dengan mama dan Papa setelah lama tidak jumpa. Ini tradisi akhir tahun saya. Pulang kampung, walaupun saat study saya tidak pernah melakukan tradisi ini.

132 Kilo untuk ditempuh bukanlah perjalanan yang menyenangkan bagi saya. Apalagi harus berganti-ganti kendaraan sebelum akhirnya sampai di rumah. Setelah sampai, pekerjaan pertama adalah sekedar bercerita tentangkeadaan "kelabu" 2008 dan sekedar info tentang perihal adik-adik dalam kuliah dan kerja mereka. Baju saja hendak sedikit beristirahat, penanggungjaab gereja memberitahu jika kebaktian malam akhir tahun (baca :kunci tahun) akan diadakan jam delapan malam dan saya diminta memimpin ibadah ini. Sebenarnya saya juga ingin menolak. Tapi saya teringat motto study dulu : "beritakanlah firman tuhan itu, baik atau tidak baik waktunya." Cuaca desa kelahiran yang sangat dingin menambah rumit persiapan khotbah tutup tahun. Tapi dua jam menjelang ibadah dimulai semua persiapan diselesaikan dengan baik. Puji Tuhan.

Malam hari itu saya berkhotbah dari kitab Pengkhotbah 3. Untuk segala sesuatu ada waktunya. Memulai khotbah saya, sebuah ilustrasi saya pakai sekedar mengingatkan jemaat bahwa setiap manusia diberi satu pensil dan sebuah lembaran untuk ditulis. Tetapi manusia tidak pernah diberi penghapus untuk menghapusnya. Apa yang dialami dalam rentang waktu satu tahun tidak bisa dihapus kembali. Tulisan itu sudah terjadi. Kerena itu yang harus dilakukan manusia adalah merasa bahwa inilah waktu yang tepat untuk merefleksi diri. Merasa bahwa hidupnya memang tidak harus selalu menangis. Ada waktu untuk bergembira. Saya juga mengingatkan bahwa sepanjang 2008 sudah ada berapa banyak orang yang tiada tetapi kalau kita masih hidup, itu karena anugerah. Tapi kita harus selalu mengingat bahwa sebagaimana ada waktu untuk hidup maka ada waktu untuk mati. Saya melihat bahwa waktu yang akan segera berlalu (2008) tidak bisa diulang kembali. Yang perlu bukan meratapi, tapi meresapi dan berupaya untuk berbuat yang terbaik di 2009.

Pergantian tahun kami rayakan dengan sangat sederhana. Berdoa bersama dan mengunjungi kakek yang sudah sangat uzur dan berdoa bersamanya sebagai wujud syukur kehidupan. Malam itu dalam kesederhanaan, saya bersyukur bahwa akhirnya berbagai kemelut di 2008 dapat saya lewati. Lebih dari itu fokus saya di 2009 mulai saya tetapkan. Harus ada beberapa persoalan mengnai masa depan yang harus saya lakukan. Langkahnya dimulai dari malam itu.Sambil diiringi ucapan selamat dari beberapa kawan yang bergetar terus saya bersyukur dan merasa bahwa 2009 adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. Dengan demikian 2009 saya sebut selamat datang tahun Perjuangan Masa Depan.

Minggu, 28 Desember 2008

DESEMBER KELABU


Desember 2008 ini adalah desember yang mengesankan bagi saya. Sebenarnya saya sendiri tidak begitu memahami jalan pikiran kenapa penulis lagu desember kelabu menuliskan lagu itu. Tetapi mungkin kata itu yang tepat menggambarkan suasana hati saya di bulan desember 2008 ini. Bagaimana tidak, awal Desember menyisakan persoalan di bulan November tentang persoalan uang praktikum beberapa orang adik yang kuliah di Jawa.Belum berlalu, masalah radio yang disegel masih menjadi persoalan yang memakan pemikiran saya juga. Penyelesaian mata kuliah Ibrani dua yang minim alat lebih menambah beban ini, ditambah lagi dengan berita bahwa saya juga tidak akan lagi menduduki posisi saya di kampus seperti dulu. Yang terakhir ini sebenarnya tidak terlalu berpengaruh bagi saya, tetapi desember ini diwarnai dengan peristiwa-peristiwa ini.

Tetapi Tuhan baik. Dia tidak pernah membiarkan anak-anaknya sampai tergeletak. Hari ini 28 Desember 2008, hari minggu terakhir 2008 satu persatu dari persoalan ini terjawab. Kami baru saja mensyukuri datangnya 200kilo pemancar baru kami dalam ibadah singkat di studio, dan malam ini akan mulai dikerjakan. Uang adik-adik untuk praktikum diselesaiakan. Dan satu lagi yang menyita pemikiran tentang adik yang bekerja di Surabaya yang tidak memberi khabar juga sudah terjawab lewat telpon dari salah satu keluarga di Bali bahwa Ia sekarang ada di Bali. Satu demi satu persoalan dapat terselesaikan berkat Tuhan. Syukurlah, Desember kelabu itu seharusnya mulai diganti dengan desember Ceria. Trimakasih Tuhan 2008 ini penuh dengan suka duka tapi Engkau membawa saya melewatinya.

Sabtu, 06 Desember 2008

“MANTAN DOULOS”


(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama. Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.

Awalnya aku ingin kuliah di STT Doulos. Keinginan ini juga oleh karena dorongan dari Omku. Sebut saja Marthen Banfatin, Om yang menyayangi aku. Satu-satunya saudara laki-laki mamaku. Tuhan tidak memberi mereka anak, tetapi Tuhan memberi kami seorang Om yang luar biasa yang dapat memahami kami. Puji Tuhan. Suatu hari beliau meminta, kalau kamu ingin kuliah ke Jawa, saya dukung, katanya. Akupun memutuskan untuk ikut perekrutan STT Doulos ke Jakarta. Pikirku, STT Doulos akan sama dengan STT yang lain yang mencetak para pendeta di GMIT, gereja asalku. Setelah keputusanku bulat, aku diantar dengan air mata di pelabuhan Tenau kupang dan berangkatlah aku ke Jakarta. Membayangkan Jakarta dan kampus yang megah, akupun berangkat.
Beberapa hari berlayar, tibalah di Jakarta. Jujur, aku belum pernah membayangkan kota besar. Jangankan Jakarta. Aku bahkan belum pernah menginjakan kaki di kota propinsi kami yang bernama Kupang. Setiba di Tanjung priok, kami dijemput dengan mobil khusu dan diantar ke Cipayung, Jkarta Timur. Langsung hilang bayanganku tentang kuliah di tempat yang nyaman setelah aku melihat dengan mataku sendiri kampus STII Jakarta. Sampai di sana kami dibagi dalam dua rombongan. Sebagian tinggal di Jkaarta dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Bandung. Keindahan pemandangan d Jalanan menuju Bandung sejenak membuat aku lupa akan tujuan utamaku kuliah. Sekitar Jam 11 malam, tibalah kami di satu desa yang sunyi dan gelap. Pada akhirnya aku tahu desa itu bernama Langensari dan kampung tempat kami dibawa bernama Cikidang di kecamatan Lembang, Bandung. Astaga, kami tidur malam itu di ruangan yang bau kotoran ayamnya masih menyengat hidung. Aku tidak tahu persis kalau itu kampus yang dimaksud. Maklum, kami tiba pada malam hari. Besoknya, betapa kagetnya diriku, kami ternyata berada di desa yang terpencil. Sepanjang mata memandang hanya ada gunung dan hutan. Astaga, aku baru sadar, keinginanku untuk melihat kampus yang mewah sirna. Aku tidak bisa pulang karena kemana aku harus pergi, akupun bingung.
Proses perkuliahan berjalan dan aku sadar bahwa ada banyak masukan dan ilmu yang kudapat dari para pengajar. Tetapi banyak keganjilan dalam hal manajemen membuatku bertanya-tanya tentang kejelasan masa depanku menjadi pendeta GMIT. Mungkinkah aku akan menjadi pendeta di GMIT? aH.. aku berusaha menjauhkan pikiran itu. Tapi kembali aku dihantui karena setiap alumni diminta hanya untuk melayani sebagai penginjil dan bahkan melayani di panti rehabilitasi. Aku semakin sadar bahwa keinginanku menjadi pendeta GMIT akan tidak tercapai.
Di tengah kebingunganku itu, STT Doulos kemudian diminta untuk tutup. Beritanya aku baca sendiri keluar di Koran Pikiran Rakyat. Aku kemudian semakin kuatir dengan masa depanku. Dari Bandung, kami dipindahkan ke Jakarta dan dari Jakarta, kami akan dipindah lagi. Aku memutuskan untuk pindah ke STII Jogja walaupun saat aku pamit, aku tidak direstui, bahkan nyaris dipermalukan. Tapi aku bersyukur pada Tuhan aku dapat pembekalan dan mengenal Yesus di sana. Aku kemudian hengkang ke STII Jogja yang membentukku sampai menjadi yang sekarang, walaupun belum tidak menjadi pendeta, aku enjoy melayani sukarela di GMIT. Demi pekerjaan dan kecintaanku pada Tuhan

PAPA . .


(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama saya pada 29 September 2008).Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.

Ayahku seorang Petani. Papa Oktovianus Tanesib. Petani, di daerah lain mugkin bisa diandalkan. Tapi di Timor? Petani jauh dari bayangan. Papaku lahir dari sebuah keluarga Besar. Papaku anak pertama, disusul papa Yunus Tanesib, Tante Ully, Tante Koba, Tante Yanse, Bapak Yulius, Tanta Sin dan yang terakhir hampir seumuran aku namanya Nitanel. Sebagai anak pertama dalam keluarga, papaku harus berpikir tentang adik-adiknya. Tapi puji Tuhan, semua adiknya sampai sekarang “Takut Tuhan.”
Walaupun kondisi ekonomi keluarga kami sangat minim, satu hal yang menarik dari papaku, sejak muda, dia sudah melayani Tuhan. Awalnya dia hanya menjadi syamas, kemudian menjadi penatua,dan kemudian menjadi Penanggungjawab gereja. Tugas ini cukup berat. Maklum pendetanya hanya satu orang, sedangkan gerejanya ada sembilan dengan jumlah jemaat masing-masing gereja, ratusan bahkan ribuan. Papaku 18 tahun melayani Tuhan sebagai pelayan syamas, penatua bahkan Penanggungjawab.
Mungkin gara-gara itu, kami mulai di ajar sejak kecil untuk tertib secara rohani. Aku ingat, kamidibiasakan untuk bangun jam 5 pagi, duduk bersama-sama kemudian berdoa sebelum kami melakukan pekerjaan. Desa kami, Ajaobaki adalah satu desa di Kapan, kecamatan Mllo Utara yang sangat dingin. Bangun di jam itu sama dengan menyiksa diri. Tapi disiplin ini mengarahkan kami dan akhirnya kami juga belajar takut akan Tuhan. Walaupun sampe sekarang masih juga terus belajar. Tapi bagi aku, apaku adalah fondasi iman dan panggilanku sebagai pelayan Tuhan.
Aku ingat, papaku sungguh-sungguh berjuang untuk kami. Semasa kecil aku ingat, papaku berdagang buah-bahan dan hasil bumi. Hasil bumi yang dijualnya adalah ketumbar, bawang putih, dan buah unggulan Kapan, Apel. Dulu seingatku, buah Apel adalah produk di kapan. Sayang, sekrang sudah musnah… tanpa bekas bahkan. Dengan hasil berdagang, kami dibelikan pakaian ala kadarnya untuk bersekolah di SD. Menghidupi kami dengan sarapan bubur setiap pagi sebelum ke sekolah, dan biaya lain. Yang sangat membuat aku terharu, saat aku SMA, papakuyang tidak pernah mengena mengenakan celana panjang, berusaha membelikan sebuah celana panjang untuk aku. Aku malu-malu mengenakannya (maklum belum pernah bercelana panjang). Tapi astagaaaa… celana itu kebesaran dan kedodoran karena dibeli tanpa ukuran. Tapi syukurlah. Aku semakin sadar. Walaupun papaku seorang petani, ia menginginkan kami untuk menjadi lebih baik darinya. Aku ingat dulu papaku pernah berkata, kendatipun aku tidak pernah belajar Alkitab, anakku harus mengerti tentang Alkitab dengan belajar. Terimakasih Papa.
Sekarang aku belum bisa berbuat sesuatu untuk papaku. Tapi aku akan terus membuat dia tersenyum dan bangga punya anak seperti aku.

DAPATKAH ORANG PERCAYA BUNUH DIRI?


(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama saya pada 2 Oktober 2008).Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.
Pertanyaan pada judul di atas menjadi sebuah pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Paling tidak selama studi di Jogjakarta. Paling tidak, pertanyaan ini muncul karena saya pernah tinggal dan mengabdi di satu daerah yang angka bunuh dirinya dibilang tinggi setiap tahunnya. Gunung Kidul. Di kabupaten yang terletak di selatan Jogjakarta itu, saya membantu melayani segelintir jemaat Kristen. Tepatnya di Dukuh Belang, Desa Terbah, Kecamatan Patuk. Syukurlah, di jemaat ini tidak pernah ada kasus bunuh diri. Tapi saya bertanya, dapatkah seorang percaya bunuh diri? Jawaban atas pertanyaan ini sedikit terungkap saat saya membaca buku karya Charles Caldwell Ryrie berjudul “You Mean the Bible Teaches That.” Ryrie mengatakan:
Dapatkah orang percaya bunuh diri? Tentu saja ia dapat melakukannya, tak pelak lagi orang percaya melakukannya. Tapi beberapa orang mungkin berkata apakah anda yakin bahwa mereka yang bunuh diri adalah sungguh-sungguh orang percaya? Beberapa orang yakin bahwa orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya tidak dapat melakukan bunuh diri, tetapi tidak ada fakta Alkitab yang mengklaim demikian. Beberapa orang yang mempertahankan bahwa seseorang dapat kehilangan keselamatannya berpendapat bahwa jika seorang Kristen mencabut nyawanya sendiri, ia kehilangan keselamatan dan tujuannya adalah lautan api. Bahwasannya orang yang sunggu-sungguh percaya tidak dapat melakukan bunuh diri nampaknya membuka sebuah pertanyaan serius namun hal ini dilakukan banyak orang. Lebih dahulu kita harus memahami bahwa pengalaman bukanlah sebuah tuntunan yang selalu aman. Karena kita tidak bisa memberikan sebuah penghakiman yang pasti tentang orang yang tidak percaya yang bunuh diri.
Adakah contoh-contoh di dalam Alkitab tentang orang percaya yag melakukan bunuh diri? Ryrie memberikan jawaban dengan mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada dalam Perjanjian Baru. Anggapan ini adalah didasarkan pada pendapat bahwa Yudas bukanlah orang percaya. Tetapi di dalam Perjanjian Lama, ada cerita tentang bunuh diri yang dilakukan oleh Raja Saul dengan menggunakan pedangnya sendiri. Apakah Saul adalah orang percaya atau tidak, masih merupakan sebuah perdebatan. Beberapa orang mengambil pernyataan Samuel dalam 1 Samuel 28:19 yang mengatakan bahwa Saul segera bersama dengan anak-anakNya sebagai pernyataan bahwa Saul masuk surga bersama-sama dengan Samuel. Yang lain memahami bahwa pernyataan ini semata-mata bahwa Saul akan segera mati dan pergi ke Sheol yang adalah tempat orang-orang jahat yang sudah mati. Jadi pernyataannya berarti ganda dan kita tidak bisa menyimpulkan bukti bahwa Saul adalah orang percaya yang bunuh diri.
Meskipun demikian, kita mengetahui bahwa orang-orang percaya tidak akan kehilangan keselamatannya karena jenis dosa tertentu. Tidak dapat disangkal bahwa bunuh diri adalah sebuah dosa (karena seseorang membunuh diri sendiri). Tetapi perzinahan dan membunuh orang lain adalah juga dosa yang sama besarnya dengan membunuh diri sendiri. Kita tahu bahwa raja Daud yang melakukan kedua dosa tadi yaitu perzinahan dan membunuh orang lain, tidak akan kehilangan keselamatannya hanya karena ia melakukan dua hal itu (Roma 4:7-8). Darah Yesus Kristus membersihkan kita dari seluruh dosa kita, termasuk bunuh diri.
Setelah membaca tulisan Ryrie, kesimpulannya kembali pada masing masing orang. Dapatkah orang percaya bunuh diri? Menurut aku, mungkin ya. Tapi masuk sorga dan masuk nerakanya orang yang bunuh diri bukanlah sebuah kepastian. Namun seharusnya satu hal yang tegas, Bunuh diri bukan sesuatu yang diizinkan oeh kekristenan.
Pertanyaannya masih menggantung? Komentari…..

AHLI KEPEMIMPINAN DAN KOMUNIKASI



(Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya posting di blog lama saya pada 23 Oktober 2008).Sebelum blog itu saya hapus, tulisan itu saya pindah ke sini.

Salah satu aktivitas harian yang saya lakukan adalah ‘announcing’ pada radio Suara Kupang. Untuk kegiatan ini, saya membutuhkan stamina yang ekstra. Maklum, saya harus tidur lebih malam dari biasanya dan bangun lebih subuh. Setiap harinya kecuali hari week-end, saya baru akan bisa tidur jam 00.00. Ini karena program yang saya asuh adalah “Worship Line,” sebuah program doa online setiap malam di Radio. Program lain yang saya asuh adalah “Sambut Pagi,” yang dimulai jam 05.00. Artinya saya hanya tidur beberapa jam saja. Sebenarnya berat juga bagi fisik saya tapi syukurlah ada keceriaan yang saya peroleh setiap hari bersama dengan orang-orang yang saya temui dan menemui saya via telfon ke radio.

Dalam program yang aku asuh, ada satu sesi yang menjadi konsumsiku setiap hari yaitu paket renungan “bermimpi satu menit.” Program ini dihantarkan oleh Prof. Samuel Tirtamihardja. Radio kami mendapatnya dari kerjasama dengan YASKI. Dalam program ini, ada tips-tips yang diberian untuk dapat lebih efektif dalam hidup setiap hari. Prof. Samuel disebut punya keahlian dalam kepemimpinan dan komunikasi. Pagi ini Jumat 24 Oktober 2008 saat aku memutar program ini kepada pendengar, pikiran saya dibawa kepada kata-kata “kepemimpinan dan komunikasi.” Kedua kata ini membuat saya merenung. Sambil tetap memonitor jalannya lagu-lagu yang saya putarkan di raduga sebelum DJ Talk, saya berpikir, betapa bahagianya karyawan atau bawahan yang pimpinannya mampu berkomunikasi dengan baik kepada mereka. Pikiran ini muncul karena beberapa hari terakhir ini bahkan bulan dan tahun-tahun terakhir, pimpinan kami di tempat kerja lain (bukan radio) tidak punya komunikasi yang baik dengan kami karyawan di sana. Kehausan akan komunikasi yang normal, ramah dan bersahabat juga solutif seolah-olah memenuhi jiwa saya. Seandainya saja beliau mengerti tentang cara yang baik seperti Prof Samuel yang disebut ahli kepemimpinan dan komunikasi. Tapi bagaimanapun, kepemimpinan yang tidak disertai komunikasi yang bertatakrama akan menyebabkan banyak protes dan bahkan ketidaknyamanan.

Seorang pemimpin hanya akan menjadi pemimpin jika ada orang yang dipimpinnya. Karena dia berada di tengah orang lain maka ia harus membuka mulutnya, mengeluarkan suara dari sana dan berbicara dengan orang lain. Tapi dalam mengeluarkan suara, tatakrama dan aturan harus diketahuinya. Seorang pemimpin akan dianggap otoriter jika pada saat salah saja ia menegur dengan keras dan itupun dilakukan di hadapan orang lain. Dia tidk pernah memanggil dan mengkomunikasikan sesuatu secara intern sebelum publikasi. Ini membahayakan. Komunikasi ini juga dalam hal-hal biasa. Contoh sederhana, kalau ada tamu yang ingin mngantarkan sesuatu, saat tamu mengetuk pintu, bukakan pintu dan suruhlah masuk baru menanyakan apa maksudnya. Bukan berteriak dari dalam sementara tamunya di luar dan menyuruh meletakan benda yang diantar di depan pintu.

Tapi Kristus adalah kepala segala pimpinan. Dia tahu apa yang bisa dibuat.

JAMPI STRES



Jujur, beberapa hari ini saya sedang mengalami stress.Bagaimana tidak, sejumlah pekerjaan yang menumpuk, ditambah lagi dengan empat matakuliah yang harus saya asuh, ditambah lagi dengan hubungan dengan beberapa teman kerja yang kurang baik. Sungguh-sungguh membuat saya lelah memikirkannya.Apalagi, pemikiran tentang natal yang semakin mendekat, sementara persiapan untuk sekedar pulang kampung dan uang makan adik-adik yang kuliah di Jawa semakin memperburuk keadaan ini.

Ini bukan kali pertama rasa stress saya alami. Semasa kuliah di Jogja dulu, kondisi ini sering saya alami. Kalau bukan karena kiriman uang yang telat, pasti karena tugas-tugas kuliah yang harus saya kerjakan atau masalah pelayanan. Tapi saya selalu punya kiat sendiri untuk menghilangkan stress. Maklum, kami di asrama dan ada banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satu hal yang saya biasa lakukan ialah dengan bersepeda "onthel" keliling-keliling. Atau keluar pada malam hari dan "jagingan" dengan teman-teman di warung kucing atau lesehan khas Jogja.

Lha itu kalau di Jogja. Ini di Kupang. Bagaimana jampi stress? Tanggal 5 Desember 2008 setelah pulang kuliah, beberapa mahasiswa sedang berdiri di depan ruangan. Saya mendekati mereka dan bercanda, dan salah satu hal yang kami bicarakan adalah apa kiat mengatasi stress. Ibu Rina Foeh, seorang mahasiswa yang mengambil matakuliah di kelas saya menyebut, kalau stress, hal yang sering dilakukannya adalah pergi dari rumah tanpa pamit kepada suami dan meninggalkan anak-anak. Ya sekedar jalan dan setelah itu pulang dengan kesegaran baru. Nampaknya itu juga obat jampi stress saya di Kupang. Beberapa hari lalu saya berjalan kaki sendirian di Jalan Palapa Kupang sore hari, tanpa teman. Setelah lama berjalan, saya rasa stress saya akhirnya hilang.
Okeszone pernah menuliskan pada Jumat,2 Juni 2006: Stres sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan dan biasanya terjadi karena aktivitas sehari-hari, entah itu karena pekerjaan, hubungan dengan kekasih atau masalah pribadi yang membuat Anda terpuruk. Untuk meminimalkan hal tersebut dan mengembalikan senyum di wajah Anda, berikut beberapa cara agar Anda dapat mengatasi dengan sumber stres Anda setiap harinya.

* Kurangi sumber stres. Sebagai contoh, jika berada dalam kerumunan sangat mengganggu Anda, pergilah ke supermarket di mana Anda tahu pasti antriannya tak akan terlalu panjang. Cobalah menyewa video atau DVD daripada menonton di bioskop yang penuh orang. Bereskan hunian Anda dengan memberikan atau menyingkirkan barang-barang yang sudha tak berguna, atau bisa jadi Anda membuka garage sale merupakan salah satu cara terbaik untuk ini.

* Jika Anda selalu terlambat, coba pikirkan bagaimana Anda membagi waktu. Dimulai dengan berangkat kerja, katakan saja butuh 40 menit untuk sampai ke kantor, sudahkah Anda berangkat tepat waktu? Anda dapat menyelesaikan masalah dan mengurangi tingkat stres dengan hanya menjadi lebih realistis. Jika Anda selalu tidak punya cukup waktu untuk seluruh aktifitas penting, mungkin ini sudah suatu pertanda kalau Anda mencoba melakukan terlalu banyak. Sekali lagi, coba buat daftar apa yang Anda lakukan seharian dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan. Kemudian coba sederhanakan.

* Hindari kemungkinan terjadinya stres yang masih bisa Anda prediksikan sebelumnya. Jika olahraga atau permainan tertentu bisa membuat Anda tegang (entah itu tenis atau bridge), tolak ajakan untuk bermain itu. Kesimpulannya, inti dari segala aktivitas haruslah menyenangkan. Jika Anda yakin itu tidak seperti itu, tidak ada alasan untuk ikut melakukannya.

* Jika stres terus tak bisa disingkirkan maka singkirkanlah diri Anda. Menghilanglah sebentar untuk waktu menyendiri. Momen yang tenang ini akan memberikan suatu perspektif baru untuk mengatasi masalah. Jauhi orang-orang yang berpotensi menimbulkan stres. Sebagai contoh, jika Anda tidak cocok dengan mertua, tetapi tidak ingin menjadikannya itu menjadi suatu masalah, undanglah ipar-ipar yang lain di waktu yang bersamaan, kamu mengundangnya. Adanya orang lain di sekitar Anda akan meredam beberapa tekanan yang akan Anda rasakan.

* Bersaing dengan orang lain, entah itu dalam keberhasilan, penampilan atau kekuasaan merupakan sumber stres yang tidak dapat dihindari. Anda mungkin tahu orang seringkali melakukan apa saja yang bisa menimbulkan keirian. Solusinya sebenarnya sangat sederhana, cobalah puas dengan apa yang Anda punya. Stres akibat keirian semacam ini hanya akan merugikan diri sendiri.

* Perangkat kerja seperti handphone atau jaringan komputer, seringkali membuat kita terlalu menjejalkan banyak aktivitas dalam setiap harinya. Sebelum membeli peralatan baru, pastikan itu sungguh-sungguh akan mengembangkan hidup Anda. Berhati-hatilah, karena merawat dan menyervis suatu peralatan dapat menjadi satu faktor pemicu timbulnya stres.

* Lakukan hanya satu macam pekerjaan saja dalam satu waktu. Sebagai contoh, ketika berlatih di sepeda statis, Anda tidak perlu untuk mendengarkan radio atau melihat TV.

* Ingatlah, terkadang tidak ada salahnya jika tidak melakukan apa-apa.

* Jika Anda mengalami insomnia, sakit kepala, demam yang tidak sembuh-sembuh atau gangguan perut, coba lihat apakah stres yang menjadi masalahnya. Terus menerus marah, frustasi atau gelisah akan menurunkan daya tahan fisik kita.

* Jika stres Anda menjadi semakin parah, carilah bantuan para ahli atau terapis. Tanda awal dari stres yang parah yaitu mulai hilangnya akal sehat dan keengganan bangun di pagi hari untuk menghadapi hari yang baru.

Benar juga kata okezone tadi. Mungkin karenannya insomnia saya kambuh lagi. Dan fisik saya sedikit terganggu. Tapi semoga stress ini segera pergi. Jika datangpun sudah ada penangkalnya. Jalan kaki.[MT]

Jumat, 05 Desember 2008

PERJALANAN PANJANG



Hidup hari ini betul-betul adalah anugerah. Anugerah oleh karena jalan-jalan hidup ini sudah dilalu hari ini. Tetapi hari ini sebenarnya adalah satu hari di atas hari-hari lainnya. Banyak jalan setapak yang pernah saya lalui. Banyak jalan berliku yang pernah saya lalui. Banyak jalan menurun bahkan menanjak yang mengeluarkan tenaga untuk bisa ditapaki.Demikianlah kehidupan rohani kita dalam mengarungi perjalanan panjang di dunia. Setiap saat ada berbagai pilihan yang seakan-akan lurus, tapi bisa membuat kita tersesat atau bahkan berujung pada maut. Ada banyak ajaran yang seolah-olah terlihat benar, tapi sebenarnya menyesatkan. Salah satu aliran baru menyatakan kita akan mendapatkan hasil sejauh perbuatan kita. Ini seolah-olah terlihat benar, tapi keyakinan itu bertumpu pada pernyataan bahwa manusia-lah pusat dari segala sesuatu, bukan Tuhan.

Sepanjang-panjangnya jalan yang saya lalui, saya selalu sadar bahwa di hadapan saya terbentang panjang jalan lain yang harus dilalui. Jadi berjalan di jalan-jalan yang kemarin adalah pengalaman untuk melihat kenyataan bahwa jalan masih panjang. Jika pemilik jalan itu masih mengizinkan saya untuk berjalan di jalan panjang itu, maka saya sadar jalan itu masih panjang. Mungkin ada belokan di depan. Namun Tuhan, kuatkan saya di jalan-Mu.

Seringkali saya berdiri, memandang ke depan. Ughh..Betapa jauhnya jalan itu. Di depanku terlihat jelas sebuah lubang kecil di jalan. Tapi lubang-lubang lain sepanjang jalanan ini tidak saya kenali dengan pasti. Kuatkan saya untuk menelusuri jalan ini dengan menghindari lubang berbahaya di perjalananku.[MT]

KURSI KOSONG


Foto di atas diambil di depan tempat saya mengabdikan diri saya. Tempatnya memang masih sangat sederhana karena masih merupakan rintisan sekolah para pelayan Tuhan di Kupang. Saya adalah yang duduk di urutan kedua dari samping kiri. Semua kami yang duduk adalah pengajar di tempat saya mengabdi, STII Kupang. Namun keunikan terjadi. Di tengah-tengah kami, ada satu kursi kosong. Pertanda apakah ini?

Saat melihat foto ini beberapa waktu lalu, teman-teman saya memiliki komentar tersendiri. Ada yang mengatakan bahwa ini ada pertanda kurang harmonis di antara kami yang duduk. Tapi bagi saya, foto ini bukan pertanda buruk. Hanya saja kebetulan saat itu pak Esra Soru yang seharusnya duduk di kursi itu sedang mengambil gambar. Itulah satu-satunya alasan yang masuk akal. Karena itu tidak ada alasan untuk menganggapnya sebagai suatu pertanda kurang baik di antara kami para pengajar. Seorang teman saya yang duduk di depan, sekarang telah menjadi pendeta di Sumba. Dialah Pdt. Yahya Keo,S.Th (orang ketiga yang duduk dari kiri).

Sebenarnya, apa makna "kursi kosong" selama ini?

Kompas 21 Juli 2006 menulis tentang kursi Kosong dalam kaitannya dengan pendidikan: "Ada banyak spekulasi tentang banyaknya kursi kosong pada seleksi PSB 2006 Surabaya. Ada yang menyatakan bahwa banyak calon murid yang tidak mendaftar ulang karena tidak punya uang, jarak sekolah terlalu jauh, mutu sekolah tidak lebih baik dari sekolah swasta, dan masih banyak lagi alasan."

Okezone,31 Maret 2008 menyebut: "Kursi kosong Wakil Ketua DPR yang ditinggalkan Zaenal Ma'arif ternyata sangat sulit diisi. Pasalnya sampai sekarang kursi tersebut masih kosong melompong.Menurut Ketua DPR Agung Laksono saat ini ada tiga formula pengisian yang masih diperdebatkan."

Jadi dari dua hal ini, paling tidak kursi kosong berarti ada usaha untuk meraihnya. Apa arti kursi kosong kami di foto ini? Ah... Lupakan saja.[MT]